BANDUNG, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung memperkuat komitmennya dalam mewujudkan kampus berkelanjutan melalui Sosialisasi Implementasi Kampus Hijau yang digelar Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Kamis (25/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Auditorium KH Ahmad Dahlan UM Bandung tersebut diikuti sekitar 300 mahasiswa dan dosen. Sosialisasi ini menjadi bagian dari upaya membangun budaya peduli lingkungan sekaligus mendorong penerapan ekonomi sirkular di lingkungan perguruan tinggi.
Direktur Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular KLH/BPLH Agus Rusly menyampaikan, isu lingkungan saat ini menghadapi tantangan besar berupa triple planetary crisis yang meliputi perubahan iklim, polusi, dan hilangnya keanekaragaman hayati.
Menurutnya, tiga persoalan tersebut menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan kehidupan manusia sehingga membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk dunia pendidikan.
“Indonesia termasuk negara yang rentan terhadap dampak perubahan iklim. Ancaman banjir, kekeringan, krisis air bersih dan pangan, hingga kerusakan ekosistem semakin nyata,” ujar Agus.
Ia menambahkan, persoalan sampah juga menjadi tantangan besar karena berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat, kualitas lingkungan, hingga potensi kerugian ekonomi.
Untuk itu, pemerintah terus mendorong transformasi pengelolaan sampah melalui konsep ekonomi sirkular. Pendekatan tersebut mengedepankan pengurangan penggunaan sumber daya, pemanfaatan kembali, daur ulang, serta pemulihan material agar sampah memiliki nilai ekonomi.
“Upaya ini diwujudkan melalui perubahan perilaku masyarakat, gaya hidup minim sampah, pemilahan sampah dari sumber, penguatan tanggung jawab produsen, serta pembangunan fasilitas pengolahan sampah yang terintegrasi,” jelasnya.
Agus juga menyebut pemerintah menargetkan seluruh sampah di Indonesia dapat dikelola secara optimal sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan dan mendukung pencapaian Net Zero Emission.
Kampus Jadi Motor Perubahan Lingkungan
Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto menegaskan perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membangun kesadaran dan budaya pengelolaan sampah yang bertanggung jawab.
Ia menilai pengalaman Kota Bandung yang pernah menghadapi persoalan sampah akibat keterbatasan kapasitas tempat pembuangan akhir (TPA) menjadi pelajaran penting bahwa perubahan perilaku masyarakat sangat dibutuhkan.
“Kita harus membiasakan pemilahan sampah organik dan anorganik sejak dari sumbernya,” kata Herry.
Menurutnya, pemahaman terhadap karakteristik sampah akan membuat proses pengolahan menjadi lebih mudah, efisien, dan bernilai ekonomi.
“Jika kita mampu memilah dengan baik, sampah organik dapat diolah menjadi pupuk atau media pengembangan maggot yang mendukung aktivitas ekonomi sirkular,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah M Azrul Tanjung menilai perguruan tinggi harus menjadi pusat inovasi, riset, dan teknologi sederhana dalam menjawab persoalan lingkungan.
Ia mendorong kampus untuk menghadirkan berbagai inovasi yang mampu mengurangi timbulan sampah, terutama limbah plastik yang masih menjadi persoalan besar.
Azrul juga mengajak masyarakat menerapkan kebiasaan ramah lingkungan, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, membawa tumbler, serta membiasakan memilah sampah sejak dari rumah.
“Memilih dan memilah sampah merupakan aplikasi nyata dari keimanan kita. Mari jadikan UM Bandung sebagai pelopor gerakan peduli lingkungan,” pungkasnya.
Melalui kegiatan ini, UM Bandung berharap budaya kampus hijau dapat semakin kuat dan menjadi contoh penerapan keberlanjutan lingkungan di perguruan tinggi, sekaligus mendukung terciptanya masyarakat yang lebih sadar terhadap pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular. (*)

