SOLO, MENARA62.COM – Kepedulian terhadap lingkungan kembali digaungkan oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id yang tergabung dalam Kafilah Penuntun Moh. Djazman melalui sebuah diskusi terbuka bertema pelestarian alam. Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa (21/4/2026), di area terbuka samping lapangan Fakultas Psikologi UMS.
Kegiatan ini menghadirkan Prof. Kuswaji Dwi Priyono, M.Si., sebagai pemateri dan diikuti puluhan mahasiswa dalam suasana santai dengan konsep lesehan di ruang terbuka. Pemilihan lokasi tersebut bertujuan untuk menghadirkan kedekatan langsung peserta dengan alam, sehingga pesan yang disampaikan dapat lebih terasa dan bermakna.
Meski berlangsung secara informal, diskusi ini mengangkat isu serius terkait kondisi lingkungan yang semakin memprihatinkan akibat eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkendali.
Ketua Kafilah Penuntun Moh. Djazman Muhammad Azibsyah menyampaikan bahwa HW UMS berencana menindaklanjuti kegiatan ini dengan berbagai aksi nyata, baik di lingkungan kampus maupun masyarakat. Upaya sederhana seperti menjaga kebersihan dan merawat ruang terbuka hijau menjadi bentuk kontribusi awal dalam menjaga kelestarian bumi.
“Dengan sinergi antara akademisi dan mahasiswa, gerakan ini diharapkan mampu melahirkan generasi yang lebih peduli, kritis, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan demi keberlanjutan di masa depan,” kata dia, Kamis (23/4).
Dalam pemaparannya, Kuswaji menekankan bahwa kesadaran menjaga lingkungan harus diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar wacana.
“Jika bumi bisa berbicara, mungkin ia hanya ingin kita berhenti merusaknya,” ujarnya di hadapan peserta.
Ia juga menyoroti lemahnya pengawasan dalam pengelolaan sumber daya alam, khususnya yang melibatkan investasi asing. Ketergantungan tanpa kontrol yang kuat, menurutnya, justru membuka peluang eksploitasi yang merugikan negara serta masyarakat lokal.
Selain itu, minimnya transparansi dalam pelaporan dan pembagian hasil menjadi persoalan yang terus berulang. Bahkan, pelaksanaan reklamasi pascatambang kerap tidak berjalan sesuai ketentuan, meskipun secara administratif dana telah tersedia.
“Permasalahan utamanya terletak pada kurangnya kontrol dan transparansi dalam pengelolaan,” tegasnya.
Melalui kegiatan ini, Hizbul Wathan UMS berupaya membangun kesadaran kolektif di kalangan mahasiswa sebagai bagian dari gerakan Save the Earth. Diskusi ini diharapkan menjadi langkah awal untuk mendorong kepedulian yang lebih luas terhadap keberlanjutan lingkungan. (*)
