30 C
Jakarta

Pengajian Ramadan UMS: Akidah Islam Berkemajuan Gerakan Peradaban

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM — Konsep akidah dalam Islam tidak hanya berhenti pada keyakinan teologis, tetapi harus melahirkan etos peradaban yang membumi dalam kehidupan sosial. Hal itu disampaikan Guru Besar Studi Islam, Zakiyuddin Baedhawy, dalam kajian bertajuk Akidah Islam Berkemajuan pada rangkaian Pengajian Ramadan 1447 H Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Jawa Tengah Regional Solo Raya di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Sabtu (7/3/2026).

Dalam pemaparannya, Zakiyuddin menegaskan bahwa akidah Islam dalam perspektif Islam Berkemajuan tidak cukup dipahami sebagai doktrin keimanan semata, tetapi harus mampu melahirkan nilai-nilai peradaban yang nyata.

“Saya memberi anak judul materi ini Dari Ortodoksi Tauhid ke Etos Peradaban. Artinya, tauhid bukan sekadar sesuatu yang kita imani, tetapi harus membumi menjadi etos peradaban dan gerakan peradaban,” ujarnya.

Pengajian sebagai Penguat Pemahaman Umat

Menurut Zakiyuddin, tradisi pengajian yang dilakukan secara berulang memiliki peran penting dalam memperkuat pemahaman keagamaan umat. Ia mencontohkan banyaknya ayat dalam Al-Qur’an yang diulang sebagai bentuk penguatan pesan.

Dalam kaidah tafsir dikenal prinsip at-tikraru lit-taqrir, yakni pengulangan yang bertujuan meneguhkan pemahaman. Melalui pengajian rutin, nilai-nilai keislaman diharapkan semakin tertanam dalam kehidupan masyarakat.

Tantangan Global dan Kontekstualisasi Akidah

Lebih lanjut, Zakiyuddin menjelaskan bahwa akidah Islam perlu terus dikontekstualisasikan dengan berbagai tantangan zaman. Ia menyebutkan setidaknya empat persoalan global yang menuntut pemaknaan ulang terhadap akidah.

Pertama, krisis makna kehidupan di tengah kemajuan peradaban modern. Ia mencontohkan pengalamannya saat berkunjung ke Jepang pada 2005, ketika biaya hidup yang tinggi membuat sebagian masyarakat enggan menikah atau membangun keluarga.

“Kadang peradaban sudah sangat maju, tetapi makna hidup justru semakin hilang,” jelasnya.

Kedua, disrupsi teknologi yang mengubah cara manusia berinteraksi. Kemajuan teknologi memang membuat kehidupan lebih cepat dan efisien, tetapi juga berpotensi mengikis kohesi sosial di masyarakat.

Ketiga, ketimpangan global dan krisis ekologi. Menurutnya, fenomena pemanasan global dan kerusakan lingkungan menjadi peringatan serius akibat eksploitasi alam yang berlebihan.

Keempat, munculnya dua kutub ekstrem dalam praktik keagamaan, yakni radikalisme agama di satu sisi dan sekularisme ekstrem di sisi lain. Kondisi ini membuat agama sering dianggap hanya sebagai urusan privat.

“Padahal jika kita ingin menjadikan tauhid sebagai etos peradaban, maka nilai-nilai agama harus hadir di ruang publik, bukan hanya menjadi urusan pribadi,” tegasnya.

Akidah sebagai Fondasi Gerakan Sosial

Zakiyuddin menegaskan bahwa akidah dalam perspektif Islam Berkemajuan bukan doktrin pasif, melainkan fondasi etis dan praksis dalam kehidupan sosial. Akidah harus melahirkan tindakan sosial, pengembangan ilmu pengetahuan, serta kemajuan peradaban manusia.

Dalam konteks Muhammadiyah, pemahaman akidah memiliki landasan normatif yang kuat, di antaranya Al-Qur’an dan Sunnah, serta berbagai dokumen organisasi seperti Mukadimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah, hingga putusan Muktamar dan Tanwir.

Ia juga menyinggung lahirnya Risalah Islam Berkemajuan yang ditetapkan dalam Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Surakarta pada 2022 sebagai panduan penting dalam memahami Islam secara progresif.

Menurutnya, akidah dalam Muhammadiyah memiliki karakter transformatif dan progresif yang berorientasi pada pembangunan masyarakat utama yang adil dan makmur.

Tauhid Melahirkan Etos Amal

Zakiyuddin mencontohkan bagaimana pendiri Muhammadiyah, Ahmad Dahlan, menanamkan etos amal melalui pengajian berulang terhadap Surah Al-Asr kepada murid-muridnya. Dari pemahaman tersebut lahir gerakan sosial yang kemudian berkembang menjadi berbagai amal usaha Muhammadiyah.

“Tauhid harus melahirkan etos amal, kesalehan sosial, dan tanggung jawab sejarah. Amal usaha yang dibangun Muhammadiyah adalah wujud nyata dari kesalehan sosial itu,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya integrasi antara iman, ilmu pengetahuan, dan tanggung jawab kemanusiaan. Perkembangan teknologi tanpa landasan moral, menurutnya, berpotensi membawa kerusakan bagi manusia dan lingkungan.

Nilai tauhid harus menjadi fondasi dalam pengembangan sains dan teknologi agar kemajuan yang dicapai benar-benar membawa kemaslahatan bagi umat manusia.

“Akidah tidak boleh dipahami secara literal semata, tetapi juga perlu berdialog dengan sains,” pungkasnya. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!