YOGYAKARTA, MENARA62.COM — Muhammadiyah Disaster Management Center menegaskan pentingnya penguatan relawan lokal dan kolaborasi multipihak dalam penanganan bencana hidrometeorologi, khususnya di wilayah Sumatra dan Aceh. Penegasan tersebut disampaikan dalam sesi Knowledge Sharing pada ajang Pertemuan Ilmiah Tahunan IABI ke-9 yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Rabu (6/5/2026).
Ketua MDMC PP Muhammadiyah, Budi Setiawan, mengatakan bahwa respons terhadap bencana besar tidak dapat hanya mengandalkan relawan dari luar daerah. Menurutnya, keberadaan relawan lokal menjadi elemen penting untuk mempercepat penanganan di lapangan.
“Semua ingin membantu ke Aceh dan Sumatra, tetapi tidak mungkin seluruhnya datang ke lokasi. Karena itu, penguatan relawan lokal menjadi kunci, baik di tingkat nasional maupun dalam konteks kolaborasi internasional,” ujarnya.
Budi menjelaskan, pendekatan Muhammadiyah dalam penanganan bencana dilakukan secara simultan mulai dari asesmen, perencanaan, hingga mobilisasi sumber daya. Model tersebut dinilai lebih adaptif karena proses penghimpunan dukungan berjalan bersamaan dengan penanganan di lapangan.
Ia menambahkan, meskipun MDMC bukan lembaga besar, kontribusi lembaga swasta dan organisasi masyarakat memiliki peran signifikan dalam membantu masyarakat terdampak bencana.
“Tanpa keterlibatan berbagai pihak, kondisi masyarakat di pengungsian bisa jauh lebih sulit,” katanya.
Dalam forum tersebut, MDMC juga menyoroti pentingnya keberadaan Pos Koordinasi Nasional (Poskornas) sebagai pusat kendali respons kebencanaan. Poskornas berfungsi memastikan koordinasi lintas wilayah dan lintas sektor berjalan efektif, sekaligus mengintegrasikan berbagai sumber daya yang terlibat dalam penanganan bencana.
Selain itu, konsep One Muhammadiyah One Response disebut menjadi pendekatan strategis dalam menyatukan gerak organisasi agar respons kemanusiaan lebih cepat dan terkoordinasi.
Budi mengingatkan bahwa proses transisi dari fase tanggap darurat menuju pemulihan tidak selalu berjalan seragam antara kebijakan dan kondisi riil di lapangan.
“Secara kebijakan mungkin sudah masuk tahap pemulihan, tetapi di lapangan belum sepenuhnya demikian. Ini yang perlu menjadi perhatian bersama,” jelasnya.
Penguatan kapasitas relawan melalui pelatihan juga menjadi perhatian utama MDMC. Investasi pada peningkatan kemampuan sumber daya manusia dinilai penting untuk menghadapi kompleksitas bencana yang terus berkembang.
Sementara itu, Rahmawati Husein menilai tata kelola penanggulangan bencana di setiap lembaga memiliki tantangan berbeda. Karena itu, forum ilmiah seperti PIT IABI menjadi ruang strategis untuk berbagi pengalaman dan memperkuat koordinasi antarlembaga.
Melalui forum tersebut, MDMC berharap sistem respons kebencanaan di Indonesia semakin kolaboratif, adaptif, dan berbasis pembelajaran sehingga layanan kemanusiaan bagi masyarakat terdampak dapat berjalan lebih optimal. (*)
