25 C
Jakarta

Pemikiran Politik M Amien Rais

Baca Juga:

Oleh: Iwan KC Setiawan )*

Solo banyak melahirkan tokoh Islam yang mampu menyeberangi titik batas keberanian rata-rata manusia. Di masa lalu ada Haji Misbah, santri lulusan Mekah yang berani melawan kolonialisme. Tidak dilupakan ada HOS Tjokroaminoto dengan Sarikat Islam yang lahir di Laweyan. Dari HOS Tjokroaminoto muncul kader sekelas Sukarno, Semaun dan SM Kartosuwirjo.

Puluhan tahun kemudian ada Abu Bakar Baasyir dan Abdullah Sungkar dengan pemikiran Islam skripturalis. Tentu kedua tokoh ini diuber-uber penguasa di masa Orde Baru. Menjelang reformasi muncul Moedrick Sangidoe dengan Mega Bintang. Moedrick Sangidoe, orang PPP yang membela Megawati dan PDI dengan mendirikan Mega-Bintang.

Satu lagi orang Solo dan besar di Yogyakarta yang mampu menyeberangi titik batas keberanian rata-rata manusia adalah M Amien Rais. Tampil di publik secara luas setelah lulus dari Universitas Chicago dengan menjadi Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah. Tahun 1995 menggulirkan Suksesi yang menyinggung Suharto dan di masa reformasi menjadi penarik gerbongnya.

Profile Singkat

M Amien Rais lahir di Solo 26 April 1944 dari pasangan Suhud Rais lulusan Madrasah Muallimin Muhammadiyah dan Sudalmiyah lulusan Sekolah Guru Pendirikan Guru Muhammadiyah. Ibunya pernah menjadi Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Surakarta 1942-1952. M Amin Rais menikah dengan Kusnasriyati Sri Rahayu pada 1969. Setelah lulus dari Fisipol UGM pada 1968, M Amin Rais melanjutkan kuliah S2 di Universitas Notre Dame, Indiana dan S3 di Universitas Chicago, Amerika Serikat. Di Universitas Chicago M Amin Rais menulis disertasi tentang Ikhwanul Muslimin (The Muslim Brotherhood in Egyp: Its Rise, Demise and Resurgance) di bawah bimbingan Leonar Binder. M Amien Rais dalam beberapa pengajian sering mengenang 1 tahun penelitian disertasinya di Mesir.

Gus Dur dalam Majalah Tempo menulis artikel “Tiga Pendekar dari Chicago”, tiga sosok intelektual Indonesia yang mengambil S3 di Universitas Chicago tahun 1980-1985. Ketiganya adalah M Amien Rais di ilmu Politik, Nurcholish Madjid di Filsafat Agama Islam dan Ahmad Syafii Maarif di Studi Bahasa dan Peradaban Timur Dekat. Saat ketiganya selesai S3 di Universitas Chicago, nama-nama yang disebut diatas, ditambah M Dawam Raharjo, Jalaludin Rakhmat, Adi Sasono dan Kuntowijoyo mewarnai corak pemikiran Islam Indonesia.

Sikap Awal Politik M Amien Rais.

Di pertengahan tahun 1995 terjadi “perdebatan” di Koran Jawa Pos Mei-Juni 1995 antara M.Amien Rais dan Gus Dur berkaitan dengan jalan politik umat Islam. Perdebatan ini dibukukan dengan judul Islam Demokrasi Atas Bawah: Polemik Strategi Perjuangan Umat Islam. M. Amien Rais menyampaikan umat Islam harus berjuang secara struktural, lewat kekuasaan. Umat Islam harus masuk ke politik. ICMI di masa itu, bagi M Amien Rais adalah salah satu cara berjuang lewat struktural.

Bagi M Amien Rais, Islam memiliki nilai-nilai khas yang disebut dengan “cara hidup Islami” yang diperjuangkan M Amien Rais di kampus-kampus Negeri. Dalam membangun cara hidup Islami ini dapat diperjuangkan lewat jalan politik. Jalur politik dapat melestarikan nilai-nilai Islam lewat sistem sosial yang dibangun.

Beda dengan Gus Dur yang merancang perjuangan umat Islam lewat jalur Kultural. Perjuangan dengan membangun kesadaran umat di bawah. Lewat diskusi, lewat organisasi non politik ( ornop). Gus Dur menggalang para intelektual oposisi dengan mendirikan Forum Demokrasi ( Fordem) yang menjadi tandingan ICMI.

Setelah reformasi, rezim berganti dan kedua tokoh besar ini mendirikan Partai Politik. Keduanya akhirnya mafhum bahwa perjuangan umat adalah lewat struktural, lewat atas, lewat partai. Yang menarik pula, takdir menentukan, keduanya juga kehilangan partai yang mereka dirikan.

Sikap Politik M Amien Rais Hari ini.

M Amien Rais adalah sosok yang masih percaya demokrasi adalah jalan yang terbaik dalam meraih kekuasaan. Di masa sekarang, M Amien Rais sering berada dalam barisan oposisi. Tapi M Amien Rais tidak setuju jalur parlemen jalanan untuk mendapatkan kekuasaan. Beliau tetap memandang demokrasi adalah jalan untuk meraih kekuasaan. Bagi M Amien Rais berjuang lewat jalur demokrasi ( pemilu) adalah jalan yang dipilih. Sehingga beliau mendirikan Partai Politik.

Seperti halnya para politisi generasi Masyumi, M Amien Rais memandang bahwa politik dan dakwah tidak dapat dipisahkan. Islam dan politik adalah sejalan. Jalur terbaik untuk fastabiqul khoirul adalah di politik. Sehingga slogan yang sering beliau sampaikan adalah Al-Amru bil’adli dan An-Nahya’anudzulimi, yakni menegakkan keadilan dan memberantas kezaliman dapat dilakukan secara efektif lewat tangan kekuasaan.

Kiprah M Amien Rais masih diperhitungkan, terutama di akar rumput. Opininya masih didengar dan gedoran kata-katanya masih kuat membangun kesadaran. .“Dijiwit dadi kulit, dicethot dadi otot” begitulah M Amien Rais dalam memandang kehidupan yang sering terlihat kaku, keras dan kadang membuat gregetan.

Di usia 78 tahun M. Amien Rais masih menggedor-gedor untuk menggerakkan kesadaran. Dalam sebuah pertemuan, beliau menyampaikan perihal umat Islam yang sering santai dalam memandang kekuasaan. Bagi M Amien Rais kekuasaan harus “direbut” dan pemilu adalah medan laganya.

)* Kader Muhammadiyah Nitikan.

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!