SOLO, MENARA62.COM – Suasana berbeda terlihat dalam prosesi wisuda di Universitas Muhammadiyah Surakarta https://www.ums.ac.id/ (UMS) ketika salah satu wisudawati internasional tampil mengenakan pakaian tradisional khas negaranya. Veville Volatabu Nabalarua yang akrab disapa Ve, alumni Program Studi Manajemen S1 UMS asal Fiji, memperkenalkan busana budaya yang sarat makna dalam momen wisuda yang penuh haru.
Upacara Wisuda Sarjana, Magister, dan Doktor Periode III Tahun Akademik 2025/2026 yang digelar di Gedung Edutorium KH Ahmad Dahlan, Sabtu (4/4), menjadi panggung istimewa bagi Ve untuk menampilkan identitas budayanya di hadapan civitas academica.
Dalam prosesi tersebut, Ve mengenakan pakaian tradisional Fiji yang biasa digunakan dalam perayaan penting seperti pernikahan, ulang tahun, maupun pencapaian besar. Busana tersebut memiliki keunikan tersendiri karena terbuat dari bahan alami.
“Ini adalah pakaian tradisional kami, biasanya dipakai saat perayaan besar. Terbuat dari bahan alami seperti pohon yang diproses secara khusus. Ini melambangkan pencapaian besar,” jelas Ve.
Bagi Ve, mengenakan pakaian tradisional di hari wisuda bukan sekadar penampilan, melainkan simbol perjalanan panjang yang telah ia lalui selama menempuh pendidikan di UMS. Ia menilai momen tersebut menjadi penanda keberhasilan sekaligus kebanggaan bagi dirinya dan keluarganya di Fiji.
Dalam momen wisuda yang penuh kebahagiaan itu, Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., https://www.ums.ac.id/profile/harun-joko-prayitno turut menyoroti perjalanan Ve sebagai wisudawan dengan jarak tempuh terjauh. Ia harus menempuh perjalanan selama dua hari dari Fiji menuju Indonesia untuk memulai studinya di UMS.
“Perjalanan saya ke UMS memakan waktu dua hari. Dari Fiji ke Singapura sekitar 10 jam, lalu transit dan menginap, kemudian lanjut penerbangan sekitar 2 jam ke Indonesia,” ungkapnya.
Meski datang dari negara yang jauh, Ve mengaku merasa nyaman selama berkuliah di UMS. Lingkungan yang ramah membuatnya cepat beradaptasi dan menjadikan Indonesia sebagai rumah kedua.
“Teman-teman di sini baik, dosen-dosen juga sangat ramah. Saya merasa aman dan bahagia di sini,” ujarnya.
Namun, di balik kebanggaan mengenakan pakaian tradisional dan meraih kelulusan, terselip rasa haru yang mendalam. Ve mengaku kerap menahan tangis saat menyadari masa studinya di Indonesia telah usai.
“Indonesia seperti rumah kedua saya. Setiap kali memikirkan harus pulang, rasanya seperti meninggalkan rumah dan keluarga. Empat tahun di sini sangat berarti,” tuturnya.
Ve merupakan penerima beasiswa selama menempuh studi di UMS. Ia berharap semakin banyak mahasiswa dari Fiji dapat merasakan pengalaman serupa, termasuk mengenalkan budaya mereka di lingkungan internasional seperti UMS.
“Saya berharap lebih banyak mahasiswa dari Fiji datang ke UMS, karena UMS sangat luar biasa. Saya sangat mencintai tempat ini,” ungkapnya.
Ke depan, Ve membuka peluang untuk kembali melanjutkan studi jenjang magister di UMS, sekaligus melanjutkan keterikatannya dengan Indonesia yang telah ia anggap sebagai rumah kedua.
“Saya sedih harus pulang. Kalau bisa, saya ingin tetap di sini. Mungkin nanti saya akan kembali untuk S2,” pungkasnya. (*)


