PERLIS, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memperkuat komitmennya dalam internasionalisasi dan penguatan budaya hilirisasi melalui kunjungan benchmarking ke Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM), Rabu (8/7/2026). Kunjungan ini menjadi langkah strategis untuk mempererat kolaborasi akademik, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta memperluas jejaring riset dan pendidikan tinggi di tingkat internasional.
Delegasi UMS dipimpin Wakil Rektor IV, Prof. Dr. dr. Em Sutrisna, mewakili Rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno. Turut mendampingi Kepala Sekretariat Universitas UMS Andy Dwi Bayu Bawono, Ph.D., bersama jajaran tim. Kehadiran rombongan disambut langsung oleh Board of Governors UMAM yang dipimpin Prof. Datuk Dr. Mohd Noh Bin Dalimin beserta pimpinan universitas.
“Kami melihat progres UMAM sangat bagus,” ujar Prof. Em Sutrisna saat tiba di Malaysia.
Dalam sambutannya, Prof. Datuk Dr. Mohd Noh Bin Dalimin mengapresiasi kunjungan UMS yang dinilai semakin memperkuat hubungan antarlembaga pendidikan tinggi Muhammadiyah. Ia menegaskan bahwa UMS memiliki peran penting dalam sejarah berdirinya UMAM.
Menurutnya, sejak tahap perintisan, UMS menjadi salah satu founding institution yang memberikan kontribusi nyata melalui penguatan jejaring akademik, dukungan pemikiran, dan kolaborasi antarkampus Muhammadiyah hingga UMAM berkembang menjadi perguruan tinggi bertaraf internasional.
Perkuat Pengembangan Dosen
Dalam pertemuan tersebut, Prof. Em Sutrisna menegaskan komitmen UMS untuk memperluas kerja sama, khususnya dalam pengembangan dosen melalui studi lanjut.
“UMS melihat UMAM sebagai mitra strategis dalam pengembangan dosen. Kami akan mendorong dan mengirimkan dosen-dosen UMS maupun dosen dari lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah (PTMA) untuk melanjutkan studi doktoral (S3) di UMAM. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas akademik dosen sekaligus memperkuat kolaborasi riset internasional,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Sekretariat Universitas UMS Andy Dwi Bayu Bawono menjelaskan berbagai skema dukungan pembiayaan pendidikan bagi dosen Muhammadiyah yang ingin menempuh studi doktor di UMAM.
Sebagai Bendahara Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, ia menyampaikan bahwa berbagai program beasiswa terus dikembangkan guna meningkatkan jumlah dosen bergelar doktor di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah (PTMA).
Target Mahasiswa Internasional
Dalam sesi benchmarking, Prof. Dr. Rushami Zien Bin Yusoff memaparkan UMAM Strategic Transformation Plan 2021–2041 beserta roadmap lima tahun 2023–2028.
Transformasi tersebut mencakup penguatan organisasi, pengembangan program akademik, peningkatan mutu pembelajaran dan penelitian, pembangunan kampus baru, hingga perluasan jejaring global.
UMAM menargetkan jumlah mahasiswa meningkat secara bertahap hingga sekitar 700 mahasiswa dengan delapan program akademik pada akhir periode roadmap.
Strategi pemasaran difokuskan pada tiga segmen utama, yakni jaringan PTMA di Indonesia, pasar internasional di kawasan ASEAN, Timur Tengah, dan Afrika, serta kalangan profesional di Malaysia.
Selain itu, UMAM menawarkan berbagai keunggulan, seperti program Doctoral by Research, sistem pembelajaran fleksibel, supervisi internasional bersama profesor dari berbagai negara, serta biaya pendidikan yang kompetitif.
Perluas Jejaring Global
Menutup pertemuan, Prof. Datuk Dr. Mohd Noh Bin Dalimin mengungkapkan bahwa UMAM tengah memperluas kerja sama internasional dengan Kerajaan Pattani, Thailand, untuk membuka akses mahasiswa dari Thailand Selatan sekaligus menyediakan peluang beasiswa bagi calon mahasiswa berprestasi.
Kerja sama tersebut menjadi bagian dari strategi internasionalisasi UMAM dalam memperkuat posisinya sebagai pusat pendidikan tinggi Muhammadiyah di Asia Tenggara.
Kunjungan benchmarking ini diharapkan menjadi langkah konkret memperkuat sinergi antara UMS dan UMAM, tidak hanya dalam pengembangan akademik, tetapi juga membangun budaya hilirisasi riset, internasionalisasi perguruan tinggi, peningkatan kualitas dosen, serta kolaborasi penelitian yang berdampak bagi masyarakat dan dunia pendidikan. (*)
