MAGELANG, MENARA62.COM – DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jawa Tengah dan DPD IMM DIY menggandeng Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI untuk mencetak relawan masa depan yang tangguh dan adaptif menghadapi tantangan kebencanaan.
Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui pengukuhan Holistic IMM Care Kawan Relawan Muhammadiyah yang digelar di Hotel Atria Magelang, Ahad (24/5/2026). Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat kapasitas mahasiswa di bidang kemanusiaan dan manajemen bencana.
Acara tersebut dihadiri Staf Ahli Bidang Manajemen Talenta Kemendikdasmen Dr. Mariman Darto, Direktur Kursus dan Pelatihan Ditjen Pendidikan Vokasi Kemendikdasmen Dr. Yaya Sutarya, serta Rektor Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) Dr. Lilik Andriyani.
Jihad Kemanusiaan Berbasis Kompetensi
Dalam sambutannya, Mariman Darto menegaskan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam penanggulangan bencana tidak cukup hanya bermodal semangat sosial, tetapi juga membutuhkan kompetensi ilmiah dan mental yang kuat.
“Peran IMM dalam penanggulangan bencana bukan sekadar aksi sosial biasa. Ini adalah jihad kemanusiaan yang membutuhkan perpaduan antara kompetensi ilmiah, kekuatan spiritual, dan ketangguhan mental,” ujarnya.
Menurutnya, tantangan kebencanaan saat ini semakin kompleks sehingga diperlukan relawan muda yang memiliki kesiapan menyeluruh, mulai dari kemampuan teknis hingga ketahanan psikologis.
Ia menambahkan, kolaborasi IMM Jateng dan IMM DIY sejalan dengan program manajemen talenta nasional yang bertujuan mengembangkan kapasitas generasi muda secara profesional untuk mendukung ketahanan nasional dalam situasi darurat.
Fokus Penguatan Life Skills Relawan
Direktur Kursus dan Pelatihan Kemendikdasmen, Yaya Sutarya, menegaskan pihaknya siap mendukung pelatihan relawan berbasis kebutuhan masyarakat dan kondisi lapangan.
“Direktorat Kursus dan Pelatihan mendukung pelatihan berbasis kebutuhan masyarakat, mendorong peningkatan kompetensi relawan, dan mengembangkan pendidikan kecakapan hidup atau life skills,” jelasnya.
Yaya menekankan bahwa relawan profesional harus dibentuk melalui pelatihan yang terstruktur dan berkelanjutan agar mampu bekerja efektif saat kondisi darurat terjadi.
“Relawan yang tangguh lahir dari pelatihan yang terstruktur dan berkelanjutan. Dengan keterampilan relawan menyelamatkan, dengan empati relawan menguatkan,” katanya.
Jadi Role Model Gerakan Relawan Mahasiswa
Sementara itu, Rektor UNIMMA Lilik Andriyani mengapresiasi kolaborasi lintas wilayah antara IMM Jateng dan IMM DIY yang dinilai mampu melahirkan model gerakan kemanusiaan mahasiswa yang lebih profesional.
Sinergi antara organisasi kepemudaan, perguruan tinggi, dan kementerian tersebut diharapkan menjadi contoh gerakan relawan mahasiswa berbasis kompetensi di Indonesia.
Selain memperkuat solidaritas sosial, program ini juga diarahkan untuk membangun ekosistem tanggap bencana yang inklusif, profesional, dan berkelanjutan di tengah meningkatnya risiko bencana nasional. (*)

