JAKARTA, MENARA62.COM -Di tengah meningkatnya krisis iklim dan energi global, Indonesia dan Eropa mempertegas langkah bersama dalam mempercepat transisi menuju pembangunan hijau berbasis inovasi melalui Forum Kolaborasi Sains dan Teknologi Indonesia-Uni Eropa yang digelar Rabu (22/4/2026). Melalui RI–EU Science and Technology Collaboration Forum 2026 ini, kedua pihak meneguhkan kemitraan strategis yang tidak hanya berorientasi pada riset, tetapi juga pada solusi nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.
Diselenggarakan bertepatan dengan momentum Hari Bumi, forum bertema “Green Technology for Sustainable Climate Solutions” ini menjadi ruang kolaborasi penting bagi para pemangku kepentingan dari kedua kawasan. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia mendorong sinergi lintas negara dalam pengembangan teknologi hijau, penguatan kapasitas riset, serta perluasan jejaring inovasi global yang inklusif dan setara.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto menegaskan bahwa kemitraan Indonesia-Uni Eropa penting dalam menjawab kebutuhan bangsa melalui penguatan riset dan inovasi.
“Kita ingin memastikan bahwa riset, inovasi, serta sumber daya manusia menjadi kekuatan utama dalam menjawab kebutuhan bangsa Indonesia. Perguruan tinggi harus berada di garda depan dalam melahirkan talenta-talenta unggul yang memiliki perencanaan strategis. Forum ini mengangkat tema yang sangat relevan, yaitu teknologi hijau, yang merupakan salah satu solusi masa depan, yang menjadi kebutuhan kita,” ujar Menteri Brian.
Ditambahkan Menteri Brian bahwa pengembangan teknologi hijau merupakan bagian penting dalam transformasi industri nasional. Teknologi hijau menjadi salah satu pilar pembangunan, sekaligus upaya untuk menarik investasi industri ke Indonesia melalui penyediaan sumber energi yang tidak lagi berbasis fosil, melainkan berbasis teknologi hijau.
Forum ini menegaskan komitmen Indonesia dan Uni Eropa untuk kerja sama yang inklusif, setara, dan berorientasi pada solusi, guna menghasilkan inovasi berbasis sains dan teknologi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan lingkungan.
“Kami berharap kita bisa terus memperkuat komunikasi, sehingga bisa menjadi jembatan para peneliti, membuka akses bagi para mahasiswa dan dosen, serta membangun proyek-proyek kolaboratif yang bisa diukur dampaknya. Kita ingin kolaborasi Indonesia dan Uni Eropa semakin kuat dalam bentuk kolaborasi yang bisa dihasilkan oleh dua bangsa,” tutup Menteri Brian.
Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Denis Chaibi menggarisbawahi bahwa kemitraan ini mencerminkan komitmen bersama untuk menghadirkan solusi praktis berbasis sains dan teknologi.
“Indonesia adalah mitra kunci bagi Uni Eropa dalam mendorong inovasi hijau. Dengan mendukung inisiatif Pemerintah Republik Indonesia yaitu 1.000 Green Engineers, berarti kami juga mewujudkan strategi Uni Eropa Global Gateway, menjalin kemitraan yang kuat di seluruh dunia. Kami berinvestasi pada generasi muda Indonesia, karena teknologi hijau akan membentuk masa depan kita bersama secara berkelanjutan, hingga berpuluh tahun mendatang,” jelas Duta Besar Denis.
Sebagai bagian dari forum, komunitas pendidikan Indonesia diperkenalkan dengan EU Green Engineering Hub (https://www.greenengineer.eu/), sebuah platform yang memfasilitasi akses terhadap informasi program pendidikan, beasiswa, peluang kolaborasi, serta pilihan karir di bidang rekayasa hijau di kawasan Eropa. Inisiatif ini menjadi wujud konkret dukungan terhadap pengembangan sumber daya manusia unggul di bidang teknologi hijau.
Platform yang diperkenalkan dan forum yang digelar hari ini diharapkan dapat menggugah minat para akademisi, peneliti dan inovator Indonesia untuk menempuh pendidikan dan menghasilkan karya nyata yang dapat memecahkan persoalan iklim dan lingkungan hidup dengan memastikan efisiensi pemanfaatan sumber daya, energi terbarukan, manajemen sampah dan limbah yang baik, serta kelestarian ekologi. Elemen-elemen yang fundamental ini diharapkan dapat selalu dipertimbangkan dalam pengembangan teknologi oleh para pakar Indonesia.
