32 C
Jakarta

Wamendikdasmen Fajar Riza Kenang Jejak Haedar Nashir di Cintawana

Baca Juga:

TASIKMALAYA, MENARA62.COM – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) RI, Fajar Riza Ul Haq, melakukan silaturahmi ke Pesantren Cintawana, Tasikmalaya, Jawa Barat, usai menghadiri Wisuda Takrimun Najihin di Pesantren Muhammadiyah Al Furqon Singaparna, Ahad (7/6/2026).

 

Kunjungan tersebut menjadi momen istimewa bagi Fajar Riza Ul Haq karena menghubungkan kembali jejak keilmuan dan silaturahmi yang selama ini ia dengar dari Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, .

 

Pesantren Muhammadiyah Al Furqon dan Pesantren Cintawana berada di kawasan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, yang dikenal sebagai salah satu pusat perkembangan pendidikan Islam di Jawa Barat. Dari Al Furqon, rombongan Wamendikdasmen melanjutkan kunjungan ke Pesantren Cintawana yang telah berdiri lebih dari satu abad dan melahirkan banyak tokoh nasional.

 

Dalam sambutannya, Fajar mengungkapkan bahwa salah satu sosok yang banyak bercerita mengenai Pesantren Cintawana adalah Haedar Nashir. Bahkan, ia mengaku pernah mendapat pesan khusus untuk menyempatkan diri berkunjung ke pesantren tersebut apabila berada di Tasikmalaya.

 

“Salah satu yang memberi tahu saya tentang Cintawana adalah Prof. Haedar Nashir. Beliau banyak bercerita tentang pesantren ini. Bahkan beliau berpesan, kalau ke Tasikmalaya, saya harus mampir ke Cintawana,” ujar Fajar.

 

Bagi alumnus Pesantren Darussalam Ciamis itu, kunjungan tersebut memiliki makna lebih dari sekadar agenda silaturahmi. Ia merasakan adanya keterhubungan batin melalui mata rantai keilmuan pesantren yang selama ini menjadi fondasi pendidikan Islam di Indonesia.

 

“Setelah saya mendengar beberapa alumni yang disebut Pak Kiai Asep tadi, rupanya nasab keilmuan saya nyambung. Karena itu saya merasa memiliki hubungan batin dengan pesantren ini,” ungkapnya.

 

Kedatangan Wamendikdasmen disambut langsung oleh Pimpinan Pesantren Cintawana, KH Asep Ahmad Suja’i. Ia menyampaikan rasa syukur dan kebahagiaan atas kunjungan tersebut yang dinilai sebagai kehormatan bagi keluarga besar pesantren.

 

“Alhamdulillah Pak Wamen bisa bersilaturahmi kepada kami. Ini anugerah bagi kami. Ahlan wa sahlan, selamat datang di Pesantren Cintawana,” kata KH Asep.

 

Dalam kesempatan itu, KH Asep memaparkan sejarah panjang Pesantren Cintawana yang berdiri sejak 1917 dan telah berkontribusi dalam bidang pendidikan, dakwah, serta perjuangan kebangsaan. Pesantren tersebut dikenal sebagai tempat lahirnya sejumlah tokoh penting bangsa, di antaranya , , hingga Haedar Nashir.

 

Menurut KH Asep, Pesantren Cintawana tidak berafiliasi secara formal dengan organisasi Islam tertentu. Namun, pesantren memberikan kebebasan kepada santri dan alumninya untuk berkiprah di berbagai organisasi selama membawa manfaat bagi masyarakat.

 

“Kami membolehkan santri aktif di mana pun selama membawa manfaat dan kemaslahatan,” ujarnya.

 

Di hadapan para santri, Fajar kemudian memberikan motivasi agar mereka bangga menjadi bagian dari pesantren yang memiliki sejarah panjang dalam melahirkan pemimpin dan tokoh bangsa.

 

“Ade-ade harus berbangga. Pondok ini telah melahirkan banyak tokoh besar bangsa. Jadilah orang yang bermanfaat bagi orang banyak,” pesannya.

 

Fajar juga mengenang masa-masa pendidikannya di pesantren. Menurutnya, kehidupan pesantren mengajarkan banyak nilai penting, mulai dari kemandirian, kedisiplinan, penghormatan kepada guru, hingga menjadikan ilmu sebagai sarana pengabdian.

 

“Di pesantren kita belajar hidup mandiri, belajar disiplin, belajar menghormati ilmu dan para kiai. Karena itu ilmu yang diperoleh menjadi ilmu yang berkah,” tuturnya.

 

Ia menilai nilai-nilai tersebut semakin relevan di tengah perkembangan teknologi dan perubahan zaman yang berlangsung cepat. Karena itu, santri perlu terus membangun etos keilmuan, memperkuat keterampilan, dan meningkatkan kapasitas kepemimpinan agar mampu bersaing di masa depan.

 

Menurut Fajar, alumni pesantren memiliki modal besar untuk menghadapi berbagai tantangan karena telah ditempa dengan ketahanan mental, kedisiplinan, dan karakter yang kuat.

 

“Alumni pesantren bisa bersaing dengan siapa pun. Pesantren punya kelebihan dalam membentuk ketahanan, kedisiplinan, dan karakter. Modal itu sangat penting untuk menghadapi masa depan,” tegasnya.

 

Menutup pesannya, Fajar mengajak para santri untuk terus belajar dan beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang bergerak sangat cepat.

 

“Kuatkan etos keilmuan. Bangun mental cepat belajar. Ilmu pengetahuan berkembang sangat cepat dan manusia yang mampu beradaptasilah yang akan terus maju,” katanya.

 

Silaturahmi di Pesantren Cintawana tidak hanya menjadi kunjungan seorang pejabat negara ke lembaga pendidikan Islam, tetapi juga menjadi pengingat pentingnya menjaga mata rantai keilmuan, menghormati guru, dan merawat tradisi pesantren yang selama lebih dari satu abad telah melahirkan generasi pengabdi bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!