SOLO, MENARA62.COM – Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) https://www.ums.ac.id/ menyelenggarakan Kuliah Umum bertajuk “Digital Smile Design: Integrasi Estetika, Fungsi, dan Teknologi” yang dilaksanakan secara daring dan diikuti oleh mahasiswa dari Prodi Pendidikan Dokter Gigi dan Program Profesi Dokter Gigi, serta para dosen FKG UMS.
Kegiatan ini menghadirkan drg. Erlian Septiana Sari, Sp.KG, praktisi di bidang ilmu konservasi gigi, sebagai narasumber utama, dan dipandu langsung oleh drg. Ikmal Hafizi, MDSc, Sp.Ort selaku moderator.
Dalam pemaparannya, Erlian menjelaskan bahwa Digital Smile Design (DSD) merupakan salah satu inovasi penting dalam kedokteran gigi estetik yang tidak hanya berfungsi sebagai perangkat lunak untuk mendesain senyum, tetapi juga merupakan sebuah filosofi perawatan (treatment philosophy) yang memanfaatkan teknologi digital untuk menghasilkan perawatan yang lebih terukur, prediktif, komunikatif, dan berpusat pada pasien (patient-centered care).
“Digital Smile Design sebenarnya bukan sekadar software desain senyum, melainkan sebuah cara berpikir dalam kedokteran gigi estetik yang menggunakan data digital untuk membuat perawatan lebih terukur, prediktif, komunikatif, dan berorientasi pada kebutuhan pasien,” jelasnya, Sabtu (30/5).
Ia juga memaparkan filosofi dasar DSD yang dikenal sebagai Facially Driven Treatment, yaitu pendekatan perawatan yang dimulai dari analisis wajah dan senyum pasien untuk menentukan hasil estetik yang ideal sebelum merencanakan tahapan tindakan klinis yang diperlukan.
“Pendekatan ini berbeda dengan metode konvensional yang umumnya berfokus pada perbaikan gigi terlebih dahulu dan baru kemudian mengevaluasi hasil estetiknya,” tambahnya.
Menurutnya, wajah menjadi referensi utama dalam proses perencanaan perawatan karena senyum yang ideal tidak hanya ditentukan oleh bentuk dan warna gigi, tetapi juga oleh kesesuaiannya dengan karakteristik wajah pasien secara keseluruhan.
Selanjutnya, Erlian juga menjelaskan pentingnya facial analysis sebagai bagian integral dari DSD. Analisis tersebut mencakup evaluasi garis tengah wajah (facial midline), proporsi vertikal wajah (facial thirds), simetri wajah (facial symmetry), dan analisis profil (profile analysis).
“Melalui analisis tersebut, dokter gigi dapat memahami hubungan antara gigi, gusi, bibir, dan struktur wajah sehingga mampu merancang perawatan yang menghasilkan harmoni estetika dan fungsi yang optimal,” ujarnya
Lebih jauh, Erlian menegaskan bahwa keberhasilan rehabilitasi estetik tidak hanya ditentukan oleh aspek visual, tetapi juga harus mempertimbangkan fungsi pengunyahan, kesehatan jaringan pendukung, serta kenyamanan pasien. Karena itu, DSD mengintegrasikan berbagai unsur, mulai dari ilmu pengetahuan, seni, analisis digital, hingga kolaborasi multidisiplin dalam proses perawatan.
Sesi kuliah umum ini sangat dinanti oleh mahasiswa. Antusiasme mahasiswa terlihat dari sesi diskusi yang berlangsung aktif. Berbagai pertanyaan diajukan terkait implementasi Digital Smile Design dalam praktik klinis, pemanfaatan teknologi digital dalam konservasi gigi, hingga tantangan pengembangan digital dentistry di Indonesia.
Melalui Kuliah umum ini menjadi wujud komitmen FKG UMS dalam mempersiapkan lulusan yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mampu memberikan pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang berkualitas melalui pendekatan yang mengintegrasikan estetika, fungsi, dan teknologi secara komprehensif. (*)

