JAKARTA, MENARA62.COM — Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia, Buya Amirsyah Tambunan, menegaskan bahwa relawan kemanusiaan merupakan wujud nyata Islam rahmatan lil ‘alamin yang menghadirkan manfaat bagi seluruh umat manusia. Para relawan yang mendedikasikan waktu, tenaga, serta keahliannya di bidang kesehatan, jurnalistik, dan sosial secara sukarela memiliki peran penting dalam membantu korban krisis kemanusiaan akibat kebiadaban Zionis Israel di Gaza, Palestina.
Hal tersebut disampaikan Buya Amirsyah Tambunan dalam kegiatan konferensi pers dan tasyakuran kepulangan relawan kemanusiaan Gaza di Kantor Majelis Ulama Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa (26/5/2026).
Menurut Buya Amirsyah, keberadaan relawan memiliki arti strategis mulai dari tahap mitigasi risiko, tanggap darurat, hingga pemulihan pascakrisis kemanusiaan. Karena itu, menjadi relawan kemanusiaan membutuhkan integritas, semangat pengabdian, dan profesionalisme yang tinggi agar misi kemanusiaan dapat berjalan secara optimal.
“Mereka yang terlibat dalam aksi kemanusiaan adalah pribadi-pribadi yang menghadirkan rahmat bagi semesta. Relawan bukan sekadar membantu, tetapi juga menjaga nilai-nilai kemanusiaan, solidaritas, dan keadilan sosial,” ujarnya.
Buya Amirsyah juga menekankan pentingnya kolaborasi antara MUI, lembaga filantropi, dan organisasi kemanusiaan seperti Palang Merah Indonesia, Badan Amil Zakat Nasional, Dompet Dhuafa, dan Rumah Zakat dalam memperkuat gerakan sosial berbasis keumatan. Konsep kesukarelaan tersebut mencerminkan kepedulian terhadap kelompok rentan tanpa mengharapkan imbalan.
Ke depan, menurutnya, diperlukan semakin banyak tenaga profesional yang terlibat dalam program kemanusiaan, pendidikan, dan bantuan darurat bersama berbagai lembaga sosial lainnya. Keterlibatan langsung dalam program kemanusiaan berbasis keumatan diharapkan menjadi manifestasi nyata Islam rahmatan lil ‘alamin.
Buya Amirsyah turut mengapresiasi sembilan WNI relawan misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) yang telah menunjukkan kepedulian terhadap rakyat Gaza, Palestina. Para relawan tersebut dinilai telah membuktikan komitmen kemanusiaan bangsa Indonesia dalam mendukung perjuangan rakyat Palestina.
“Kita harus terus mendukung perjuangan kemanusiaan untuk Palestina. Bangsa Indonesia memiliki hubungan historis dan hutang budi kepada Palestina yang sejak awal mendukung kemerdekaan Indonesia,” katanya.
MUI juga bersyukur karena sembilan relawan WNI telah kembali dengan selamat ke Tanah Air pada 24 Mei 2026 setelah melalui proses negosiasi yang panjang menyusul pencegatan kapal bantuan oleh militer Israel di perairan internasional pada 18 Mei 2026.
Buya Amirsyah menyampaikan terima kasih kepada Menteri Luar Negeri RI, Sugiono beserta seluruh pihak terkait atas upaya diplomasi dan koordinasi intensif yang dilakukan sehingga para relawan dapat dipulangkan dengan selamat. Keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja sama antara Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dengan sejumlah perwakilan RI di Ankara, Istanbul, Amman, Kairo, dan Roma serta dukungan Pemerintah Turki.
Atas insiden tersebut, MUI bersama pemerintah dan berbagai NGO mengecam keras tindakan penyanderaan serta perlakuan tidak manusiawi terhadap para relawan kemanusiaan. Pencegatan kapal bantuan di perairan internasional dan penahanan relawan dinilai sebagai tindakan sewenang-wenang yang melanggar hukum laut internasional dan prinsip-prinsip kemanusiaan.
“MUI mengutuk keras tindakan penahanan terhadap relawan kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF). Aksi tersebut tidak dapat dibenarkan karena misi yang mereka jalankan adalah misi kemanusiaan untuk membantu rakyat Gaza,” tegasnya.
Setelah mendapat kecaman dari berbagai pihak internasional, para relawan akhirnya dibebaskan dan kembali dengan selamat ke Indonesia pada 24 Mei 2026.


