32 C
Jakarta

UMS Galakkan Zero Waste, Warga Kampus Wajib Tumbler

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id semakin memperkuat komitmennya dalam mewujudkan kampus yang bersih, sehat, dan berkelanjutan melalui gerakan Zero Waste Campus dan hemat energi. Program tersebut menjadi bagian dari upaya kampus mengurangi sampah plastik sekaligus membangun budaya peduli lingkungan di kalangan sivitas akademika.

 

Komitmen tersebut dituangkan dalam Surat Edaran Nomor 358/U/A.7-11/V/2026 tentang Zero Waste dan Hemat Energi yang ditujukan kepada seluruh unsur kampus, mulai dari pimpinan unit, dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa.

 

Rektor UMS, , mengajak seluruh warga kampus untuk memulai perubahan dari langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

 

“Bapak Ibu, mari kita sama-sama mewujudkan Zero Waste Campus UMS. Dimulai dari yang sederhana dulu, selalu membawa tumbler, mengurangi penggunaan plastik, serta memilah dan mengolah sampah,” ujarnya, Senin (8/6).

 

Melalui kebijakan tersebut, UMS menegaskan komitmennya untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, meningkatkan kesadaran pemilahan sampah, serta mendorong penggunaan energi secara lebih efisien di lingkungan kampus.

 

Salah satu langkah konkret yang didorong adalah mengurangi penggunaan botol plastik kemasan sekali pakai. Seluruh sivitas akademika diimbau membawa tumbler pribadi sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan.

 

Selain itu, warga kampus juga diminta membiasakan diri memilah sampah sesuai jenisnya sejak dari sumber. Langkah ini dinilai penting agar proses pengelolaan dan daur ulang sampah dapat berjalan lebih efektif.

 

Tidak hanya fokus pada pengurangan sampah, gerakan tersebut juga mencakup upaya penghematan energi. UMS mengimbau seluruh warga kampus untuk mematikan lampu, pendingin ruangan (AC), komputer, dan perangkat elektronik lainnya setelah digunakan.

 

Pemanfaatan cahaya alami serta sirkulasi udara alami juga dianjurkan untuk mengurangi konsumsi energi listrik di lingkungan kampus.

 

Menurut Harun, keberhasilan program Zero Waste Campus tidak hanya bergantung pada regulasi yang diterbitkan kampus, tetapi juga pada kesadaran dan partisipasi aktif seluruh warga kampus.

 

“Perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil. Dengan membawa tumbler, mengurangi plastik, memilah sampah, dan menggunakan energi secara bijak, kita telah berkontribusi dalam menciptakan lingkungan kampus yang lebih sehat dan berkelanjutan,” ungkapnya.

 

Sementara itu, Kepala Divisi Perencanaan dan Pengembangan Sumber Daya UMS, , menegaskan bahwa konsep zero waste tidak hanya dimaknai sebagai pengurangan botol plastik sekali pakai, tetapi juga memastikan setiap barang yang dimiliki benar-benar digunakan secara optimal.

 

Menurutnya, berbagai kegiatan kampus sering memberikan merchandise berupa tumbler. Namun apabila tumbler tersebut hanya disimpan dan tidak digunakan, maka tujuan pengurangan limbah tidak akan tercapai secara maksimal.

 

“Setiap kegiatan atau event kita sering kali memberikan merchandise berupa tumbler. Namun jika tumbler tersebut terlalu banyak dan akhirnya tidak digunakan, itu juga dapat menjadi limbah baru. Semangatnya bukan sekadar memiliki tumbler, tetapi menggunakannya secara berkelanjutan,” jelasnya.

 

Ia menambahkan, perubahan perilaku menjadi faktor utama dalam mewujudkan kampus bebas sampah. Karena itu, penggunaan tumbler harus dibarengi dengan kebiasaan mengurangi plastik sekali pakai serta kesadaran memilah sampah sejak dari sumbernya.

 

Melalui gerakan Zero Waste Campus, UMS berharap dapat menjadi contoh kampus yang konsisten menerapkan prinsip keberlanjutan. Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pelestarian lingkungan dan pengurangan dampak perubahan iklim melalui tindakan nyata yang dimulai dari lingkungan kampus. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!