25 C
Jakarta

Rembulan di Atas Bukit Pajangan (bagian ke-6)

Baca Juga:

Muhammadiyah dan UGM TandaTangani MOU Penanganan Covid-19

  Yogyakarta, MENARA62.COM- Muhammadiyah melalui Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) dan Universitas Gajah Mada (UGM), Kamis (15/04) menanda tangani nota kesepahaman bersama (MOU) dalam penanganan...

Bersinergi dengan MyPertamina, Tugu Insurance Bidik 1,5 Juta Pengguna MyPertamina

JAKARTA, MENARA62.COM -- Pelanggan yang menggunakan aplikasi MyPertamina sekarang tidak hanya dapat menikmati harga hemat untuk setiap pembelian bahan bakar mesin (BBM) maupun berbagai...

Legislator Anis: Pembentukan Kementerian Investasi Bukan Solusi

JAKARTA, MENARA62.COM - Pemerintah menghapus Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) dari Kabinet Indonesia Maju dan meleburnya dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Penggabungan Kemenristek...

MDMC Serahkan Puluhan Unit Huntara di Sulawesi Barat

  Mamuju, MENARA62.COM- Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) selesai melaksanakan pembangunan hunian sementara (huntara) bagi para penyintas gempa bumi di Sulawesi Barat. Huntara yang selesai...

Tidak Melulu Menghafal.

Salah satu yang menarik Rohman untuk tetap memilih, atau bersikukuh di Pondok Al-Quran di Pajangan ini ada dua. Pertama kegemarannya bermain bola dapat disalurkan dengan baik. Kedua, di pondok ini ada juga ekstra memanah. Materi yang belum diperoleh waktu sekolah di MI dulu. Maka ketika 3 bulan awal, orang tua/wali tidak boleh menengoknya, kami mencari cari agar, minimal bisa melihat hidungnya Rohman meski dari kejauhan. Dapat ide. Lihat saat Rohman main bola. Karena bermainnya di luar pondok. Tidak jauh amat. 1-2 KM arah selatan. Lumayan jika jalan kaki.

Maka pagi itu, kami kompak untuk melihat Rohman saat main bola. Dari kejauhan. Dengan naik motor, boncengan. Membawa semangat 45 kami meluncur ke arah Pajangan Bantul. Setelah sebelumnya bertanya kepada musrif-nya kalau hari itu, jadwal main bola. Setahuku jadwal ekstra adalah Jumat, Sabtu dan Ahad. Kendati tidak semuanya digunakan untuk main bola.

Ahad pagi saya bersama ibunya Rohman kesana. Benar juga, di lapangan hijau yang lumayan jembar, sudah berkumpul puluhan santri main bola. Oh, ada pelatihnya. Belakangan saya tahu ternyata pelatihnya adalah mantan pelatih klub bola Juara Divisi Utama PSSI. Tahun-nya lupa.

“Wah, keren ini,” pikir saya. Sekelas pondok pesantren yang tidak serius ke arah olah raga bola bisa mengontrak pelatih kelas nasional.
“Itu Rohman, itu..itu..lari di depan gawang bawa bola,” teriak ibunya Rohman kegirangan. “Jangan keras-keras,” bisikku. Karena mulai aku lihat orang-orang di lapangan menengoknya. Khawatir Rohman tahu. Dia malah merajuk dan rewel. Cukup lihat dari kejauhan dan lihat anaknya sehat. Sudah senang. Tidak ada 10 menit kami berada di jauh pinggir lapangan, untuk melihat gerak-gerik Rohman yang memang lincah. Gesit. Meski badannya tergolong kecil untuk ukuran seusianya.

Tidak lama berselang kami balik kanan. Pulang. Lega. Meski beberapa pertanyaan masih sering menggelayut di benak, bagaimana kalau malam dia tidak bisa tidur, makan dan mandi harus antri. Tetapi pelan-pelan perasaan itu aku tepis, dengan banyak berserah diri kepada-Nya. Jadwal dari pondok, pelajaran hafalan intens setiap Senin-Kamis. Sedangkan untuk Jum’at-Ahad digunakan untuk ekstra tambahan.

Selain sepak bola ada bulu tangkis, saya pernah lihat lapangannya cukup bagus. Cat hijau lumut layaknya lapangan di Pusat Atlit bulu tangkis dikarantina di Cipayung.  Ada panahan, lokasinya di sebelah timur pondok. Tepatnya di kebun. Karena belum mempunyai tempat sendiri. Bagi yang suka bertani, pondok menyediakan lahan untuk latihan bertani bagi anak-anak.

“Kalau tidak di lapangan, anak atau santri biasa main bola di halaman pondok pak,” terang Pimpinan Pondok, Ust. Anto. Masih muda. Tinggi semampai. Usia kelihatan jauh di bawah usiaku. Tapi gelarnya sudah Lc, MA. Tentu sudah hafidz. Sedangkan aku?

“Ya,ya. Dilatih sendiri Tadz,?” tanyaku

“Tidak, kita ada pelatih, mantan pelatih nasional, kebetulan beliau sering ngaji dengan saya. Terus saya minta bantuannya untuk melatih anak-anak pondok. Alhamdulillah mau,” terang Ust. Anto yang cukup familiar dan egaliter. Aku bisa mengatakan demikian, karena di WA grup wali santri, Ust. Anto sering nimbrung, masuk bicara. Kadang guyonan. Bercanda. Tapi kalau sedang serius, ya serius. Karena selama ini aku melihat, beberapa pondok pesantren yang pimpinannya, susah untuk disentuh. Jangankan untuk bicara, ketemu saja prosedural banget. ( bersambung..)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!

Muhammadiyah dan UGM TandaTangani MOU Penanganan Covid-19

  Yogyakarta, MENARA62.COM- Muhammadiyah melalui Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) dan Universitas Gajah Mada (UGM), Kamis (15/04) menanda tangani nota kesepahaman bersama (MOU) dalam penanganan...

Bersinergi dengan MyPertamina, Tugu Insurance Bidik 1,5 Juta Pengguna MyPertamina

JAKARTA, MENARA62.COM -- Pelanggan yang menggunakan aplikasi MyPertamina sekarang tidak hanya dapat menikmati harga hemat untuk setiap pembelian bahan bakar mesin (BBM) maupun berbagai...

Legislator Anis: Pembentukan Kementerian Investasi Bukan Solusi

JAKARTA, MENARA62.COM - Pemerintah menghapus Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) dari Kabinet Indonesia Maju dan meleburnya dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Penggabungan Kemenristek...

MDMC Serahkan Puluhan Unit Huntara di Sulawesi Barat

  Mamuju, MENARA62.COM- Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) selesai melaksanakan pembangunan hunian sementara (huntara) bagi para penyintas gempa bumi di Sulawesi Barat. Huntara yang selesai...

Sido Muncul Serahkan Bantuan Korban Banjir NTT Senilai Rp500 Juta Melalui Kemensos

JAKARTA, MENARA62.COM - PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk kembali mengirimkan bantuan untuk warga terdampak banjir bandang di Kabupaten Flores, Nusa Tenggara...

Menara62 TV