SOLO, MENARA62.COM — Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah cara tenaga kesehatan mencari dan mengolah informasi. Namun, kemudahan teknologi tersebut dinilai justru membuat kemampuan clinical reasoning semakin penting bagi fisioterapis.
Hal itu mengemuka dalam orasi ilmiah pada rangkaian Sumpah Fisioterapis Angkatan X Tahun Akademik 2025/2026 Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).
Kegiatan yang diikuti 147 mahasiswa tersebut berlangsung di Edutorium K.H. Ahmad Dahlan UMS, Minggu (27/9/2026).
Orasi ilmiah disampaikan Isa Hanafi, Ftr., dengan tema “Transformasi Clinical Reasoning Fisioterapi di Era Artificial Intelligence: Dari Evidence-Based Practice Menuju Personalized Rehabilitation.”
Isa mengatakan, pengucapan sumpah bukan akhir dari perjalanan pendidikan fisioterapis. Sebaliknya, momen tersebut menjadi awal tanggung jawab profesional untuk menerapkan ilmu yang diperoleh selama pendidikan dalam menangani kondisi pasien secara nyata.
“Hari ini adalah awal dari sebuah tanggung jawab. Kita berdiri di titik di mana ilmu yang selama ini kita pelajari di ruang kelas, laboratorium, praktik klinis, mulai kita bawa dalam kehidupan manusia yang nyata,” ujarnya.
AI Mempercepat Akses Informasi
Menurut Isa, salah satu perubahan besar yang dihadapi fisioterapis saat ini adalah perkembangan AI. Teknologi memungkinkan informasi klinis diperoleh jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya.
“Dahulu, ketika kita menemukan kasus klinis yang belum kita pahami, mungkin kita membutuhkan waktu berjam-jam untuk membuka buku, mencari jurnal, membaca guideline, dan berdiskusi dengan teman sejawat. Hari ini, dengan beberapa kalimat saja, AI dapat memberikan jawaban dalam hitungan detik,” ungkapnya.
Namun, kecepatan tersebut tidak serta-merta membuat proses pengambilan keputusan klinis menjadi sederhana.
Isa menilai tantangan fisioterapis kini bukan hanya bagaimana mendapatkan informasi, tetapi juga bagaimana menilai kualitas informasi tersebut dan menentukan penggunaannya secara tepat.
“Maka, pertanyaannya bukan lagi apakah kita mampu mendapatkan informasi, tetapi apakah kita mampu menilai informasi tersebut dan menggunakannya dengan tepat. Di sinilah clinical reasoning menjadi semakin penting,” katanya.
Clinical reasoning merupakan proses berpikir fisioterapis dalam mengambil keputusan klinis, mulai dari assessment, anamnesis, pemeriksaan hingga evaluasi.
Isa mencontohkan pasien yang datang dengan keluhan nyeri pada bagian posterior lutut. Fisioterapis tidak semestinya langsung menetapkan satu diagnosis, tetapi perlu mempertimbangkan berbagai kemungkinan, seperti keterlibatan gastrocnemius, hamstring, popliteal, meniskus, hingga kemungkinan red flag.
“Seorang fisioterapis tidak berhenti pada satu kemungkinan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian kita jawab melalui pemeriksaan. Karena itu, assessment bukan sekadar daftar pemeriksaan. Assessment adalah awal dari proses kita untuk berpikir,” jelasnya.
Evidence Harus Disesuaikan dengan Pasien
Selain clinical reasoning, Isa menekankan pentingnya evidence-based practice dalam menentukan intervensi fisioterapi.
Bukti ilmiah, kata dia, memang menjadi fondasi dalam pengambilan keputusan. Namun, bukti tersebut tidak dapat diterapkan secara mekanis kepada setiap pasien.
“Ketika sebuah penelitian mengatakan bahwa suatu latihan efektif, pertanyaan kita bukan hanya, apakah latihan ini terbukti efektif? Tetapi harus melanjutkan dengan pertanyaan, apakah evidence ini relevan untuk pasien saya?” ujarnya.
Setiap pasien memiliki karakteristik berbeda, mulai dari usia, tingkat keparahan kondisi hingga tujuan hidup. Karena itu, fisioterapis perlu mengombinasikan bukti ilmiah dengan kemampuan penalaran klinis dan kondisi individual pasien.
Dalam konteks tersebut, AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu, antara lain untuk menemukan literatur, merangkum jurnal hingga menyusun alternatif program rehabilitasi.
Namun, penggunaan AI tetap membutuhkan kehati-hatian.
“AI dapat membantu kita bekerja, tetapi AI belum dapat menggantikan kita untuk berpikir,” tegas Isa.
Ia juga mengingatkan fisioterapis untuk memperhatikan aspek privasi dan kerahasiaan data, akurasi dan verifikasi informasi, tanggung jawab klinis, bias, transparansi, serta integritas akademik saat menggunakan AI.
Dari Evidence-Based ke Personalized Rehabilitation
Orasi ilmiah tersebut kemudian mengarah pada konsep personalized rehabilitation, yakni pendekatan rehabilitasi yang mempertimbangkan karakteristik dan kebutuhan individual pasien.
Isa memberikan ilustrasi dua pasien yang sama-sama menjalani ACL reconstruction. Pasien pertama merupakan atlet yang ingin kembali berkompetisi. Sementara pasien kedua ingin kembali bekerja dan menjalani aktivitas sehari-hari.
Keduanya memiliki diagnosis yang sama dan dapat menggunakan pedoman klinis yang sama. Namun, tujuan rehabilitasi mereka berbeda.
“Diagnosanya sama, guideline yang kita gunakan sama, tetapi tujuan dan kebutuhan berbeda. Evidence tetap menjadi fondasi. Namun, clinical reasoning membantu kita menentukan dosis, progres, serta bentuk intervensi yang sesuai untuk individu tersebut,” jelasnya.
Menutup orasinya, Isa mengingatkan para fisioterapis agar perkembangan teknologi tidak menghilangkan dimensi kemanusiaan dalam pelayanan kesehatan.
Menurut dia, teknologi akan terus berkembang, tetapi pasien tetap merupakan manusia yang membutuhkan pelayanan berdasarkan pemahaman terhadap kondisi, kebutuhan, serta tujuan hidupnya.
“AI dapat memberikan kemungkinan. Evidence memberikan dasar. Tetapi, clinical reasoning membantu kita menentukan pilihan,” pungkasnya. (*)


