JAKARTA, MENARA62.COM – Lazismu Pusat resmi melantik Barry Adhitya sebagai Direktur Utama periode 2026–2027 dalam seremoni serah terima jabatan yang digelar di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Jumat (3/7/2026). Pelantikan tersebut bertepatan dengan peringatan Milad Lazismu ke-24 yang mengusung tema “Integrasi Menguatkan Dampak”.
Penunjukan Barry Adhitya merupakan bagian dari penyegaran organisasi (tour of duty) di lingkungan Lazismu. Bersamaan dengan pelantikan tersebut, Lazismu juga meluncurkan logo resmi Milad ke-24 sebagai simbol semangat baru dalam memperkuat ekosistem zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan (ZISKA).
Sekretaris Badan Pengurus Lazismu Pusat, Gunawan Hidayat, menyampaikan bahwa pergantian kepemimpinan merupakan bagian dari proses regenerasi kelembagaan untuk memperkuat kinerja organisasi dalam menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
Dalam sambutannya, Barry Adhitya menegaskan komitmennya melanjutkan transformasi kelembagaan Lazismu sesuai rencana strategis yang telah disusun. Fokus utama diarahkan pada penguatan penghimpunan, pendistribusian, pendayagunaan, pelaporan, serta percepatan transformasi digital.
“Kami akan mengoptimalkan jejaring Lazismu di seluruh Indonesia agar tata kelola layanan semakin baik dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat melalui pendekatan berbasis data, fakta lapangan, dan pengalaman langsung,” ujar Barry.
Menurutnya, kondisi ekonomi yang penuh tantangan saat ini menuntut Lazismu menghadirkan inovasi dalam pengelolaan dana sosial. Untuk itu, ia menyiapkan empat pilar utama sebagai arah pengembangan organisasi.
Pilar pertama adalah kepatuhan syariah, dengan memastikan seluruh pengelolaan dana berjalan transparan melalui pelaporan berjenjang kepada para donatur, mitra, Kementerian Agama, Baznas, hingga Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Pilar kedua berfokus pada program yang berdampak dan berkelanjutan. Barry menilai seluruh program harus disusun berdasarkan kebutuhan riil masyarakat melalui pemanfaatan data pemerintah maupun sektor swasta. Ia juga mendorong kantor layanan Lazismu berbasis masjid tidak hanya menjadi pusat penghimpunan dana, tetapi juga mampu mendata asnaf dan menyalurkan bantuan secara lebih tepat sasaran.
Selanjutnya, pilar ketiga adalah integrasi teknologi. Barry ingin sistem digital Lazismu tidak hanya mempermudah proses donasi, tetapi juga menghadirkan layanan sosial yang mudah diakses masyarakat, layaknya penggunaan platform digital sehari-hari.
Adapun pilar keempat adalah penguatan kompetensi dan integritas amil. Menurutnya, peningkatan kualitas sumber daya manusia harus dibarengi standar kompetensi, integritas, kerendahan hati, serta kepedulian sosial yang tinggi.
“Saya memohon dukungan seluruh pihak dan mitra Lazismu. Amanah ini bukan tugas yang ringan, namun kami optimistis dapat membawa Lazismu semakin maju dan mandiri,” katanya.
Sebelum dipercaya menjadi Direktur Utama, Barry telah menjadi anggota Badan Pengurus Lazismu Pusat sejak 2015. Ia juga memiliki pengalaman panjang di bidang kemanusiaan, kesehatan, kebencanaan, serta pemberdayaan masyarakat, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Sementara itu, Direktur Utama sebelumnya, Ibnu Tsani, menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran Lazismu di Indonesia atas dukungan selama masa kepemimpinannya pada periode 2024–2026.
“Tiga tahun merupakan waktu yang sangat berharga untuk berkolaborasi bersama seluruh elemen Lazismu dalam memperkuat tata kelola kelembagaan dan meningkatkan kepercayaan masyarakat,” ujarnya.
Prosesi serah terima jabatan ditandai dengan penandatanganan berita acara yang disaksikan Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Hilman Latief, Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat Ahmad Imam Mujadid Rais, Hajriyanto Y. Thohari, serta Nizam Burhanuddin.
Dalam arahannya, Hilman Latief menekankan pentingnya penguatan tata kelola dan manajemen risiko seiring meningkatnya penghimpunan dana ZISKA.
Menurutnya, Lazismu perlu memperkuat sistem audit keuangan maupun audit syariah agar mampu menjadi salah satu lembaga filantropi Islam yang memiliki kredibilitas tinggi serta berperan besar dalam membangun ekosistem ekonomi syariah nasional.
“Semakin besar dana yang dikelola Lazismu, maka semakin besar pula tanggung jawab dalam manajemen risiko, tata kelola, dan penguatan sumber daya manusia,” kata Hilman.
Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, Ahmad Imam Mujadid Rais, menambahkan bahwa pergantian pimpinan merupakan bagian dari dinamika organisasi yang harus disikapi sebagai momentum memperkuat integrasi kelembagaan.
Ia mengungkapkan, saat ini Lazismu tengah menjalani audit keuangan oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) serta audit syariah sebagai bagian dari upaya meningkatkan akuntabilitas dan transparansi organisasi.
Memasuki usia ke-24, Lazismu menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kolaborasi, tata kelola, dan inovasi digital melalui tema “Integrasi Menguatkan Dampak”, demi memperluas manfaat bagi masyarakat dan memperkokoh ekosistem ekonomi syariah di Indonesia. (*)


