31.8 C
Jakarta

Prof. Zainuddin: Kampus Harus Cetak Desa Tematik dan Ekspor

Baca Juga:

BOJONEGORO, MENARA62.COM – Perguruan tinggi didorong mengambil peran lebih besar dalam mendorong lahirnya desa tematik dan desa ekspor sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045. Kampus dinilai tidak lagi cukup berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi harus menjadi pusat inovasi, pemberdayaan masyarakat, dan penggerak kemajuan desa.

 

Pesan tersebut disampaikan Prof. Zainuddin Maliki, Penasihat Menteri Desa, dalam Seminar Nasional bertajuk Transformasi Pendidikan Desa Berbasis Masyarakat Menuju Indonesia Emas 2045 yang diselenggarakan STITM Bojonegoro, Senin (29/6).

 

Menurut Prof. Zainuddin, konsep desa tematik merupakan model pembangunan yang menjadikan potensi unggulan desa sebagai identitas sekaligus mesin penggerak ekonomi. Sementara itu, desa ekspor menjadi langkah lanjutan agar desa tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi mampu menghasilkan produk bernilai tambah yang menembus pasar internasional.

 

Indonesia Emas 2045 hanya dapat diwujudkan apabila pembangunan sumber daya manusia di desa berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi berbasis potensi lokal. Karena itu, kampus perlu hadir secara nyata melalui riset, pendampingan, dan inovasi yang dapat melahirkan desa-desa tematik dan desa-desa ekspor,” ujar penulis buku Rekonstruksi Teori Sosial Modern tersebut.

 

Mantan Anggota DPR RI periode 2019–2024 itu mengapresiasi langkah STITM Bojonegoro yang dinilai tidak hanya berfokus pada pengembangan akademik, tetapi juga membangun kepedulian sosial dengan mendorong para pendidik dan tenaga kependidikan menjadi agen perubahan di desa.

 

Menurutnya, STITM Bojonegoro telah menunjukkan komitmen dalam membangun ekosistem pemberdayaan masyarakat desa di Kabupaten Bojonegoro, salah satu daerah penghasil minyak dan gas bumi terbesar di Indonesia.

 

“Di kota penghasil migas ini, kemajuan tidak boleh hanya diukur dari besarnya sumber daya alam yang dimiliki, tetapi juga dari kualitas sumber daya manusia dan keberdayaan masyarakat desanya,” tegas Sekretaris Eksekutif Program TEKAD, kolaborasi Kementerian Desa dengan International Fund for Agricultural Development (IFAD) tersebut.

 

Prof. Zainuddin menjelaskan, perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam membangun ekosistem pemberdayaan desa melalui riset terapan, inovasi teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, hilirisasi produk, literasi digital, hingga penguatan kemitraan dengan pemerintah dan dunia usaha.

 

“Kampus dan desa harus menjadi mitra strategis. Ketika ilmu pengetahuan bertemu dengan potensi lokal dan semangat gotong royong masyarakat, maka akan lahir desa-desa yang produktif, berdaya saing, dan mendunia,” katanya.

 

Dalam kesempatan itu, ia juga optimistis kolaborasi STITM Bojonegoro dengan para pendidik yang tergabung dalam PGRI mampu melahirkan generasi muda yang memiliki kepedulian tinggi terhadap pemberdayaan masyarakat desa.

 

Menurutnya, keberhasilan membangun desa tematik dan desa ekspor tidak hanya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

 

“Jika desa bertumbuh, Indonesia akan maju. Ketika kampus dan para pendidik berhasil menggerakkan masyarakat desa berinovasi menjadikan desa-desa tematik dan bahkan naik kelas menjadi desa ekspor dengan menembus pasar dunia, sesungguhnya di situlah kita sedang membangun fondasi Indonesia Emas dari desa,” pungkasnya. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!