30.4 C
Jakarta

UM Bandung Ungkap Sampah Rumah Tangga Bisa Jadi Solusi Iklim

Baca Juga:

BANDUNG, MENARA62.COM – Persoalan sampah selama ini kerap dianggap selesai setelah diangkut dari depan rumah. Padahal, perjalanan sampah justru memasuki fase paling krusial ketika tiba di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

 

Tumpukan sampah organik yang membusuk tanpa oksigen di TPA dapat menghasilkan gas metan, salah satu gas rumah kaca yang berkontribusi besar terhadap percepatan pemanasan global dari sektor limbah.

 

“Masalah sampah tidak selesai di TPA. Justru di sanalah masalah besar dimulai,” tegas dosen Program Studi Bioteknologi sekaligus Kepala Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Luthfia Hastiani Muharam dalam webinar Hari Lingkungan Hidup Sedunia bertajuk “Tuntas Sampah dari Rumah”, Sabtu (06/06/2026).

 

Luthfia menjelaskan, sistem pengelolaan sampah yang masih banyak diterapkan saat ini, yakni kumpul, angkut, dan buang, merupakan pola linear yang tidak lagi mampu menjadi solusi jangka panjang. Dampaknya, kapasitas TPA terus menipis, sementara persoalan baru seperti bau, pencemaran air lindi, hingga risiko kesehatan masyarakat semakin meningkat.

 

Menurutnya, masyarakat perlu mengubah cara pandang terhadap sampah. Sampah tidak semestinya hanya menjadi sesuatu yang dibuang, melainkan sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali melalui sistem ekonomi sirkular.

 

“Di Jawa Barat, sekitar 70 persen sampah rumah tangga adalah organik. Bayangkan potensinya jika seluruh sampah tersebut diolah menjadi kompos, bukan berakhir di TPA,” ujar Luthfia.

 

Ia menekankan, langkah paling penting dalam pengelolaan sampah adalah pemilahan sejak dari sumbernya, terutama rumah tangga. Masyarakat dapat memisahkan sampah menjadi tiga kategori utama, yakni organik, anorganik, dan residu.

 

Sampah organik seperti sisa makanan dan limbah dapur dapat diolah menjadi kompos. Sementara sampah anorganik yang masih bernilai seperti botol plastik, kertas, dan kardus dapat dikumpulkan melalui bank sampah untuk memberikan manfaat ekonomi bagi keluarga.

 

Dalam kesempatan tersebut, Luthfia juga memperkenalkan inovasi oktagonal komposter, sebuah metode pengomposan yang dirancang praktis untuk digunakan di rumah dengan lahan terbatas.

 

Komposter ini menggunakan media alami berupa sabut kelapa dan residu pengolahan magot sebagai pengurai. Teknologi sederhana tersebut mampu mengurangi bau, mencegah pembusukan tanpa oksigen, serta mempercepat proses penguraian sampah organik menjadi kompos matang dalam waktu sekitar 2–4 minggu.

 

“Banyak orang enggan membuat kompos karena takut bau. Padahal dengan media yang tepat, persoalan itu bisa diatasi,” jelasnya.

 

Magot Bukan Musuh, Justru Membantu

 

Salah satu hal yang masih menjadi kekhawatiran masyarakat adalah keberadaan magot atau larva lalat hitam (black soldier fly) dalam proses pengolahan sampah organik.

 

Luthfia meluruskan anggapan bahwa magot merupakan sesuatu yang harus dihindari. Menurutnya, magot justru menjadi pengurai alami yang sangat efektif karena mampu mengonsumsi sampah organik dengan cepat.

 

“Magot bukan sesuatu yang harus ditakuti. Mereka adalah aktor alami yang membantu proses pengomposan berjalan lebih optimal,” katanya.

 

Untuk meningkatkan efisiensi pengolahan sampah, tim peneliti UM Bandung juga mengembangkan mesin pencacah sampah berkapasitas 20 kilogram. Mesin tersebut mampu mengubah sampah organik menjadi bentuk lebih halus sehingga lebih mudah terurai oleh magot maupun mikroorganisme.

 

Kolaborasi Jadi Kunci Pengelolaan Sampah

 

Luthfia menegaskan, penyelesaian persoalan sampah tidak selalu bergantung pada teknologi besar. Peran masyarakat dan kolaborasi komunitas justru menjadi faktor utama.

 

Berbagai program bank sampah serta pengomposan komunal di tingkat lingkungan, sekolah, hingga kampus menunjukkan bahwa gerakan bersama mampu menciptakan perubahan nyata.

 

“Perubahan besar dimulai dari hal sederhana, seperti memilah sampah dari dapur sendiri. Jika setiap rumah tangga melakukan itu, beban TPA dapat berkurang, emisi gas metan turun, dan kualitas lingkungan meningkat,” pungkasnya.

 

Webinar ini menjadi pengingat bahwa persoalan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah maupun petugas kebersihan. Setiap individu memiliki peran penting untuk menjaga bumi tetap sehat dan layak dihuni. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!