31.6 C
Jakarta

Opini : Gen Z dan  Generasi “Ismail”

Baca Juga:

Generasi Z atau Gen Z,  adalah orang yang lahir sekitar  tahun 1997 hingga 2012. Sehingga umur mereka sekarang ini kisaran 14-29 tahun. Cirinya Digital Native sejati. Karena saat mereka lahir disambut dengan kehadiran internet, Wifi, You tube, Whatshap (WA). Mereka banyak belajar dari, IG, Tik tok, You tube, AI, Google dan semacamnya. Multitasking. Mereka lebih nyaman komunikasi dengan WA, chat atau DM dari pada telephone. Atau tatap muka. Komunitas on line, kuat. Kalau menghadapi masalah, langsung disampaikan, bisa lewat chart. Tidak gampang memendam masalah. Itu Adalah Gambaran secara genenal.
Bahwa ada pengecualian, itu biasa. Jumlah mereka secara datatif ada 74,93 juta orang atau 27,95 % dari total penduduk Indonesia. Data sensum BPS tahun 2020, menjadi  generasi paling dominan, mengalahkan generasi milinial sekalipun, yakni 69,38 juta orang. Artinya Gen Z ini menjadi bonus demografi bagi Indonesia.

Sementara Generasi “Ismail” ( Keturunan Nabi Ibrahim As) selalu dihubungkan dengan ruh Idul Adha. Tahun ini 1447 H insya Allah jatuh pada  tanggal 27 Mei 2026. Tulisan ini tidak hendak mengurai perbedaan antara Gen Z dan Generasi Islami. Namun lebih pada upaya untuk mencari benang merah, bisakah Gen Z beberapa diantara mereka Adalah bagian dari Generasi Ismail juga. Generasi penuh harapan. Hope.  Sosok Ismail muda waktu itu, patut dijadikan teladan hingga kini dan akhir jaman.

Doa yang dipanjatkan melalui tahajud demi tahajud akhirnya membuahkan hasil. QS. As-Shofat : 37- 100-111. Girangnya hati Ibrahim waktu itu. Namun justru pada saat sedang pada puncak kesenangannya memandang buah hatinya, turun perintah untuk mengorbankannya melalui suksesi penyembelihan.  Ibrahim sempat tercenung dengan perintah ini. Syetan datang menggoda, untuk menggagalkan perintah itu dengan berbagai macam dalih dan alasan.Tujuannya cuma satu, yakni agar Ibrahim tidak taat kepada-Nya.

Maka diriwayatkan dalam QS.Ash-Shofat 102-107, percakapan yang menggetarkan hati seorang anak usia belasan tahun   dengan bapaknya.  “Maka ketika anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersamanya (Ibrahim) berkata, “ Wahai anakku, sebenarnya aku bermimpi, bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah, bagaimana menurut pendapatmu. Dia (Isma’il) menjawab,”Wahai bapakku ! Laksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah kepadamu, Insya Allah engkau akan mendapati aku termasuk dalam golongan  orang-orang yang sabar. Dan ketika Ismail sudah siap akan disembelih dalam posisi terbaring, maka dipanggilah Ibrahim, kemudian digantikannya Isma’il dengan seekor domba yang besar. Ibrahim adalah golongan khalilullah ( kekasih Allah ).

Hikmah apa yang bisa kita raih dari peristiwa utopis ? Pertama  Ketauhidan Ibrahim yang tidak tertandingi. Kecintaannya kepada Allah benar-benar dapat mengalahkan cintanya kepada materi, harta dalam hal ini anak sendiri. Kedua, komunikasi egaliter yang dibangun antara bapak dan anak, menjadikan hubungan keluarga yang tidak egois dan sentralistik. Anak yang sudah beranjak remaja diajak untuk dialog. Meski untuk ukuran normal, susah untuk mencari tandingan Isma’il As dengan jawaban yang sangat mengesankan. Jelas-jelas akan disembelih, Isma’il kecil rela, kalau memang benar-benar itu adalah perintah dari Allah Swt. Seraya berdoa semoga keduanya dimasukkan kedalam golongan orang yang bersabar. Intinya Isma’il adalah potret generasi yang patuh dan taat kepada Allah dan kepada orang tuanya.

            Menanti Generasi Ismail

Isma’il sudah lama tiada. Namun sejarah mencatat dengan tinta emas akan keteguhan hatinya. Tauhidnya dan Jiwa sosialnya yang tinggi. Elan kepemimpinannya. Hingga momen pengorbanan Isma’il ini menjadi tonggak lahirnya perintah qurban. Yang dalam kontek Islam disebut dengan perayaan Idul Adha. Kita rindu kehadiran Gen Z yang berjiwa “Ismail”. Namanya anak kita boleh Joko, Agus atau Bambang, namun ruh dan semangat-nya ala Ismail.Semoga. (Sekian) Penulis : Mengajar di SMP Muhammadiyah Turi Sleman, DIY. Opini pribadi.

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!