33.7 C
Jakarta

Menghindari Lima Penyesalan Menjelang Kematian

Baca Juga:

Oleh: Suyoto, Pengajar Unmuh Gresik, Bupati Bojonegoro 2008-2018

 

MENARA62.COM – Kematian itu pasti datang pada setiap orang, namun kapan ajal itu tiba menjadi rahasia bagi kita semua. Sejak usia 30 tahun, penulis merasa tidak lama lagi ajal datang. Kesadaran akan keterbatasan waktu ini mengubah cara pandang penulis secara drastis dalam menjalani hidup. Sejak saat itu, setiap hari yang menyapa di pagi hari tidak lagi dipandang sebagai rutinitas biasa, melainkan dirasakan sebagai sebuah bonus kesempatan baru yang wajib disyukuri dan dioptimalkan dengan sebaik-baiknya.

 

Kesadaran akan kematian (memento mori) ini ternyata adalah berkah tersembunyi. Ketika kita hidup dengan menyadari bahwa hari ini bisa jadi merupakan hari terakhir kita, prioritas hidup kita akan tersaring secara alami. Kita tidak akan lagi membuang-buang energi untuk hal-hal yang semu. Sebaliknya, kita akan berfokus pada apa yang benar-benar bermakna dalam: hubungan antarmanusia, kontribusi sosial, dan spiritualitas.

 

Menariknya, fenomena psikologis manusia di akhir hayat pernah dirangkum dengan apik oleh Bronnie Ware, seorang perawat paliatif asal Australia, dalam bukunya yang monumental, The Top Five Regrets of the Dying. Selama bertahun-tahun mendampingi pasien yang berada di ambang ajal, ia mencatat lima penyesalan terbesar yang paling sering diucapkan manusia sebelum napas terakhir mereka.

 

Sebagai seorang muslim, penulis melihat bahwa kelima penyesalan tersebut sebenarnya dapat dicegah sedini mungkin jika kita merefleksikan dan mengamalkan ajaran Islam secara kafah. Islam telah menyediakan panduan preventif agar kita tidak terjebak dalam lubang penyesalan yang sama.

 

Pertama, penyesalan karena hidup demi ekspektasi orang lain. Banyak orang di akhir hayatnya menangis karena menyadari mereka tidak pernah menjadi diri sendiri, melainkan hidup demi memakai “topeng” yang diinginkan lingkungan atau masyarakat. Dalam Islam, obat dari penyakit mental ini adalah ikhlas dan hanya mencari rida Allah SWT. Allah berfirman dalam QS. Al-An’am ayat 162: “Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.'” Ketika rida Allah yang menjadi kompas utama, kita merdeka dari dikte opini manusia. Imam Syafi’i pun pernah menasihati kita dengan kalimat yang sangat mendalam: “Rida manusia adalah tujuan yang tidak akan pernah tercapai. Maka sibukkanlah dirimu dengan apa yang memperbaiki urusanmu.”

 

Kedua, penyesalan karena bekerja terlalu keras tanpa keseimbangan. Sungguh tragis ketika di penghujung usia seseorang baru menyadari bahwa mereka telah menukar waktu-waktu berharga bersama anak, pasangan, keluarga dan sosialnya demi mengejar materi atau karier yang egois. Islam adalah agama yang menjunjung tinggi keseimbangan (tawazun). Bekerja mencari nafkah adalah ibadah, namun menelantarkan keluarga demi ambisi duniawi adalah sebuah kezaliman. Rasulullah ï·º bersabda menegaskan hak keluarga: “Sesungguhnya Tuhanmu memiliki hak atasmu, dirimu memiliki hak atasmu, dan keluargamu memiliki hak atasmu. Maka berikanlah kepada setiap yang memiliki hak itu haknya masing-masing” (HR. Bukhari).

 

Ketiga, penyesalan karena memendam perasaan. Menekan emosi, enggan meminta maaf, atau gengsi menyatakan kasih sayang sering kali menyisakan ganjalan batin yang dibawa sampai mati. Islam sangat mendorong umatnya untuk hidup dalam kejujuran (ash-shidq) dan keterbukaan emosional yang positif. Jika kita mencintai seseorang karena Allah, katakanlah. Rasulullah ï·º menganjurkan, “Jika salah seorang di antara kalian mencintai saudaranya, hendaklah ia memberi tahu saudaranya bahwa ia mencintainya” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi). Sebaliknya, memendam dendam atau kejengkelan hanya akan mengotori hati, yang menurut Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, menjadi pembajak kedamaian batin di akhir hayat. Langkah pertama penjatkan doa positif pada setiap orang istemewa anda, termasuk orang masum dalam daftar kurang disukai

 

Keempat, penyesalan karena memutuskan hubungan dengan teman lama. Kesibukan sering kali membuat kita abai pada merawat persahabatan, hingga akhirnya sahabat-sahabat sejati menghilang ditelan waktu. Dalam Islam, menjaga hubungan ini dikonsepkan secara sakral melalui urusan silaturahim. Hubungan persaudaraan yang tulus bukan sekadar urusan sosial, melainkan urusan iman. Rasulullah ï·º menjanjikan keberkahan luar biasa bagi mereka yang merawat hubungan ini: “Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturahim” (HR. Bukhari dan Muslim). Dipanjangkan umur di sini, menurut para ulama, berarti umurnya berkah, penuh memori indah, dan kebaikannya terus dikenang bahkan setelah ia tiada.

 

Kelima, penyesalan karena tidak membiarkan diri sendiri bahagia. Banyak orang terjebak dalam ketakutan akan perubahan dan kenyamanan palsu, hingga lupa bahwa kebahagiaan adalah sebuah pilihan yang harus dijemput. Islam mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati (hayatan thayyibah) bersumber dari ketenangan hati yang rida dan bersyukur atas ketentuan Allah, bukan dari faktor eksternal. Rasulullah ï·º mengingatkan kita, “Kekayaan yang sejati bukanlah banyaknya harta benda, melainkan kekayaan jiwa” (HR. Bukhari dan Muslim). Ketika jiwa kita kaya dengan rasa syukur, kita tidak akan menunda kebahagiaan hingga hari esok.

 

Pada akhirnya, hidup yang dijalani dengan kesadaran penuh akan kematian (muraqabah) adalah kunci utama untuk meraih husnul khatimah—akhir kehidupan yang baik dan indah. Saat setiap hari ini Allah SWT memberikan “bonus kesempatan baru” berupa napas dan waktu, itulah moment untuk evaluasi kembali perjalanan hidup kita. Jangan tunggu sampai ajal mengetuk pintu untuk menyadari apa yang benar-benar berharga. Seperti pesan mulia dari Khalifah Umar bin Khattab: “Hisablah (evaluasilah) dirimu hari ini sebelum kalian dihisab di hari akhir kelak.”

 

Salam sehat bahagia

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!