YOGYAKARTA, MENARA62.COM – Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya Prof. Maman Abdurrahman, tokoh Persatuan Islam (Persis) yang dikenal sebagai sosok pemersatu umat dan memiliki kedekatan dengan berbagai organisasi Islam di Indonesia.
Prof. Maman Abdurrahman yang pernah menjabat Ketua Umum Pimpinan Pusat Persis periode 2010–2015, wafat pada Ahad (21/6). Almarhum juga merupakan ayahanda Bendahara Umum PP Muhammadiyah, Hilman Latief.
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan bahwa Muhammadiyah merasa kehilangan atas kepergian sosok yang selama ini memiliki hubungan erat dengan gerakan dakwah Islam, termasuk Muhammadiyah.
“Beliau sangat dekat dengan kita (Muhammadiyah), baik dalam pemikiran maupun pergerakannya. Jauh sebelum Pak Hilman menjadi anggota PP Muhammadiyah, saya sering berkomunikasi, bersilaturahmi, dan berdiskusi dengan beliau,” ujar Haedar.
Menurut Haedar, wafatnya Prof. Maman menjadi kehilangan besar bagi dunia dakwah dan pembaruan Islam di Indonesia. Namun, warisan pemikiran serta semangat perjuangan almarhum harus terus dijaga dan diteruskan oleh generasi penerus.
“Persis maupun Muhammadiyah merasa kehilangan atas wafatnya tokoh besar tersebut. Semoga perjuangan beliau dalam memajukan Islam dan bangsa terus dilanjutkan,” tuturnya.
Haedar juga berpesan kepada Hilman Latief dan keluarga besar almarhum agar tetap menjaga nilai perjuangan yang telah ditanamkan Prof. Maman selama hidupnya.
“Perjuangan untuk memajukan Islam di negeri tercinta akan terus berlangsung melalui anak-anak dan keluarga yang meneruskan nilai-nilai kebaikan beliau,” ungkap Haedar.
Haedar mengenang Prof. Maman sebagai pribadi yang terbuka, luwes dalam berkomunikasi, serta mampu membangun hubungan baik dengan berbagai kelompok. Sikap tersebut menjadikannya sosok yang dihormati lintas organisasi Islam.
“Atas nama PP Muhammadiyah, kami menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya. Semoga almarhum husnul khatimah, diampuni segala khilafnya, diterima amal ibadahnya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan,” pungkas Haedar.
Wafatnya Prof. Maman Abdurrahman menjadi duka bagi keluarga besar Persis, Muhammadiyah, serta umat Islam Indonesia yang kehilangan salah satu tokoh yang berkontribusi dalam memperkuat persaudaraan dan dakwah Islam. (*)

