29.5 C
Jakarta

KSTI 2026 Hubungkan Riset Perguruan Tinggi dengan Industri Strategis Nasional

Baca Juga:

JAKARTA, MENARA62.COM – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menyelenggarakan Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 sebagai ruang dialog nasional yang mempertemukan pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan pemangku kepentingan strategis untuk membahas peran ilmu pengetahuan, teknologi, riset, dan inovasi dalam mendukung kemandirian ekonomi Indonesia, Sabtu (27/6).

Penguasaan teknologi sebagai syarat efektivitas hilirisasi yang berdampak menjadi salah satu hal yang disorot dalam forum ini. Dalam sesi Sarasehan ke-3 dengan tema Kedaulatan Teknologi oleh Chief Technology Officer (CTO) Danantara, Sigit Puji Santosa, dit ekankan bahwa investasi strategis harus diarahkan untuk membangun kemampuan teknologi nasional, mulai dari riset, pengembangan produk, hingga industrialisasi.

“Investasi perlu diarahkan untuk membangun kemampuan teknologi nasional, agar industri Indonesia tidak hanya tumbuh dari sisi kapasitas, tetapi juga mampu menghasilkan nilai tambah dan dampak ekonomi yang lebih besar,” ujar CTO Sigit.

CTO Danantara menjelaskan bahwa Danantara membangun ekosistem inovasi yang menghubungkan pendidikan tinggi, riset, investasi, dan industri. Hasil riset perguruan tinggi, menurutnya, perlu didorong hingga memasuki tahap pengembangan teknologi, validasi, industrialisasi, dan komersialisasi sehingga mampu menjawab kebutuhan nyata industri nasional.

CTO Sigit menerangkan bahwa pengembangan teknologi di Danantara dijalankan melalui tiga tahapan utama, yakni Strategic Technology Initiative untuk riset dan inovasi awal, Technology Advancement untuk pengembangan prototipe dan validasi teknologi, serta Industrialization and Commercialization untuk mengarahkan inovasi menjadi produk dan industri yang siap dimanfaatkan.

“Tanpa adanya product development dan R&D, kita tidak bisa jalan. Tiga komponen utama, yaitu pendidikan dan riset, pembiayaan investasi, serta industri harus berjalan bersama. Jika salah satunya tidak ada, maka ekosistem industri tidak akan berkembang secara optimal,” jelas CTO Danantara.

Lebih lanjut, CTO Sigit menyampaikan bahwa Danantara memprioritaskan lima sektor strategis, yaitu energi; pangan dan kesehatan; mineral dan sumber daya alam; transportasi, infrastruktur, dan digital; serta pertahanan. Pada sektor-sektor tersebut, Danantara membuka peluang kolaborasi dengan perguruan tinggi melalui pengembangan talenta, riset terapan, penguasaan teknologi, hingga pelaksanaan proyek-proyek strategis nasional.

CTO Danantara juga memaparkan sejumlah inisiatif yang sedang dikembangkan, antara lain pembangunan ekosistem kecerdasan artifisial (AI) nasional, industri semikonduktor, kendaraan listrik nasional, material maju, hilirisasi mineral strategis, pembangkit listrik tenaga surya, bioenergi, hingga pengembangan kota pintar. Seluruh program tersebut membutuhkan dukungan kapasitas riset dan sumber daya manusia unggul dari perguruan tinggi Indonesia.

Menurut CTO Danantara, Indonesia harus bergerak dari sekadar pengguna, perakit, atau pasar teknologi luar, menjadi negara yang mampu menguasai rantai nilai teknologi dari hulu hingga hilir. Penguasaan tersebut mencakup desain, rekayasa, pengembangan produk, manufaktur, hingga komersialisasi.

Dalam paparannya, CTO Danantara juga mengajak perguruan tinggi untuk terlibat aktif dalam berbagai proyek strategis yang tengah dikembangkan Danantara, khususnya pada bidang semikonduktor, elektronika, material maju, energi, kecerdasan artifisial, dan teknologi manufaktur. Menurut CTO Sigit, keberhasilan agenda industrialisasi nasional sangat bergantung pada ketersediaan talenta unggul dan inovasi yang dihasilkan kampus.

Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026 menjadi momentum untuk membangun kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan Danantara dalam menciptakan ekosistem inovasi nasional. Melalui sinergi tersebut, hasil riset diharapkan semakin banyak ditransformasikan menjadi teknologi, produk, dan industri yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional sekaligus mendukung terwujudnya kemandirian ekonomi Indonesia.

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!