SOLO, MENARA62 COM – Laporan keberlanjutan perusahaan kerap berhenti pada angka dan dokumen. Persoalannya, seberapa jauh data tersebut benar-benar menggambarkan kondisi lingkungan di lapangan?
Pertanyaan itu mendorong mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id mengembangkan EnviroChain, inovasi berbasis Internet of Things (IoT) dan blockchain yang dirancang untuk memperkuat pemantauan lingkungan sekaligus mendukung penerapan green accounting.
Inovasi bertajuk “EnviroChain: Optimizing Blockchain and IoT-Based Green Accounting Records in Sensitive Industrial Sectors in Indonesia” tersebut berhasil meraih Silver Medal dalam 8th World Invention Competition and Exhibition (WICE) 2026 di SEGi University, Malaysia.
Kompetisi internasional itu digelar melalui rangkaian kegiatan daring dan luring. Tahap luring berlangsung pada 20–24 September 2026.
Ketua Tim EnviroChain, Heilin Alber Siva Haryoko, mengatakan gagasan tersebut berangkat dari kesenjangan antara kebijakan keberlanjutan perusahaan dan praktik lingkungan dalam operasional industri.
Menurut dia, perusahaan tidak cukup hanya memiliki laporan keberlanjutan. Dibutuhkan sistem yang mampu memastikan data lingkungan berasal dari kondisi aktual, dapat dipantau secara berkelanjutan, serta memiliki rekam pencatatan yang transparan.
“Ide pengembangan EnviroChain berawal dari persoalan adanya kesenjangan antara kebijakan formal perusahaan dengan praktik operasional di lapangan. Kami melihat bahwa perusahaan tidak hanya membutuhkan laporan keberlanjutan, tetapi juga sistem yang dapat membantu memastikan data lingkungan berasal dari kondisi aktual dan dapat dipantau secara berkelanjutan,” ujar Heilin, Jumat (2/10/2026).
Pantau Kondisi Lingkungan Secara Real-Time
EnviroChain dirancang sebagai platform pelaporan lingkungan terdesentralisasi yang mengintegrasikan sensor IoT dengan teknologi blockchain.
Melalui sensor IoT, platform tersebut dapat memantau sejumlah parameter lingkungan, antara lain emisi karbon dioksida (CO₂), NOx, SO₂, partikulat, pH air limbah, suhu, hingga kandungan logam berat.
Data yang diperoleh dari sensor selanjutnya dikirimkan ke server untuk diproses dan dicatat dalam sistem.
Untuk memperkuat transparansi serta integritas pencatatan, EnviroChain menggunakan permissioned blockchain Hyperledger Fabric dengan mekanisme cryptographic hash.
Data yang masuk harus melalui proses validasi sebelum dicatat dalam distributed ledger. Dengan mekanisme tersebut, riwayat pencatatan dirancang agar lebih sulit diubah atau dimanipulasi.
Tak berhenti pada pencatatan data, EnviroChain juga dilengkapi Real-Time Environmental Dashboard. Fitur ini menyajikan hasil pemantauan sensor melalui grafik interaktif sehingga kondisi lingkungan dapat dipantau secara lebih mudah.
Ada pula fitur AI Consultant yang dirancang untuk membaca tren emisi dan konsumsi energi. Sistem tersebut dapat memberikan rekomendasi terkait efisiensi energi, optimalisasi proses operasional, hingga strategi pengurangan emisi.
Hubungkan Data Lingkungan dengan Laporan ESG
Dari sisi pelaporan, EnviroChain menghadirkan Green Leaderboard untuk menampilkan kinerja lingkungan perusahaan berdasarkan data yang telah tervalidasi.
Sementara itu, fitur ESG Reporter membantu mengolah data menjadi laporan keberlanjutan yang mengacu pada standar Global Reporting Initiative (GRI) dan POJK 51/2017.
Melalui platform tersebut, aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) diintegrasikan melalui pemantauan kondisi lingkungan, transparansi pencatatan data, serta akses informasi mengenai kinerja lingkungan bagi publik.
Pengembangan EnviroChain melibatkan mahasiswa dari sejumlah disiplin ilmu di UMS.
Tim tersebut terdiri atas Heilin Alber Siva Haryoko dan Fauzan Muhammad Ihsan dari Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Alhimnie Rusydie dari Teknik Informatika Fakultas Komunikasi dan Informatika, serta Muhammad Yusuf Ridho dari Teknik Industri Fakultas Teknik.
Mereka mendapat pendampingan dari dosen pembimbing Candra Kusuma Wardana, S.E., MBA.
Heilin mengatakan kolaborasi lintas disiplin menjadi salah satu kunci pengembangan EnviroChain. Masing-masing bidang memberikan perspektif berbeda untuk memastikan inovasi tersebut tidak hanya kuat dari sisi teknologi, tetapi juga relevan dengan kebutuhan industri.
“Dari Manajemen, kami melihat persoalan dari sisi green accounting, ESG, dan pelaporan lingkungan. Kemudian aspek teknologi kami kembangkan bersama teman-teman dari Teknik Informatika, sementara Teknik Industri membantu kami melihat bagaimana solusi ini dapat dikaitkan dengan proses dan kebutuhan di lingkungan industri,” jelas Heilin.
Tak Ingin Berhenti di Kompetisi
Fauzan Muhammad Ihsan mengatakan proses menuju WICE 2026 menjadi bagian penting dalam pengembangan EnviroChain.
Sebelum melakukan presentasi di hadapan dewan juri internasional, tim terlebih dahulu melalui proses seleksi hingga memperoleh Letter of Acceptance (LoA).
Dalam sesi presentasi, EnviroChain mendapat apresiasi dari dewan juri. Inovasi tersebut kemudian memperoleh Silver Medal pada sesi awarding WICE 2026.
Fauzan menegaskan, capaian tersebut bukan menjadi tujuan akhir pengembangan EnviroChain.
“Kami berharap EnviroChain tidak berhenti sebagai sebuah inovasi dalam kompetisi, tetapi dapat terus dikembangkan agar memberikan manfaat yang lebih luas,” kata Fauzan.
Menurut dia, teknologi tersebut diharapkan dapat membantu perusahaan tidak sekadar menyusun laporan kinerja lingkungan, tetapi juga menggunakan data aktual sebagai dasar untuk melakukan perbaikan dalam operasional.
“Harapannya, teknologi ini dapat membantu perusahaan tidak hanya melaporkan kinerja lingkungan, tetapi juga menggunakan data tersebut untuk melakukan perbaikan nyata dalam operasional,” pungkasnya. (*)

