SOLO, MENARA62.COM – Edukasi mengenai proteksi diri bagi anak berkebutuhan khusus menjadi perhatian penting di tengah masih minimnya pemahaman mengenai batasan tubuh dan interaksi sosial yang aman. Menjawab kebutuhan tersebut, Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) Artemis Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id menjalankan program Smart Body Care melalui kegiatan sosialisasi di SLB Negeri Colomadu, Kabupaten Karanganyar.
Program yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) tersebut menjadi tahap awal rangkaian pengabdian masyarakat yang bertujuan memperkuat kemampuan proteksi diri siswa tunagrahita melalui pendekatan edukatif yang dipadukan dengan teknologi sensorik.
Ketua Tim PKM-PM Artemis UMS, Bima Satwika Qiyamulail, menjelaskan bahwa program ini lahir sebagai respons terhadap berbagai tantangan yang masih dihadapi siswa tunagrahita dalam memahami batasan diri, norma sosial, dan kontrol perilaku. Kondisi tersebut dinilai memerlukan pendampingan yang sistematis agar siswa mampu mengenali potensi risiko di lingkungan sekitarnya.
“Melalui Program Smart Body Care, kami menghadirkan solusi yang mengintegrasikan edukasi perlindungan diri dengan teknologi sensorik yang adaptif. Program ini terdiri atas kegiatan Kenali Tubuhku, Sentuhan Aman, Tutur Santun, Sistem Deteksi Dini Berbasis Sensorik, serta SAPA DIRI yang bertujuan membentuk lingkungan sekolah yang lebih aman dan ramah bagi siswa tunagrahita,” ungkap Bima, Kamis (2/7/2026).
Pada tahap sosialisasi, tim memperkenalkan seluruh rangkaian program kepada siswa, guru, dan orang tua. Peserta mendapatkan edukasi mengenai pentingnya mengenali bagian tubuh pribadi, memahami perbedaan sentuhan yang aman dan tidak aman, membangun komunikasi yang santun, serta meningkatkan kesadaran terhadap perlindungan diri.
Penyampaian materi dilakukan melalui pendekatan visual, simulasi sederhana, dan pendampingan langsung agar lebih mudah dipahami oleh siswa tunagrahita berusia 14 hingga 17 tahun. Selain itu, guru dan orang tua juga dibekali pemahaman agar dapat memberikan pendampingan secara berkelanjutan di lingkungan sekolah maupun di rumah.
Kepala SLB Negeri Colomadu, Sri Asih Hariani, S.Pd., menyambut positif pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, inovasi yang dihadirkan Tim PKM-PM Artemis menjadi dukungan yang relevan bagi sekolah dalam meningkatkan pendidikan proteksi diri bagi peserta didik berkebutuhan khusus.
“Kami menyambut baik program ini karena tidak hanya memberikan edukasi kepada siswa, tetapi juga melibatkan guru dan orang tua. Harapannya, upaya ini dapat membantu menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman dan mendukung perkembangan siswa secara optimal,” ujarnya.
Dosen pendamping PKM-PM Artemis UMS, Siti Azizah Susilawati, S.Si., M.P., Ph.D., menambahkan bahwa PKM-PM merupakan wujud kontribusi mahasiswa dalam menghadirkan solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat melalui inovasi dan kolaborasi.
Menurutnya, pendidikan mengenai proteksi diri bagi anak berkebutuhan khusus tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh ekosistem pendidikan. Sinergi antara mahasiswa, sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat menjadi kunci dalam membangun lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan mendukung tumbuh kembang siswa.
“Melalui Program Smart Body Care, kami berharap mampu menumbuhkan budaya perlindungan diri yang berkelanjutan di lingkungan sekolah. Selain meningkatkan pemahaman siswa mengenai batasan diri dan interaksi sosial yang sehat, program ini juga diharapkan dapat menjadi model penguatan sekolah inklusif yang aman dan ramah disabilitas,” pungkasnya. (*)
