JAKARTA, MENARA62.COM – Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) Prof. Dr. Makmun Murad menegaskan bahwa pers merupakan salah satu pilar penting dalam kehidupan demokrasi. Menurutnya, kekuatan pers perlu terus didorong sebagai bagian dari upaya memperkuat dan mengembangkan demokrasi di Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Makmun Murad dalam acara Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah yang digelar Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Kamis (13/8/2026). Dalam kegiatan tersebut juga diberikan penghargaan Kartu Pers Utama atau Press Card Number One (PCNO) kepada Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Dr. H. Haedar Nashir, M.Si.
Penghargaan tersebut diserahkan oleh Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Prof. Dr. Komarudin Hidayat sebagai bentuk apresiasi tertinggi komunitas pers kepada tokoh yang dinilai memiliki dedikasi, profesionalisme, serta kontribusi terhadap dunia jurnalistik dan kebebasan pers di Indonesia.
Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang juga Ketua Majelis Pendayagunaan Wakaf (MPW) PP Muhammadiyah, Amirsyah Tambunan, menyampaikan tahniah dan apresiasi kepada Prof. Dr. H. Haedar Nashir, M.Si. atas penghargaan tersebut.
Menurut Amirsyah, penghargaan PCNO merupakan bentuk pengakuan atas dedikasi dan kontribusi Prof. Haedar Nashir dalam membangun peradaban melalui Muhammadiyah, khususnya dalam penguatan tradisi keilmuan, literasi, dan kemajuan persyarikatan.
“Tahniah kepada Prof. Haedar Nashir atas penghargaan Press Card Number One. Semoga penghargaan ini semakin memperkuat semangat beliau dalam mendorong kemajuan literasi, ilmu pengetahuan, dan kontribusi Muhammadiyah bagi bangsa dan umat,” ujar Amirsyah.
Ia berharap penghargaan tersebut tidak hanya menjadi apresiasi personal, tetapi juga momentum untuk terus memperkuat tradisi membaca, menulis, berpikir kritis, serta menyebarkan informasi yang mencerahkan dan mencerdaskan masyarakat.
Peringatan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah yang diperingati setiap 13 Agustus memiliki sejarah yang erat dengan tradisi persyarikatan. Penetapan tanggal tersebut terinspirasi dari berdirinya media pergerakan Suara Muhammadiyah.
Tradisi membaca dan menulis, kata Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah Dr. Muchlas, M.T., telah menjadi bagian penting dalam perjalanan Muhammadiyah. Karena itu, penambahan kata “literasi” dalam peringatan tersebut menegaskan pentingnya pengembangan budaya ilmu pengetahuan yang berjalan seiring dengan kerja jurnalistik.
Muchlas yang juga Rektor Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta menilai penguatan literasi menjadi bagian penting dalam menghadapi perkembangan informasi yang semakin cepat.
Sementara itu, Amirsyah mengatakan momentum Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah harus menjadi sarana memperkuat ekosistem ilmu pengetahuan dan teknologi melalui media.
“Media telah menjadi kebutuhan primer masyarakat. Karena itu, ekosistem pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui media harus terus diperkuat,” ujarnya.
Ia juga mengajak dunia akademik, khususnya perguruan tinggi Muhammadiyah, untuk berperan lebih aktif dalam memperkuat budaya literasi di lingkungan persyarikatan.
Menurut Amirsyah, literasi tidak boleh dimaknai sebatas kemampuan membaca dan menulis. Literasi juga mencakup kemampuan memahami, menganalisis, mengevaluasi, serta menggunakan informasi secara tepat untuk menghasilkan pengetahuan yang bermanfaat dan solusi bagi kehidupan masyarakat.
“Semua pihak perlu memiliki kesadaran kolektif agar literasi tidak sekadar kemampuan membaca, menulis, memahami, dan menganalisis, tetapi juga mampu menggunakan informasi secara tepat untuk memberikan informasi yang solutif,” jelasnya.
Ia menilai makna literasi saat ini cenderung mengalami reduksi sehingga pengembangan budaya literasi belum berjalan secara optimal. Karena itu, kampus memiliki peran strategis untuk memperluas cakupan literasi agar tidak hanya berkutat pada baca-tulis, tetapi juga mencakup berbagai kecakapan yang dibutuhkan dalam kehidupan modern.
Dalam konteks tersebut, Amirsyah mendorong pengembangan literasi yang berlandaskan nilai-nilai Islam wasathiyah atau moderasi beragama. Menurutnya, nilai tersebut penting untuk menjadi karakter dalam pengembangan visi dan misi MUI, baik di Indonesia maupun dalam kiprahnya di tingkat internasional.
“Penguatan literasi harus diarahkan untuk membangun masyarakat yang mampu menyaring, memahami, dan memanfaatkan informasi secara bijak dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam wasathiyah,” pungkasnya.
