26.1 C
Jakarta

Opini : Bisnis Sepak Bola dan Industri Hiburan Kita

Baca Juga:

Opini :

Bisnis Sepak Bola dan Industri Hiburan Kita

Masih ingat,  ironi dan tragedi “Sepak bola gajah” Tanah Air ? Tanpa harus menyebut klub. Sepak bola gajah selalu memakan korban. Kejadian seolah menjadi repitisi. Berulang dan berlanjut.  Sebenarnya ini bukan kali pertama untuk sejarah kelam dunia bola di tanah air. Permaian sabun, biasanya berakhir dengan skor telak. Tidak masuk nalar sehat. Skor akhir :  1-12, 0-8 atau 1-14 misalnya, menunjukkan permainan yang jelas tidak enak ditonton. Bagaimana mungkin pertandingan 2 X 45 menit, gawang bisa kebobolan 12. Seolah tidak ada perlawanan. Skor sudah diatur. Peringkat sudah ditentukan. Meskipun akhirnya para pemain dan pelaku mendapatkan sanki. Kita tutup lembaran kelam sepak bola tanah air yang minim prestasi, dengan digulirkannya Liga 3, Liga 2, Liga 1 yang kemudian berubah nama menjadi Liga Super League.

PT Liga Indonesia Baru (LIB) baru saja mengguncang ekosistem sepak bola nasional dengan mengumumkan regulasi pemain asing terbaru untuk kompetisi 2025-2026. Dalam perubahan paling radikal sepanjang sejarah liga domestik, kuota pemain asing diputuskan naik menjadi 11 pemain per klub. Kebijakan ini menjadi bagian tak terpisahkan dari transformasi Liga 1 menjadi “Super League”
Hadirnya banyak pemain asing top di tanah air ini menjadikan pertandingan lebih menarik. Tidak saja dari sisi ball skill, kerjasama tim namun juga dari antusiasme penoton, naik tajam. Sponsor tertarik.

Geliat prestasi untuk menuju kearah sana sudah mulai nampak. Sejak Pasukan Garuda Indonesia Muda U-19 dibawah tangan dingin Indra Safri tahun 2024 menjuarai Piala AFF mengalahkan kandidat  juara Tim Thailand dengan skor tipis 1-0 di Stadion Gelora Bung Tomo Surabaya. Atau 13 tahun silam saat Timnas Garuda Indonesia Muda mengalahkan debutan Vietnam lewat adu pinalti ( 7-6 ). Eranya Evan Dimas Darmono, Zulfiandi dkk  ada secercah harapan kita dapat berbicara di pentas dunia. Meski baru mimpi, namun benang merahnya sudah agak tampak.

       Sepak Bola Masuk Industri.

Sejak digulirkannya kompetisi nasional ISL dan IPL greget dan persaingan para pemain bola lebih mencuat. Terlepas dari permasalahan manajemen didalam kedua penyelenggaraan itu, namun kita harus akui, sepok bola dinegeri ini menjadi lebih bergairah. Artinya tidak sedikit mereka yang sudah berani menggantungkan hidupnya dengan bermain bola saja. Tidak lagi bermain bola sebagai pekerjaan kedua. Hal ini ditandai dengan kontrak-kontrak pemain lokal yang nilainya sudah lumayan untuk ukuran Indonesia.

Ketika sepak bola sudah masuk dunia industri, maka mau tidak mau sudah tidak lagi berbicara : kesenangan, hobi, kebahagiaan, mengisi waktu luang, tetapi sudah masuk dalam ranah untung rugi. Perhitungannya lebih cermat  yakni bisnis. Disamping tetap mengedepankan sisi entertainment-nya.

Selama ini kalau kita nonton bola disamping senang sering yang ditonjolkan adalah fanatisme yang berlebihan. Fanatisme buta. Akibatnya ketika jago kita kalah maka yang muncul adalah kebencian, dendam dan permusuhan.

            Mulai dari Diri Sendiri.

Kalau kita nonton di teve pertandingan yang  hebat, misal antara Real Madrid Versus Barcelona, jarang kita jumpai tawuran antar penonton. Padahal jumlah penonton bisa mencapai digit ratusan ribu. Tetapi mengapa mereka bisa tertib?

Kasus meninggalnya suporter bola, gesekan antar supporter masih sering terjadi.  Niat  mencari kesenangan dengan memberi dukungan, ternyata harus dibayar mahal dengan hilangnya nyawa. Kita dapat bayangkan kesedihan keluarganya.

Maka untuk menciptakan suasana aman dilapangan, hemat saya harus dimulai dari diri kita sendiri. Niat kuat kalau memang mau nonton bola untuk kesenangan, mencari persahabatan, mestinya ukuran menang kalah adalah hal biasa. Sesama penonton adalah teman, saudara, mereka berhak sama menikmati jalannya pertandingan hingga usai dengan baik. Nama supporter boleh beda, namun mestinya nafas dan semangatnya sama. Selamat datang era industri bola tanah air. Yang tidak profesional, akan tersingkir. (Sekian )

. (Sekian). Penulis : Pecinta Bola,  Kini Mengajar di SMP Muhammadiyah Turi Sleman DIY.

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!