MAGELANG, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) memperkuat budaya kesiapsiagaan bencana di lingkungan pendidikan melalui pendampingan implementasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Ngadipuro, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang. Program ini menjadi langkah strategis untuk menciptakan madrasah yang tangguh menghadapi ancaman bencana alam di kawasan rawan Gunung Merapi.
Kegiatan yang berlangsung pada Jumat (24/7/2026) tersebut melibatkan seluruh guru, perwakilan komite madrasah, serta tokoh masyarakat sekitar. Pendampingan merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) UNIMMA yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun 2026.
Tim PkM dipimpin Dr. Kanthi Pamungkas Sari, M.Pd., dengan anggota Dr. Ahwy Oktradiksa, M.Pd.I., dan Ns. Nurul Hidayah, M.S. Mereka mengusung program bertema Pemberdayaan bagi Civitas Akademika MIM Ngadipuro melalui Pendidikan Kebencanaan Berbasis Social Responsibility untuk Membangun Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Alam Multihazard.
Dalam pelaksanaannya, implementasi SPAB difokuskan pada tiga pilar utama, yakni penyediaan fasilitas belajar yang aman, penguatan manajemen keselamatan dan kesinambungan pendidikan, serta pendidikan pengurangan risiko bencana dan penguatan resiliensi warga madrasah.
Selain menerima materi, peserta juga melakukan self-assessment terhadap kondisi madrasah, menyusun peta risiko dan jalur evakuasi, serta membentuk Tim Siaga Bencana Madrasah sebagai langkah awal membangun sistem kesiapsiagaan yang berkelanjutan.
Hasil Focus Group Discussion (FGD) menunjukkan MIM Ngadipuro memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap berbagai ancaman bencana. Lokasinya yang berada di Kawasan Rawan Bencana (KRB) II Gunung Merapi membuat madrasah berpotensi terdampak erupsi gunung api, angin kencang, tanah longsor, hingga gempa tektonik akibat aktivitas sesar aktif.
Ketua Tim PkM UNIMMA, Dr. Kanthi Pamungkas Sari, menegaskan bahwa guru memiliki peran penting dalam memastikan keselamatan peserta didik ketika terjadi bencana.
“Setiap guru harus memahami peta risiko bencana di lingkungan madrasah atau sekolahnya. Memahami peta risiko bukan sekadar pilihan, melainkan kewajiban moral bagi setiap guru,” tegasnya.
Menurut Kanthi, pemahaman terhadap jalur evakuasi juga menjadi faktor penentu dalam situasi darurat.
“Ketika lantai tiba-tiba bergetar atau terjadi angin kencang, tidak ada waktu untuk bertanya harus lari ke mana. Jalur evakuasi yang jelas adalah selisih tipis antara kepanikan dan penyelamatan yang tepat waktu,” ujarnya.
Ia menambahkan, budaya keselamatan harus menjadi bagian yang melekat dalam proses pendidikan sehari-hari, bukan hanya diterapkan saat pelatihan berlangsung.
“Anak berhak belajar dengan rasa aman, bukan sesekali, tetapi setiap hari. Manajemen keselamatan yang berkelanjutan adalah wujud nyata dari hak tersebut,” katanya.
Melalui pendampingan implementasi SPAB berbasis social responsibility ini, UNIMMA berharap MIM Ngadipuro mampu membangun sistem kesiapsiagaan bencana yang berkelanjutan serta menciptakan lingkungan belajar yang aman, tangguh, dan siap menghadapi berbagai potensi bencana. Program ini juga menegaskan komitmen UNIMMA dalam menghadirkan pengabdian kepada masyarakat yang berdampak nyata bagi peningkatan kapasitas dan ketahanan komunitas, khususnya di wilayah rawan bencana lereng Merapi. (*)

