31.6 C
Jakarta

Di Momen Hari Bumi, Keraton Yogyakarta Gelar Pelatihan Pengelolaan Sampah Terpadu

Baca Juga:

YOGYAKARTA, MENARA62.COM — Menggali filosofi Hamemayu Hayuning Bawono dan bertepatan dengan momen Hari Bumi 22 April, Keraton Yogyakarta menggelar pelatihan “Transformasi Tata Kelola Sampah Kawasan Wisata Keraton Yogyakarta”. Pelatihan yang diikuti puluhan abdi dalem di bidang pariwista dan kebersihan ini dipusatkan di Museum Wahanarata Keraton Yogyakarta dan berlangsung selama tiga hari pada 20-22 April 2026.

Dalam sambutannya, KRT Jatihadiningrat, Penghageng II Kawedanan Radya Kartiyasa, lembaga bidang pariwisata Keraton Yogyakarta, menyatakan, kegiatan ini merupakan upaya Keraton Yogyakarta untuk turut terlibat dalam melakukan pengelolaan sampah secara mandiri.

“Keraton selalu terbuka pada kegiatan-kegiatan yang memberikan manfaat, bukan hanya kepada pihak Keraton sendiri tetapi juga pada wisatawan dan masyarakat luas. Semoga apa yang disampaikan dalam pelatihan ini bisa diterapkan dalam penanganan sampah di Keraton sehari-hari,” ujarnya.

Koordinator operasional bidang pariwisata Keraton Yogyakarta, Mas Jajar Praba Hanendra, menjelaskan penanganan sampah di Keraton Yogyakarta menjadi tantangan tersendiri terutama di kawasan keraton yang menjadi destinasi wisata, yakni di Kedaton, Tamansari, dan Museum Wahanarata.

Selama ini, di kawasan keraton, sampah didominasi dari daun-daun yang berasal dari pepohonan. Namun seiring waktu dan banyaknya jumlah pengunjung, sampah organik tersebut bercampur dengan bahan-bahan anorganik. Kondisi ini melahirkan sejumlah tantangan dari aspek kelembagaan, sumber daya manusia, hingga sarana prasarana.

“Tantangan utama dalam menjaga kebersihan di kawasan wisata Keraton adalah melibatkan partisipasi pengunjung atau wisatawan. Bayangkan, untuk Tamansari saja, kunjungan mencapai sekitar 3500 orang per hari. Di akhir pekan, jumlahnya bisa dua kali lipat,” ujar abdi dalem yang akrab disapa Irmawan tersebut, Rabu (22/4/2026).

Sejumlah langkah telah dilakukan, seperti menyediakan tempat-tempat sampah, termasuk tempat sampah terpilah di Museum Wahanarata. Namun, menurut Irmawan, sistem pengelolaan sampah terintegrasi tetap dibutuhkan untuk mengatasi sampah di yang semakin banyak dan beragam.

Untuk itu, pihaknya mengundang komunitas warga yang berhasil menerapkan pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Ketua RW 05 Mangkuyudan, Kota Yogyakarta, Ganang Iwan Surya Yudha, berbagi pengalaman dalam mengelola sampah di kampung tersebut.

Warga Mangkuyudan mendirikan bank sampah untuk mengelola sampah anorganik dan membuat biopori jumbo untuk menampung sampah organik. “Metode ini mengolah sampah organik menjadi pupuk padat atau pupuk cair untuk dimanfaatkan kembali untuk tanaman atau dijual untuk meningkatkan nilai ekonomi,” paparnya.

Sholahuddin Nurazmy, fasilitator dari Sirkoola, lembaga yang berpengalaman dalam pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular, menyatakan, Keraton Yogyakarta sesungguhnya memiliki kearifan lokal dalam mengelola sampah secara terintegrasi, yakni melalui filosofi Hamemayu Hayuning Bawono.

“Filosofi ini bahkan lahir jauh sebelum konsep-konsep ekologi modern, seperti peringatan Hari Bumi yang diperingati pertama kali pada tahun 1970 di Amerika Serikat. Hamemayu Hayuning Bawono menjadi konsep penting dalam merawat alam dan lingkungan,” katanya.

Yang dibutuhkan, imbuh Sholahuddin, adalah menerjemahkan filosofi tersebut dalam konteks kekinian juga praktik-praktik nyata yang mudah dipahami dan dapat berfungsi sebagai standar operating procedure (SOP), terutama dalam pemilahan sampah.

Sebagai contoh, arsitektur bangunan Jawa memiliki bagian pawuhan atau membuat jugangan_ untuk sampah daun di pelataran. Pengelolaan sampah saat ini bisa mengadopsi konsep itu sekaligus mengadaptasi dengan kondisi zaman modern, misalnya dengan tempat sampah terpilah dan biopori.

Selain itu, pengelolaan sampah ini harus disampaikan dengan strategi menarik yang menggaet atensi publik, khususnya generasi muda yang memiliki tingkat pemahaman dan kesadaran lingkungan yang lebih baik. Abdi dalem juga bisa dilibatkan untuk mengajak wisatawan untuk mematuhi tata krama keraton dalam memilah sampah.

“Akan menarik jika wisatawan terlibat langsung dalam pengelolaan sampah. Misalnya setelah memilah sampah dan melihat pembuatan kompos, wisatawan bisa membawa pulang rabuk atau pupuk ala keraton. Jika bisa diterapkan, ini akan menjadi wajah pengelolaan sampah kekinian Keraton Yogyakarta yang tetap berbasis kearifan lokal,” tandasnya.[rilis]

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!