YOGYAKARTA, MENARA62.COM — Sebanyak 142 peserta dari 61 pondok pesantren di Jawa dan Sumatra mengikuti pelatihan penggunaan Artificial Intelligence (AI) untuk efisiensi administrasi dan layanan pendidikan pesantren. Pelatihan ini untuk menjawab kebutuhan mendesak pesantren terhadap transformasi digital, khususnya dalam pengelolaan administrasi, monitoring akademik santri, dan layanan Penerimaan Santri Baru (PSB).
Pelatihan ini dilaksanakan Program Studi Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) Informatika, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia (FTI UII) Yogyakarta, Jumat (13/2/2026). Pelatihan dilaksanakan secara hybrid, bertempat di Auditorium Fakultas Teknologi Industri (FTI) UII, Jumat (13/2/2026). Peserta terdiri dari berbagai kalangan, mulai dari pengurus pesantren, ustadz dan ustadzah, musyrif dan musyrifah, hingga tenaga administrasi.
Pelatihan ini juga disiarkan secara Daring melalui kanal YouTube dan Zoom. Ada tiga nara sumber pelatihan ini yaitu Dr Nur Wijayaning, Hanson Prihantoro Putro ST, MT (Dosen Jurusan Informatika FTI UII) dan M Daffa Raihan, alumni Prodi Informatika UII.
Hanson Prihantoro Putro, menjelaskan pemanfaatan kecerdasan buatan generatif untuk monitoring dan evaluasi akademik santri. Hanson mengajarkan dan mempraktekan peserta cara menggunakan AI untuk mengolah data presensi dan nilai santri yang sebelumnya dilakukan secara manual.
Peserta diajarkan bagaimana mengubah daftar hadir tulisan tangan menjadi data digital terstruktur. Kemudian, menghitung nilai akhir dengan formula otomatis, hingga membuat analisis progres pembelajaran untuk identifikasi santri yang membutuhkan perhatian khusus. “Penggunaan AI ini terbukti mampu menghemat waktu administrasi hingga berjam-jam setiap minggunya,” kata Hanson.

Sedang M Daffa Raihan, alumni Prodi Informatika UII, memandu peserta membuat Chatbot cerdas untuk layanan Penerimaan Santri Baru (PSB). Memanfaatkan platform no-code yang terintegrasi dengan AI, para peserta dilatih membuat asisten virtual yang dapat menjawab pertanyaan calon wali santri secara otomatis 24/7.
Chatbot ini dirancang untuk menjawab pertanyaan umum seputar biaya pendaftaran, fasilitas pesantren, kurikulum, hingga jadwal kegiatan santri. Pelatihan yang bersifat full praktik ini didukung tim asisten mahasiswa yang membantu peserta secara langsung. Pendampingan ini untuk memastikan setiap pondok pesantren berhasil membuat prototipe sistem yang bisa langsung diimplementasikan.
Sementara Dr Nur Wijayaning, Ketua Program Studi Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) Informatika UII menjelaskan pelatihan ini sebagai respons akademik terhadap kesenjangan kapasitas digital di lingkungan pesantren yang semakin relevan di era transformasi teknologi. “Secara empiris, banyak pesantren masih menghadapi keterbatasan dalam pengelolaan administrasi, monitoring akademik santri, serta layanan Penerimaan Santri Baru (PSB) yang efisien dan berbasis data,” kata Nur Wijayaning.
Nur Wijayaning menambahkan pelatihan ini sebagai manifestasi PJJ Informatika UII menjalankan perannya dalam pengabdian dan hilirisasi keilmuan. PJJ Informatika UII dengan mentransfer pengetahuan dan keterampilan praktis di bidang kecerdasan buatan dan sistem digital yang aplikatif, kontekstual, serta selaras dengan kebutuhan institusi pendidikan keagamaan.
“Pendekatan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional pesantren, tetapi juga memperkuat kualitas tata kelola pendidikan dan pengambilan keputusan berbasis data secara berkelanjutan,” kata Nur Wijayaning. (*)


