27.3 C
Jakarta

UMM Ungkap Peran Etnis Tionghoa Bagi Indonesia

Baca Juga:

MALANG, MENARA62.COM — Banyak anggota masyarakat yang tidak mengetahui secara jelas peran etnis Tionghoa bagi Indonesia. Sehingga hal ini membuat ada jarak antara etnis Tionghoa dan etnis lainnya di negeri ini. Padahal, peran etnis Tionghoa begitu banyak dan strategis bagi terbentuknya bangsa ini.

Didi Kwartanada, ahli sejarah Tionghoa Indonesia sekaligus Direktur Yayasan Nabil mengemukakan hal tersebut dalam seminar dan bedah buku ‘Tionghoa dalam Keindonesiaan: Peran dan Kontribusi bagi Pembangunan Bangsa’ di Convention Hall Sengkaling Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (16/5/2017) malam.

Bedah buku ini diikuti mahasiswa UMM dan sejumlah tamu undangan. Selain itu, jajaran pengurus Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Malang Raya ikut hadir dalam acara ini.

Menurut Didi, salah satu contohnya, hingga kini tidak banyak yang tahu bahwa ada empat keturunan etnis Tionghoa yang menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Ketika Indonesia akan diproklamasikan pada masa akhir pendudukan Jepang, dalam BPUPKI ada empat orang Tionghoa yang ikut membidani lahirnya UUD 1945.

“Keempat tokoh tersebut adalah Liem Koen Hian, Oey Tiang Tjoei, Oei Tjong Hauw, Mr Tan Eng Hoa. Liem Koen Hian, selain mengusulkan warga Tionghoa otomatis menjadi warga negara Indonesia setelah merdeka, dia juga tokoh yang mengusulkan kebebasan pers,” kata Didi

Sedang Mr Tan Eng Hoa, merupakan tokoh pengusul pasal mengenai kebebasan berserikat. “Ada demo, aksi masa, itu awalnya sebenarnya berasal dari sini,” lanjut jelals Didi.

Selain fakta sejarah itu, masih banyak peran etnis Tionghoa lainnya dalam pembentukan bangsa Indonesia. Didi menjelaskan, berdasarkan penelitian sejarawan Dennys Lombard, ada empat budaya besar yang memiliki pengaruh mendasar terhadap kebudayaan Nusantara. Salah satunya Tionghoa. Mereka berperan dalam penciptaan teknologi yang meningkatkan kehidupan masyarakat, khususnya bidang pertanian, bahan makanan, alat dapur, teknologi kuliner, pakaian, dan teknologi pertambangan.

Di sisi lain, Wakil Rektor I UMM Prof Dr Syamsul Arifin, MSi yang juga menjadi panelis mengapresiasi peluncuran buku setebal 1.500 halaman (3 jilid) ini. Menurutnya, pengetahuan-pengetahuan tentang etnis Tionghoa harus terus diproduksi, baik dari sisi sejarah, budaya, termasuk kontribusi orang Tionghoa bagi bangsa Indonesia.

“Betapapun suka atau tidak suka, etnis Tionghoa itu punya kontribusi. Dan pengetahuan semacan ini harus didiseminasikan, sehingga relasi kebangsaan ini akan menjadi rajutan yang bagus,” tandas Syamsul.

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!