29.6 C
Jakarta

Rembulan di Atas Bukit Pajangan (bagian ke-24 )

Baca Juga:

# Di Rumah, Tantangan Tidak Ringan.

Jadwal kepulangan santri selalu dinanti. Tidak saja oleh orang tua, wali, namun juga tidak sedikit para santri yang kangen rumah. Maklum sudah hampir setahun santri kelas satu tinggal di pondok. Memang biasa ditengok oleh orang tua, saudaranya. Namun tentu tidak seleluasa jika ada kesempatan pulang. Plong.

Dua minggu jelang lebaran, jadwal kepulangan santri itu tiba. Sejak awal Ramadhan, hari-hari itu seolah menunggu. Saat tiba, kami jemput Rohman dengan temannya yang dari Bengkulu. Dua hari kami siapkan apa yang harus kami bawa ke pondok. Seminggu sebelumnya kami sepakat apa yang harus dilakukan oleh Rohman selama di rumah. Maklum hampir sebulan liburan semester ini, membuat kami harus siapkan semacam daftar kegiatan yang dilakukan anak selama di rumah. Memang tidak persis di pondok. Minimal beberapa kegiatan baik dapat dilaksanakan di rumah dengan suka cita.

“Bagaimana kalau nanti di rumah, Rohman hanya sibuk main HP saja,” istri membuka pembicaraan dalam mobil, saat kami separo perjalanan menjemputnya pagi itu.
“Ya, tetap kita ingatkan. Di rumah tidak boleh bebas banget. Namun juga jangan terlalu dikekang. Pendeknya seperti main layang-layang,”jawabku mencoba bijak. Meski dalam hati yang paling dalam, ada juga kekhawatiran itu. Rohman kembali kepada kebiasaan lamanya. Khusuk dan tawadhu saat bermain HP.
” Intinya tetap kita berikan kesempatan main HP, tapi tidak sepanjang hari,” lanjutku, tanpa ditanya.

“Bapak yang biasanya tidak tegas kepada anak,” istri kembali menyodok dengan pertanyaan telaknya. “Alasannya terlalu sayang, kasihan dan semacamnya,” lanjutnya, tanpa memberikan kesempatan aku menjawabnya.
“Orang dia masuk di pondok saja, awalnya bapak tidak setuju kan. Jauh dengan orang tua, bagaimana makan, tidur dan mainnya,” sambungnya lagi. Nyerocos.
Aku hanya diam. Karena sejujurnya begitulah adanya. Karena alasan sayang, kadang aku sendiri cenderung permisif kepada anak. Hanya kadang-kadang saja aku kelihatan keras, namun anak lebih memaknai, aku marah. Bukan tegas. Tanpa sadar aku menggangguk sendiri.
Benar juga. sampai di rumah, setengah dilempar tas punggungnya di atas lantai kamar tengah. Langsung Rohman cari HP-ku. Tidak lama kemudian dia sudah tenggelam dalam permainan-game di HP yang selama ini sangat jarang aku sentuh.
“Ayo mandi, mas,” kata istri. Rohman hanya mendongak sebentar. Sejurus kemudian asyik lagi dengan HP-nya. “Biar seger, sudah lama gak mandi di rumah,” sambung istri.
“Sebentar buk,” jawab Rohman singkat, tanpa menghiraukan istri.
Sejurus kemudian dengan isyarat telunjuk, mengarah kepadaku. Isi isyarat agar aku mengingatkannya..(bersambung )

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!