PURWOKERTO, MENARA62.COM – Sekolah Muhammadiyah didorong tidak hanya aktif mempromosikan kegiatan melalui media sosial, tetapi juga membangun kepercayaan publik dengan menghadirkan karya jurnalistik yang berkualitas. Pesan tersebut disampaikan dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, Dr. Roni Tabroni, M.Si., saat menjadi narasumber dalam Akademi Jurnalistik Muhammadiyah (AJM) di Auditorium Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Sabtu–Ahad (18–19/7/2026).
Mengangkat tema “Branding Sekolah Muhammadiyah melalui Kehumasan di Era Digital”, kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas humas sekolah Muhammadiyah dalam mengelola informasi dan pemberitaan yang mampu membangun citra positif lembaga pendidikan.
Menurut Roni, promosi melalui media sosial saja tidak lagi cukup untuk membangun reputasi sekolah di tengah derasnya arus informasi digital. Publik, kata dia, membutuhkan informasi yang memiliki nilai berita, relevan, inspiratif, dan menunjukkan kontribusi nyata sekolah kepada masyarakat.
“Yang kita butuhkan bukan sekadar publikasi kegiatan, tetapi kemampuan mengolah peristiwa menjadi cerita yang bermakna dan menginspirasi masyarakat. Sekolah Muhammadiyah memiliki begitu banyak konten positif yang layak diketahui publik,” ujarnya.
Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu menjelaskan, Akademi Jurnalistik Muhammadiyah dirancang untuk meningkatkan kualitas sekaligus kuantitas pemberitaan sekolah Muhammadiyah.
Menurutnya, banyak inovasi, prestasi, dan program unggulan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) bidang pendidikan yang belum dikenal masyarakat karena belum dikemas menjadi informasi yang layak dipublikasikan.
Roni menegaskan, branding sekolah yang kuat lahir dari produk jurnalistik yang informatif, kredibel, akurat, dan memiliki nilai berita. Kisah tentang prestasi siswa, inovasi guru, pengabdian kepada masyarakat, hingga budaya akademik yang positif dinilai mampu membangun kepercayaan publik secara alami.
Karena itu, humas sekolah Muhammadiyah dituntut memiliki kompetensi jurnalistik yang utuh. Tidak hanya mahir mengelola media sosial, tetapi juga mampu melakukan peliputan, menggali informasi, menulis berita, memproduksi konten, hingga mendistribusikannya melalui berbagai platform digital.
“Tantangan humas sekolah saat ini bukan sekadar mengejar banyaknya unggahan atau jumlah tayangan, tetapi menghadirkan konten yang berkualitas dan berdampak bagi masyarakat,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya membangun hubungan yang baik dengan media massa. Menurutnya, media merupakan mitra strategis dalam memperkuat reputasi sekolah Muhammadiyah secara berkelanjutan, bukan sekadar saluran publikasi.
Meski demikian, Roni menilai keberhasilan fungsi kehumasan tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada petugas humas. Dukungan pimpinan sekolah sangat dibutuhkan, baik dalam penyediaan sumber daya manusia, fasilitas, maupun kebijakan yang mendukung aktivitas publikasi.
“Banyak sekolah Muhammadiyah sebenarnya memiliki program dan prestasi yang sangat baik. Sayangnya, semua itu sering tidak terdokumentasikan dan tidak dipublikasikan secara optimal karena keterbatasan SDM maupun fasilitas,” ungkapnya.
Roni berharap Majelis Dikdasmen dan Pendidikan Nonformal (PNF) Pimpinan Pusat Muhammadiyah memberikan perhatian lebih terhadap penguatan fungsi kehumasan di sekolah-sekolah Muhammadiyah.
Menurutnya, investasi pada pengembangan sumber daya manusia di bidang komunikasi dan jurnalistik merupakan bagian penting dari strategi membangun citra positif Persyarikatan Muhammadiyah di era digital.
“Bila sekolah mampu menghadirkan informasi yang berkualitas, kredibel, dan bermanfaat bagi masyarakat, maka yang terbangun bukan hanya popularitas, tetapi kepercayaan publik. Itulah fondasi utama branding sekolah Muhammadiyah di era digital,” pungkasnya. (FA)

