SEMARANG, MENARA62.COM – Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Komunikasi dan Informatika (FKI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id memperkuat pengembangan kurikulum berbasis kebutuhan industri dengan melakukan benchmarking ke Kantor Berita ANTARA Biro Jawa Tengah, Rabu (22/7/2026).
Kunjungan ini menjadi bagian dari rangkaian penyusunan kurikulum yang lebih adaptif terhadap perkembangan dunia media, setelah sebelumnya Prodi Ilmu Komunikasi UMS melakukan benchmarking ke Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro (Undip).
Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UMS, Sidiq Setyawan, S.I.Kom., M.I.Kom., mengatakan masukan dari pelaku industri media menjadi bekal penting dalam menyusun kurikulum yang mampu menjawab tantangan dunia kerja.
“Kami sedang mengembangkan kurikulum berbasis kebutuhan industri. Karena itu, kami ingin mendapatkan masukan mengenai kompetensi yang saat ini dibutuhkan sehingga lulusan semakin siap memasuki dunia kerja,” ujarnya, Kamis (23/7/2026).
Dalam diskusi tersebut, Kepala Biro ANTARA Jawa Tengah, Teguh Imam Wibowo, S.T., menyoroti pesatnya perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) yang membawa perubahan besar dalam industri media.
Menurutnya, AI harus dimanfaatkan sebagai alat pendukung untuk meningkatkan produktivitas, bukan menggantikan peran manusia dalam proses jurnalistik.
Ia menegaskan bahwa kemampuan melakukan verifikasi informasi tetap menjadi kompetensi utama yang wajib dimiliki calon jurnalis di tengah derasnya arus informasi digital.
“Mahasiswa di bidang jurnalistik perlu disadarkan tentang pentingnya verifikasi. Hal ini tidak bisa ditawar sebagai salah satu kompetensi di dunia jurnalistik,” kata Teguh.
Senada dengan itu, Redaktur Foto ANTARA Jawa Tengah, Rahmadi Rekotomo, menilai perguruan tinggi harus tetap memperkuat penguasaan dasar-dasar jurnalistik, terutama kemampuan menulis sesuai kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Menurutnya, keterampilan menulis yang benar menjadi fondasi penting sebelum mahasiswa mengembangkan kompetensi lain di bidang komunikasi maupun jurnalistik.
“Dasar penulisan yang baku dan benar harus diajarkan kepada mahasiswa sebagai bekal untuk melangkah lebih jauh ke berbagai profesi, khususnya jurnalistik,” ujarnya.
Tak hanya membahas bidang jurnalistik, diskusi juga mengulas kompetensi yang dibutuhkan lulusan konsentrasi Public Relations (PR). ANTARA menilai mahasiswa PR perlu memiliki kemampuan membangun media relations yang humanis, menyusun press release yang memiliki nilai berita, serta menghasilkan foto yang memenuhi standar jurnalistik.
Masukan tersebut diharapkan menjadi referensi bagi UMS dalam menyempurnakan kurikulum agar lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri komunikasi dan media yang terus berkembang.
Kegiatan benchmarking ditutup dengan penyerahan cendera mata dari Prodi Ilmu Komunikasi FKI UMS kepada Kantor Berita ANTARA Biro Jawa Tengah sebagai simbol penguatan sinergi antara dunia akademik dan industri media.
Melalui kolaborasi ini, UMS berharap dapat menghadirkan kurikulum yang lebih relevan dengan perkembangan industri, sehingga lulusan Ilmu Komunikasi memiliki daya saing tinggi, adaptif terhadap teknologi, serta siap berkontribusi di dunia profesional. (*)
