YOGYAKARTA, MENARA62.COM — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengingatkan bahaya sikap status quo dalam organisasi saat memberikan pengarahan pada Refleksi Milad ke-109 ’Aisyiyah di Convention Hall Universitas ’Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, Selasa (19/5/2026).
Dalam kegiatan bertema “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian” itu, Haedar menegaskan pentingnya pembaruan cara berpikir, penguatan daya juang, dan peningkatan kualitas amal usaha agar Muhammadiyah dan ’Aisyiyah mampu menghadapi perubahan zaman yang semakin kompleks.
“Perjalanan Muhammadiyah dan ’Aisyiyah berhadapan dengan realitas baru di mana ekosistem kita berubah cepat dan kompleks. Tantangan kita juga semakin kompleks, bahkan muncul berbagai realitas baru yang dulu tidak hadir, yakni revolusi teknologi informasi,” ujar Haedar.
Menurutnya, perkembangan teknologi informasi dan mobilitas sosial masyarakat telah menghadirkan tantangan baru bagi gerakan dakwah dan organisasi Islam berkemajuan.
Haedar menilai usia panjang Muhammadiyah dan ’Aisyiyah harus menjadi energi untuk terus maju, bukan justru membuat organisasi terlena dalam kenyamanan dan rutinitas.
Mengutip sebuah hadits, ia mengingatkan pentingnya menjadikan usia panjang organisasi sebagai jalan memperbanyak amal terbaik.
“Sehingga usia lebih dari satu abad Muhammadiyah dan ’Aisyiyah harus menjadi motivasi untuk melangkah ke depan yang jauh lebih baik,” tegasnya.
Ia juga menyoroti tantangan di berbagai bidang, mulai pendidikan, ekonomi, kesehatan, hingga dakwah sosial. Menurutnya, organisasi bisa tertinggal apabila tidak melakukan pembaruan secara serius.
“Semua hampir terjadi, mobilitas terjadi, di mana punya orang berkembang bahkan lebih baik dari kita, bahkan bisa jadi kita berjalan di tempat,” katanya.
Karena itu, Haedar meminta Muhammadiyah dan ’Aisyiyah membangun spirit baru serta menghindari godaan terbesar organisasi besar, yakni sikap mempertahankan status quo.
Dalam arahannya, Haedar menegaskan bahwa Muhammadiyah dan ’Aisyiyah bukan sekadar organisasi sosial keagamaan, melainkan gerakan yang memiliki misi membangun peradaban Islam berkemajuan.
“Muhammadiyah dan ’Aisyiyah hadir bukan sekadar menjalankan aktivitas organisasi, melainkan membangun masyarakat Islam yang sebenarnya,” ujarnya.
Menurut Haedar, pembangunan peradaban harus dimulai dari penguatan kebudayaan, termasuk pengembangan bahasa, kesenian, sistem pendidikan, pengetahuan, hingga ekonomi umat.
Ia mencontohkan berbagai amal usaha ’Aisyiyah seperti BUEKA dan lembaga pendidikan yang harus terus ditingkatkan kualitasnya agar mampu bersaing secara global.
“Amal usaha kita harus dibawa ke tingkat lebih tinggi, itulah yang disebut unggul atau berkemajuan,” katanya.
Haedar juga menekankan pentingnya membangun pola pikir unggul sebagaimana dicontohkan para pendiri Muhammadiyah dan ’Aisyiyah.
“Alam pikiran unggul dan maju harus kita bangun. Bagaimana yang kecil bisa menjadi kuat dan mengalahkan yang besar, apalagi yang besar masa kalah dengan yang kecil,” ujarnya.
Selain pembaruan pola pikir, ia menyoroti pentingnya manajemen perubahan dan pengembangan organisasi agar gagasan besar tidak berhenti sebagai wacana semata.
Menurutnya, potensi besar yang dimiliki ’Aisyiyah harus dimobilisasi menjadi kekuatan nyata yang memberikan dampak luas bagi masyarakat.
“’Aisyiyah besar potensinya, tapi jangan biarkan potensi itu laten tersimpan di bawah. Harus diubah menjadi potensi yang termanifest,” tegasnya.
Menutup arahannya, Haedar mengingatkan agar organisasi menghindari aktivitas yang terlalu simbolik dan lebih fokus pada gerakan nyata yang produktif serta berdampak langsung bagi umat.
Pengarahan tersebut menjadi refleksi penting dalam Milad ke-109 ’Aisyiyah untuk memperkuat dakwah kemanusiaan dan membangun gerakan perempuan Islam yang adaptif, maju, dan mampu menjawab tantangan global masa depan. (*)

