33.5 C
Jakarta

Guru Besar UMS: Investasi Asing Bukti Indonesia Masih Menarik

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Realisasi investasi Indonesia yang mencapai Rp1.010,6 triliun pada semester I 2026 dinilai menjadi indikator kuat bahwa Indonesia masih menjadi salah satu tujuan investasi paling menjanjikan di kawasan. Capaian tersebut menunjukkan kepercayaan investor tetap tinggi di tengah ketidakpastian ekonomi global.

 

Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id, Prof. Dr. Anton Agus Setyawan, S.E., M.Si., menilai lonjakan investasi tersebut mencerminkan daya saing Indonesia yang masih kompetitif, baik di mata investor asing maupun domestik.

 

Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, realisasi investasi semester I 2026 terdiri atas Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp510 triliun atau 50,4 persen, serta Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp500 triliun atau 49,6 persen. Nilai investasi tersebut juga berhasil menyerap sekitar 1.448.862 tenaga kerja langsung, meningkat sekitar 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

 

“Ini menunjukkan bahwa dari perspektif daya saing, Indonesia masih menarik bagi investor asing. Sektor-sektor yang berkembang merupakan sektor yang memang menjadi keunggulan Indonesia, seperti pengolahan mineral, bioenergi, hingga bahan baku baterai kendaraan listrik,” ujar Anton, Senin (27/7/2026).

 

Hilirisasi Jadi Motor Investasi

 

Anton menjelaskan, pertumbuhan investasi terutama didorong sektor hilirisasi industri, seperti pengolahan mineral, bioenergi, bioetanol, dan industri manufaktur berorientasi ekspor.

 

Ia menambahkan, Singapura masih menjadi investor asing terbesar di Indonesia, disusul Hong Kong, Tiongkok, Jepang, dan Malaysia.

 

Menurutnya, daya tarik Indonesia tidak hanya bertumpu pada kekayaan sumber daya alam, tetapi juga dipengaruhi percepatan program hilirisasi, pengembangan energi terbarukan berbasis kelapa sawit dan bioetanol, kemudahan perizinan melalui sistem OSS-RBA, stabilitas ekonomi dan politik, pembangunan kawasan industri, serta semakin beragamnya negara asal investor.

 

Efisiensi Investasi Masih Jadi Pekerjaan Rumah

 

Meski optimistis, Anton mengingatkan pemerintah masih perlu meningkatkan efisiensi investasi melalui perbaikan Incremental Capital Output Ratio (ICOR).

 

Menurutnya, nilai ICOR Indonesia yang masih berada di kisaran tujuh menunjukkan bahwa kebutuhan modal untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi masih relatif lebih besar dibandingkan sejumlah negara di kawasan, seperti Thailand dan Vietnam.

 

Ia menilai, peningkatan efisiensi dapat ditempuh melalui transformasi digital, inovasi, dan pemanfaatan teknologi dalam tata kelola pemerintahan maupun dunia usaha.

 

Digitalisasi layanan perizinan hingga sistem perpajakan dinilai mampu mempercepat proses administrasi, meningkatkan transparansi, serta menekan praktik korupsi dan pungutan liar yang selama ini menjadi sumber inefisiensi investasi.

 

Perguruan Tinggi Harus Siapkan SDM Multiskill

 

Anton juga mengapresiasi kebijakan pemerintah yang konsisten mendorong hilirisasi industri dan memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dengan dunia usaha dalam menghasilkan riset terapan.

 

Menurutnya, tantangan berikutnya adalah mempercepat hilirisasi dari tahap prototipe menuju produksi massal agar mampu meningkatkan nilai tambah ekspor dan daya saing industri nasional.

 

Sebagai institusi pendidikan tinggi, UMS dinilai memiliki peran penting dalam menyiapkan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan industri masa depan.

 

“Perguruan tinggi, terutama UMS, perlu terus melakukan transformasi agar mampu menghasilkan lulusan yang multiskill sesuai kebutuhan industri. Dunia bisnis berubah sangat cepat sehingga kurikulum juga perlu adaptif terhadap perkembangan teknologi dan digitalisasi,” ungkapnya.

 

Anton menegaskan, lulusan perguruan tinggi saat ini tidak cukup hanya menguasai kompetensi akademik. Dunia industri juga membutuhkan kemampuan bahasa asing, literasi digital, pemanfaatan Artificial Intelligence (AI), serta keterampilan lintas disiplin.

 

Optimistis Prospek Investasi Indonesia

 

Selain menyiapkan SDM unggul, Anton mendorong perusahaan nasional memperkuat kegiatan Research and Development (R&D), meningkatkan inovasi produk, serta memanfaatkan kehadiran investor asing untuk masuk dalam rantai pasok global.

 

Ia meyakini langkah tersebut akan melahirkan lebih banyak produk dan merek lokal yang mampu bersaing di pasar internasional.

 

Di tengah dinamika geopolitik global, Anton tetap optimistis prospek investasi Indonesia akan terus tumbuh apabila didukung kepastian hukum, infrastruktur berkualitas, ketersediaan energi bersih, tenaga kerja terampil, hubungan industrial yang kondusif, serta kebijakan yang mendorong investasi di sektor padat karya.

 

Menurutnya, sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan perguruan tinggi menjadi kunci untuk memperkuat daya saing ekonomi nasional sekaligus menciptakan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!