Selain itu, melalui sosialisasi skema pendanaan Horizon Europe, Indonesia dan Uni Eropa membuka peluang lebih luas bagi ilmuwan dan akademisi Indonesia untuk berpartisipasi dalam kolaborasi global, khususnya dalam topik-topik penelitian di bidang iklim, energi, mobilitas, pangan, bio ekonomi, sumber daya alam, pertanian dan lingkungan hidup.
Komitmen Uni Eropa-Indonesia untuk memperkuat kerja sama di bidang sistem yang berkelanjutan dan teknologi hijau ini ditegaskan pula oleh Jean-Marc Roda, Regional Director CIRAD (Pusat Penelitian Pertanian untuk Pembangunan Internasional berbasis di Prancis) yang membahas transformasi dari sumber daya alam menjadi inovasi hijau.
Forum Lintas Pakar
Dalam forum ini, sejumlah pakar nasional berkesempatan untuk berbagi pandangan, pengalaman dan mendemonstrasikan hasil riset serta pengembangan sains dan teknologinya. Ova Candra Dewi, Kepala Departemen Arsitektur Universitas Indonesia yang juga adalah pakar di Bidang Arsitektur dan Keberlanjutan serta Teknologi Lingkungan Hidup menjabarkan prospek pekerjaan dan profesi masa depan di bidang teknologi hijau di Indonesia serta di Eropa.
Kemudian, Nunung Martina, Dosen Teknik Sipil di Politeknik Negeri Jakarta yang juga merupakan pemimpin Proyek Carbolet mendemonstrasikan praktik baik dalam mengubah sampah/limbah menjadi energi hijau menggunakan ethnoscience, kearifan lokal dan implementasi inovasi di tingkat tapak. Sementara Arief Setyanto, inovator Proyek SILVANUS dari Universitas Amikom Yogyakarta yang juga adalah penerima dana penelitian dari Horizon Europe, menjelaskan soal kolaborasi Indonesia-EU dalam upaya mitigasi bencana yang melahirkan solusi berbasis teknologi dan platform inovasi untuk manajemen kebakaran alam yang diaplikasikan tidak hanya di Indonesia.
Forum ini turut dihadiri oleh pimpinan dan dosen perguruan tinggi negeri dan swasta, sebagai aktor utama dalam pengembangan sains dan teknologi. Selain itu, hadir pula perwakilan dari berbagai kementerian dan lembaga strategis, antara lain Badan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas), Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Kementerian Luar Negeri (Kemlu), serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kegiatan ini juga dihadiri oleh perwakilan kedutaan besar negara-negara Anggota Uni Eropa, sebagai wujud kolaborasi lintas sektor dan lintas negara dalam memperkuat ekosistem sains dan teknologi nasional. Badan Eksekutif Mahasiswa dari berbagai kampus, organisasi non-profit, kelompok masyarakat sipil, pegiat muda, dan Youth Sounding Board: Sahabat Uni Eropa juga dilibatkan dalam kegiatan ini. Forum dan kerjasama ini juga didukung oleh Euraxess Worldwide to ASEAN, Deutscher Akademischer Austauschdienst (DAAD)/Dinas Pertukaran Akademis Jerman di Jakarta, Kedutaan Besar Belanda untuk Indonesia, dan Nederlandse Organisatie Voor Wetenschappelijk Onderzoek (NWO) atau Dewan Riset Belanda.
Komitmen Kemdiktisaintek
Sebagai tindak lanjut dari forum ini, Kemdiktisaintek menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kolaborasi internasional di bidang sains dan teknologi, khususnya dalam pengembangan dan penerapan teknologi hijau yang mendukung pembangunan berkelanjutan.
Kemdiktisaintek juga berkomitmen untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia Indonesia melalui perluasan akses pendidikan, riset kolaboratif, serta partisipasi aktif dalam program-program global seperti Horizon Europe. Selain itu, Kemdiktisaintek akan terus mendorong hilirisasi hasil riset dan inovasi agar dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat, industri, dan lingkungan.
Upaya ini menjadi bagian dari strategi nasional dalam memperkuat daya saing Indonesia di tingkat global serta memastikan kontribusi aktif Indonesia dalam menjawab tantangan perubahan iklim dan transisi menuju ekonomi hijau yang inklusif dan berkelanjutan.


