SOLO, MENARA62.COM – Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) HealSpace Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id bersiap memasuki tahap implementasi terapi hortikultura berbasis teknologi Smart-Wicking bagi penyandang disabilitas di Kecamatan Sambi, Kabupaten Boyolali. Program ini dirancang untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis sekaligus mendorong kemandirian peserta melalui aktivitas bercocok tanam yang bersifat terapeutik.
Kesiapan tersebut diperoleh setelah tim menyelesaikan penguatan kemitraan serta pemetaan kebutuhan peserta melalui agenda Sapa Mitra 2. Data lapangan yang dikumpulkan menjadi dasar dalam menyusun model pendampingan yang sesuai dengan kondisi fisik, psikologis, dan lingkungan masing-masing peserta.
Ketua Tim PKM-PM HealSpace UMS, Abqory Anis Subekti, menjelaskan bahwa setiap anggota Komunitas Disabilitas Karya Manunggal memiliki kebutuhan yang berbeda sehingga program tidak dapat diterapkan dengan pendekatan yang seragam.
“Melalui kunjungan langsung, kami dapat melihat ruang aktivitas peserta secara nyata. Hal ini membantu kami menyesuaikan peletakan dan aksesibilitas media terapi hortikultura agar nyaman digunakan dan benar-benar memberikan manfaat bagi kesehatan psikologis peserta,” ujar Abqory, Senin (20/7/2026).
Menurutnya, hasil observasi lapangan menjadi acuan dalam menentukan lokasi penempatan media terapi hortikultura agar mudah dijangkau peserta dan mendukung aktivitas sehari-hari di lingkungan rumah.
Selain mempersiapkan media terapi, tim HealSpace juga melibatkan keluarga sebagai bagian penting dari proses pendampingan. Dukungan keluarga dinilai berperan besar dalam menjaga konsistensi peserta mengikuti program sekaligus memperkuat manfaat terapi dalam jangka panjang.
Program HealSpace mengintegrasikan teknologi Smart-Wicking dengan sistem vermikompos sebagai media hortikultura terapeutik. Pendekatan tersebut dirancang agar penyandang disabilitas mental maupun fisik dapat mengikuti kegiatan yang sederhana, produktif, dan memberikan dampak positif terhadap kesehatan psikologis.
Dosen pembimbing PKM-PM HealSpace UMS, Siti Azizah Susilawati, S.Si., M.P., Ph.D., menegaskan bahwa keberhasilan program pengabdian tidak hanya ditentukan oleh inovasi teknologi, tetapi juga oleh kolaborasi yang kuat antara mahasiswa, komunitas, peserta, dan keluarga.
Menurutnya, keterlibatan keluarga dan pengurus komunitas menjadi faktor penting untuk memastikan program berjalan secara berkelanjutan.
“Pendampingan dari lingkungan terdekat diharapkan mampu membantu peserta membangun rasa percaya diri, menjaga stabilitas mental, dan meningkatkan kemandirian dalam menjalankan aktivitas sehari-hari,” jelasnya.
Sebagai dasar pelaksanaan program, Tim HealSpace UMS sebelumnya telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Komunitas Disabilitas Karya Manunggal dalam kegiatan Sapa Mitra 2 di Kecamatan Sambi, Boyolali, pada 1 Juni 2026.
Usai penandatanganan kerja sama, tim melakukan kunjungan dari rumah ke rumah untuk memetakan kondisi fisik, psikologis, lingkungan tempat tinggal, serta kebutuhan pendampingan setiap peserta. Pendekatan tersebut juga menjadi ruang dialog bersama keluarga guna menyusun model terapi yang lebih tepat sasaran.
Melalui tahap implementasi ini, Tim PKM-PM HealSpace UMS berharap terapi hortikultura berbasis Smart-Wicking dan vermikompos mampu membantu anggota Komunitas Disabilitas Karya Manunggal menjalani aktivitas yang lebih produktif, meningkatkan kesejahteraan psikologis, serta mewujudkan kemandirian secara berkelanjutan. (*)

