27.7 C
Jakarta

Pidato Tanwir Soroti Militansi Kokam Muhammadiyah

Baca Juga:

Oleh: Manshur Nurdin, Komandan KOKAM Jawa Tengah

YOGYAKARTA, MENARA62.COM – Pidato pembukaan Tanwir II Pemuda Muhammadiyah menghadirkan satu momen yang paling membekas di benak kader dan publik, yakni ketika Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) disebut bukan sekadar pelengkap organisasi, melainkan simbol nyata kekuatan sosial kader Muhammadiyah.

Penyebutan Kokam dalam pidato tersebut dinilai memiliki makna mendalam karena tidak disampaikan secara seremonial atau sekadar formalitas organisasi. Kokam justru dipotret sebagai representasi kedisiplinan, militansi, dan kemampuan Muhammadiyah dalam mengorganisir kekuatan rakyat berbasis pengabdian.

Sorotan publik menguat ketika pidato itu mengungkap bagaimana Apel Kokam di Solo dapat dipersiapkan hanya dalam tujuh hari, di Bandung dalam empat hari, hingga keberhasilan menghimpun puluhan ribu pasukan di Sleman di bawah terik matahari.

Pesan yang muncul pun terasa jelas: Kokam bukan sekadar barisan atribut dan seremoni, melainkan pasukan pengabdian yang lahir dari tradisi kaderisasi kuat di tubuh Muhammadiyah.

Dalam pidato tersebut, kekuatan Kokam digambarkan tumbuh dari akar sosial masyarakat. Para kader disebut terbiasa bergerak langsung di lapangan, dekat dengan umat, serta memiliki loyalitas tinggi terhadap bangsa dan persyarikatan.

Posisi Kokam pun ditegaskan bukan hanya sebagai pengamanan kegiatan organisasi, tetapi juga bagian dari kesiapsiagaan sosial Muhammadiyah dalam menjawab berbagai persoalan kemasyarakatan.

Selama ini, Kokam dikenal aktif hadir di berbagai momentum kebangsaan dan kemanusiaan. Mulai dari penanganan bencana alam, pengamanan kegiatan sosial-keagamaan, hingga membantu masyarakat dalam situasi darurat.

Menariknya, pidato tersebut tidak memuji Kokam dengan bahasa bombastis. Kekuatan narasinya justru lahir dari penggambaran sederhana namun konkret: organisasi besar hanya akan kuat jika memiliki kader yang siap bergerak kapan saja.

Pesan itu sekaligus menjadi pengingat bagi generasi muda Muhammadiyah bahwa aktivisme tidak berhenti pada wacana atau perdebatan di media sosial. Aktivisme sejati, sebagaimana tergambar dalam sosok Kokam, adalah kesiapan hadir di lapangan, bekerja dalam sunyi, serta menjaga loyalitas dan soliditas gerakan.

Bagian tentang Kokam dalam pidato Tanwir II Pemuda Muhammadiyah akhirnya menjadi salah satu titik emosional paling kuat. Ia bukan hanya membangkitkan kebanggaan kader, tetapi juga memperlihatkan kepada publik bahwa Muhammadiyah memiliki tradisi kaderisasi yang melahirkan disiplin, loyalitas, dan daya tahan gerakan.

Di balik barisan yang rapi dan komando yang tegas, Kokam dipandang lebih dari sekadar pasukan yang pandai berbaris. Mereka adalah kader-kader yang selalu siap hadir ketika umat, masyarakat, dan bangsa membutuhkan. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!