BANDUNG, MENARA62.COM – Perilaku tantrum pada anak kerap disalahartikan sebagai bentuk kenakalan atau kurangnya disiplin. Padahal, ledakan emosi tersebut merupakan bagian dari proses perkembangan otak yang masih berlangsung dan membutuhkan respons yang tepat dari orang tua, terutama di tengah tantangan pengasuhan pada era digital.
Hal itu disampaikan dosen Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, Dr. Esty Fatinisna, S.Psi., S.Pd., M.Pd., dalam Seminar Hari Anak Nasional bertajuk “Menyikapi Perilaku Tantrum Anak di Era Digital” yang digelar Prodi PIAUD UM Bandung, Senin (27/7/2026).
Menurut Esty, memahami tantrum tidak cukup hanya dari perilaku yang tampak. Orang tua juga perlu memahami perkembangan otak, kondisi psikologis, serta pengaruh lingkungan digital terhadap kemampuan anak mengelola emosi.
“Tantrum merupakan kondisi yang masih tergolong wajar, terutama pada anak usia dua hingga tiga tahun. Pada fase ini, anak belum memiliki kemampuan yang matang untuk mengendalikan emosi maupun menyampaikan keinginannya secara verbal,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan orang tua untuk lebih waspada apabila tantrum berlangsung terlalu lama, terjadi berulang dengan intensitas tinggi pada usia yang lebih besar, atau sampai membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
Tantrum Berkaitan dengan Perkembangan Otak
Esty menjelaskan, dari perspektif neurosains, saat anak mengalami tantrum, bagian otak amigdala yang mengatur respons emosi bekerja lebih dominan dibandingkan korteks prefrontal, yaitu bagian otak yang berperan dalam logika, pengambilan keputusan, dan pengendalian diri.
Akibatnya, anak belum mampu berpikir rasional ketika sedang mengalami ledakan emosi.
“Kondisi inilah yang membuat anak belum mampu berpikir rasional ketika sedang mengalami ledakan emosi. Oleh karena itu, memarahi atau menghukum anak saat tantrum justru tidak akan menyelesaikan masalah,” jelasnya.
Era Digital Hadirkan Tantangan Baru
Selain faktor perkembangan otak, Esty menilai era digital turut membawa tantangan baru dalam pengasuhan. Paparan layar yang berlebihan dapat mengurangi kesempatan anak berinteraksi secara langsung, berkomunikasi, dan mengembangkan kemampuan sosial maupun regulasi emosi.
Ia menambahkan, anak-anak Generasi Alpha memiliki kemampuan belajar visual yang sangat cepat karena tumbuh bersama teknologi. Namun, tanpa pendampingan yang tepat, mereka juga berisiko mengalami ketergantungan terhadap gawai, menurunnya empati, hingga munculnya perilaku individualistis.
“Mereka tumbuh dalam lingkungan yang sangat terhubung dengan teknologi. Namun, pada sisi lain, mereka juga berisiko mengalami ketergantungan terhadap gawai, menurunnya empati, hingga munculnya perilaku individualistis apabila penggunaan teknologi tidak diimbangi dengan pendampingan yang memadai,” katanya.
Pola Asuh Hangat dan Tegas
Esty menekankan bahwa usia nol hingga enam tahun merupakan masa emas perkembangan otak. Pada periode tersebut, setiap pengalaman yang diterima anak akan membentuk jaringan saraf yang menjadi dasar kemampuan belajar, mengendalikan emosi, dan berperilaku di masa depan.
Karena itu, kualitas interaksi orang tua dan anak jauh lebih penting dibandingkan sekadar memberikan akses terhadap perangkat digital.
Ia mendorong orang tua menerapkan pola asuh otoritatif atau demokratis, yaitu hangat tetapi tetap tegas dalam menetapkan aturan. Menurutnya, orang tua harus menjadi “arsitek perkembangan” yang mampu memberikan dukungan emosional, membangun komunikasi positif, serta menjadi teladan dalam penggunaan teknologi.
Esty juga memperkenalkan tiga pilar utama digital parenting, yakni menetapkan batasan penggunaan layar secara terstruktur, mendampingi anak saat menggunakan perangkat digital, dan memberikan contoh penggunaan teknologi yang bijak.
Saat menghadapi anak yang sedang tantrum, ia mengimbau orang tua tetap tenang, mengenali penyebab emosi anak, memvalidasi perasaannya, kemudian membantu anak menenangkan diri sebelum mengajak berdiskusi mencari solusi.
“Pendekatan yang penuh empati akan membantu anak belajar mengelola emosinya secara bertahap,” tegasnya.
Aktivitas Fisik Penting untuk Regulasi Emosi
Selain pola asuh, Esty menilai aktivitas fisik juga berperan penting dalam mendukung perkembangan otak anak. Bermain di luar ruangan, berolahraga, serta berinteraksi langsung dengan keluarga dan teman sebaya menjadi cara alami untuk meningkatkan konsentrasi, melatih fleksibilitas berpikir, dan memperkuat kemampuan mengelola emosi.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan mendidik anak di era digital tidak diukur dari seberapa cepat anak menguasai teknologi, melainkan dari kemampuan keluarga membangun keseimbangan antara pemanfaatan teknologi, kedekatan emosional, dan interaksi sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui seminar ini, Prodi PIAUD UM Bandung kembali menegaskan komitmennya dalam meningkatkan literasi pengasuhan berbasis keislaman, psikologi perkembangan, neurosains, dan teknologi. Program studi tersebut juga terus menyiapkan calon pendidik anak usia dini yang profesional, adaptif, dan berkarakter Islami untuk menjawab tantangan pendidikan di era digital. (FK)
