KEPULAUAN SERIBU, MENARA62.COM – Suku Dinas Pendidikan Kepulauan Seribu terus menaruh perhatian besar terhadap pemerataan hak belajar sekaligus penyediaan wadah kreativitas bagi anak-anak di wilayah pesisir. Menyadari bahwa pendidikan tidak boleh hanya terpaku pada dinding-dinding ruang kelas, Sudin Pendidikan setempat secara masif mengoptimalkan program Ruang Seni Siswa sebagai sarana bagi para pelajar untuk berekspresi, berkreasi, dan melatih mental tampil di depan publik.
Langkah ini diambil guna memastikan bahwa setiap anak di Kepulauan Seribu, tanpa terkecuali, mendapatkan fasilitas yang setara untuk tumbuh menjadi generasi yang percaya diri dan berkarakter kuat.
Kepala Suku Dinas Pendidikan Kepulauan Seribu, Muhammad Thohari, menggarisbawahi bahwa tantangan geografis berupa wilayah kepulauan yang luas tidak boleh menjadi penghalang dalam pemenuhan hak-hak dasar anak. “Pelayanan pendidikan di wilayah ini mencakup wilayah yang sangat luas dan tersebar di enam kelurahan, membentang dari ujung utara di Pulau Sabira hingga ke sisi selatan di Pulau Untung Jawa,” kata Thohari saat menyambut kunjungan lapangan tim Forum Wartawan Pendidikan, Kamis (25/6/2026).
Thohari menceritakan bagaimana dinamika transportasi laut yang menjadi urat nadi wilayah tersebut. Akses menuju pulau-pulau terluar, seperti Pulau Kecil atau Pulau Nusantara di dekat Pulau Harapan, membutuhkan waktu tempuh yang sangat bervariasi tergantung jenis armada yang digunakan.
“Kalau kita naik kapalnya bisa 3 jam, tapi kalau kapalnya kapal nelayan bisa 9 jam. Tapi kalau mau lebih lama lagi bisa 20 jam, yang penting mampir-mampir ke sini nonton film dulu, ke sana snorkeling dulu, besoknya sampai juga bisa. Tapi kalau malam bahaya, takutnya nanti gelap, gak ada cahaya, nanti nabrak karang,” ujar Thohari menggambarkan tantangan pelayaran lokal.
Meski dihadapkan pada rute laut yang menantang, komitmen pelayanan tetap berjalan penuh. Saat ini, jajaran Sudin Pendidikan Kepulauan Seribu mengelola dan melayani 44 Satuan Pendidikan Negeri, 9 Lembaga Pendidikan Swasta dan 7 Lembaga Pendidikan di bawah naungan Kementerian Agama.
Seluruh capaian ini merupakan buah dari sinergi dan kolaborasi lintas sektor untuk memastikan tidak ada anak yang kehilangan hak belajarnya.
Optimalisasi Ruang Terbuka
Lebih lanjut ia menyampaikan pelaksanaan Ruang Seni Siswa ini juga menjadi bentuk konkret dari implementasi instruksi pimpinan DKI Jakarta. Thohari menyebutkan bahwa Gubernur Pramono Anung bersama jajaran terkait, termasuk Wagub Rano Karno, telah mengimbau seluruh perangkat daerah untuk mengaktifkan ruang-ruang terbuka sebagai tempat aktivitas yang positif bagi anak-anak.
“Maka dari itu, kita memberikan kesempatan kepada anak-anak kita, tidak hanya di kelas, belajar berekspresi, berkreasi ada di taman-taman seperti ini. Makanya ini ruang seni siswa,” kata Thohari.
Kegiatan yang kali ini dipusatkan di Pulau Tidung tersebut merupakan gelaran BATS yang kedua. Sebelumnya, agenda serupa sukses dihelat pada bulan April dengan konsep pemanfaatan ruang terbuka yang sangat variatif, mulai dari panggung terbuka di pinggir pantai hingga kegiatan seni di dalam aula. Melalui model pembelajaran luar ruangan ini, anak-anak diajak untuk lebih menyatu dengan lingkungan sekitar sekaligus mengasah kepekaan estetika mereka.
Menjadikan Sekolah sebagai ‘Kanvas Belajar’
Dalam kesempatan tersebut, Thohari menekankan pentingnya menjaga kualitas sekolah yang ia istilahkan sebagai “kuil-kuil pendidikan.” Baginya, sekolah harus mampu mereduksi atau mentransformasikan perannya menjadi sebuah kanvas belajar—sebuah tempat di mana siswa diasuh dan dipersiapkan untuk menghadapi tantangan zaman dengan fleksibilitas yang tinggi. “Mau dididik jadi apa saja sekolah harus siap,” tegasnya.
Ia juga mengapresiasi para siswa yang tampil berani di atas panggung dengan beragam kostum, mulai dari pakaian adat yang anggun hingga pakaian kreasi lainnya. Thohari menyelipkan harapan besar dan doa bagi masa depan para pelajar Kepulauan Seribu agar kelak bisa menduduki posisi-posisi strategis di tingkat nasional.
Ia dengan nada optimis berseloroh bahwa bakat yang diasah hari ini bisa mengantarkan mereka menjadi tokoh masyarakat seperti Ustazah Mama Dedeh, atau bahkan masuk ke jajaran petinggi negara. “Atau mungkin kalau kita lihat tadi adik-adik Taruna, siapa tahu besok bisa jadi Menteri Pertahanan atau Kapolri, bisa jadi,” pungkas Thohari.
Tiga Pilar Pembangunan Pendidikan
Pada kesempatan yang sama, Kepala Biro Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat (BKHM) Kemendikdasmen Yudhistira menyampaikan Kemendikdasmen terus berkomitmen menghadirkan pendidikan bermutu bagi seluruh anak bangsa melalui strategi besar pemerintah yang berfokus pada penguatan tiga pilar utama: infrastruktur fisik (physical infrastructure), infrastruktur pedagogikal, dan infrastruktur budaya.
“Langkah komprehensif ini digulirkan guna menerjemahkan visi besar Presiden dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah dalam menciptakan ekosistem belajar yang aman, nyaman, dan berkemajuan,” ujarnya.
Pilar pertama yang menjadi fokus utama pemerintah adalah penguatan struktur fisik atau physical infrastructure. Yudhistira mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2025, Kemendikdasmen telah berhasil melakukan revitalisasi satuan pendidikan sebanyak 16.167 sekolah di seluruh Indonesia.
Memasuki agenda tahun depan, pemerintah secara spesifik akan menggeser dan memperketat lokus fokus pembenahan fisik sekolah ke tiga sektor krusial, yaitu Daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), dan daerah terdampak bencana, sekolah dengan kondisi rusak.
Yudhistira juga mengimbau jajaran di daerah, termasuk di Kepulauan Seribu, untuk bersikap proaktif dalam mendata wilayahnya. “Mungkin di Pulau Seribu ada sekolah rusak, nanti dari provinsi atau kondisi tempat bisa mengusulkan kepada kementerian,” terangnya.
Selain bangunan fisik, perluasan program digitalisasi pembelajaran menjadi bagian tidak terpisahkan dari pilar fisik ini. Program yang dicanangkan langsung oleh Presiden ini diwujudkan melalui pengiriman interactive panel ke sekolah-sekolah guna mendukung metode pembelajaran yang lebih mendalam (deep learning).
“Jadi digitalisasi pembelajaran adalah pengiriman interactive panel di mana tadi Bapak Ibu bisa memanfaatkan interactive panel untuk mendukung pembelajaran yang lebih mendalam. Jadi tadi mindfulness, berkesadaran, joyful, meaningful, bermakna, dan menyenangkan,” jelas Yudhistira disambut rasa syukur para guru yang sekolahnya telah menerima fasilitas tersebut.
Lalu pilar kedua adalah pengembangan pedagogical infrastructure atau infrastruktur pedagogikal. Sektor ini menitikberatkan pada peningkatan kapasitas dan kompetensi para guru agar lebih mahir dalam mendorong sekaligus memanfaatkan metode pembelajaran mendalam di ruang kelas.
Sejalan dengan tuntutan kompetensi yang kian tinggi, pemerintah berkomitmen untuk terus memperhatikan kesejahteraan para pendidik. Yudhistira memastikan bahwa program tunjangan sertifikasi guru akan terus dikawal secara berkelanjutan. “Di sini sudah dapat pinjangan sertifikasi guru? Alhamdulillah. Nah tentu tahun depan itu akan terus meningkat,” tuturnya di hadapan para guru.
Dan pilar terakhir yang tidak kalah penting dalam rangka mewujudkan pendidikan bermutu adalah pengembangan infrastruktur budaya. Menurut Yudhistira, ada dua dimensi utama yang ingin dibangun dalam pilar budaya ini:
- Membiasakan Hidup Sehat pada Anak: Pemerintah mendorong penerapan pola hidup teratur bagi anak-anak Indonesia sejak dini. Kebiasaan ini mencakup bangun pagi, beribadah, berolahraga, mengonsumsi makanan sehat, gemar belajar, aktif bermasyarakat, serta tidur tepat waktu.
- Menciptakan Budaya Sekolah yang Aman dan Nyaman: Menjamin lingkungan sekolah bebas dari rasa takut sehingga proses transfer ilmu dapat berjalan optimal.
Di penghujung arahannya, Kepala Biro BKHM menyampaikan apresiasi yang sangat tinggi kepada Kepala Suku Dinas Pendidikan (Kasudin) setempat serta para guru hebat yang telah bekerja keras memfasilitasi kebutuhan pendidikan anak-anak di wilayah kepulauan.
“Jadi, tiga poin tadi dalam rangka meningkatkan pendidikan bermutu semua. Jadi, terima kasih buat Pak Kasudin yang luar biasa yang sudah mengadilkan anak-anak dan Bapak Ibu Guru hebat. Tepuk tangan buat Pak Kasudin,” pungkas Yudhistira menutup sambutannya.

