34.3 C
Jakarta

Sekjen MUI Ajak Masyarakat NTB Perkuat Semangat Ta’awun dalam Jaminan Kesehatan

Baca Juga:

MATARAM, MENARA62.COM – Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Buya Dr. Amirsyah Tambunan, mendorong dan mengajak masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk terus membangun semangat saling mendukung dan tolong-menolong (ta’awun) dalam mewujudkan masyarakat yang sehat, bangsa yang kuat, dan negara yang berdaulat.

Hal tersebut disampaikan Buya Amirsyah dalam kegiatan TASBIH (Transformasi, Awareness, dan Sinergi Bersama Insan Dakwah JKN) yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan Pusat di Nusa Tenggara Barat, Kamis (23/7/2026).

Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, ulama, tokoh agama, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi penting untuk memperkuat sistem jaminan kesehatan nasional yang berkeadilan dan sesuai dengan nilai-nilai syariah.

Buya Amirsyah menjelaskan, saat ini implementasi layanan jaminan kesehatan berbasis prinsip syariah telah berjalan secara terbatas, khususnya di Provinsi Aceh. Ke depan, ia berharap cakupan implementasi prinsip syariah dapat diperluas ke sejumlah provinsi lainnya, termasuk Nusa Tenggara Barat (NTB).

“Ke depan, perlu ada perluasan cakupan implementasi prinsip syariah, termasuk di NTB. Penggunaan akad yang sesuai dengan prinsip syariah perlu terus dikaji dan dikembangkan, termasuk dalam program jaminan kesehatan,” ujar Buya Amirsyah.

Ia menambahkan, pemerintah pusat dan pemerintah daerah bersama para pemangku kepentingan perlu terus melakukan kajian terhadap regulasi yang memungkinkan sistem jaminan kesehatan nasional dapat semakin selaras dengan prinsip dan akad syariah.

Dalam perspektif ekonomi dan keuangan syariah, Buya Amirsyah menjelaskan terdapat sejumlah akad yang menjadi dasar dalam pengelolaan jaminan kesehatan berbasis syariah.

Pertama, wakalah bi al-ujrah, yakni akad pemberian kuasa antara peserta dengan pengelola untuk mengelola risiko dan pembayaran manfaat dengan imbalan berupa ujrah atau fee.

Kedua, akad tabarru’, yakni akad hibah yang dilakukan peserta untuk tujuan saling menolong (ta’awun) dan saling melindungi (takaful) di antara sesama peserta.

“Prinsip ta’awun dan takaful ini penting untuk membangun sistem jaminan sosial yang berkeadilan. Peserta tidak hanya mendapatkan perlindungan, tetapi juga memiliki semangat untuk saling membantu dan melindungi,” jelasnya.

Buya Amirsyah juga menekankan pentingnya penguatan pelayanan kesehatan tingkat pertama atau Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). FKTP merupakan fasilitas pelayanan kesehatan tahap awal yang menjadi pintu pertama bagi peserta dalam memperoleh layanan kesehatan, seperti puskesmas, klinik pratama, dokter umum, dan dokter gigi.

Menurutnya, penguatan layanan kesehatan tingkat pertama dapat membantu masyarakat memperoleh pelayanan secara cepat dan tepat, sekaligus mendorong upaya promotif dan preventif agar masyarakat dapat menjaga kesehatan sejak dini.

“Umat yang sehat akan melahirkan bangsa yang kuat. Bangsa yang kuat akan menjadi fondasi bagi terwujudnya negara yang berdaulat,” tegasnya.

Dana Zakat untuk Perlindungan Kesehatan

Dalam kesempatan tersebut, Buya Amirsyah juga mendorong optimalisasi pemanfaatan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) untuk membantu masyarakat yang membutuhkan akses perlindungan kesehatan, sepanjang sesuai dengan ketentuan syariah dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Menurutnya, pemanfaatan dana ZIS dapat diarahkan untuk membantu kelompok masyarakat yang termasuk dalam kategori penerima zakat (mustahik), khususnya fakir miskin dan kelompok rentan yang membutuhkan dukungan dalam memperoleh layanan kesehatan.

Kelompok tersebut antara lain guru ngaji, marbot masjid, pengemudi ojek daring, serta pekerja informal berpenghasilan rendah yang menghadapi keterbatasan ekonomi.

“Dana zakat dapat dioptimalkan untuk membantu fakir miskin dan kelompok rentan, termasuk mereka yang selama ini memiliki keterbatasan dalam mengakses layanan kesehatan. Tentu pemanfaatannya harus sesuai dengan ketentuan syariah dan regulasi yang berlaku,” pungkasnya.

Buya Amirsyah berharap sinergi antara BPJS Kesehatan, pemerintah, lembaga zakat, ulama, tokoh agama, dan masyarakat dapat terus diperkuat dalam membangun ekosistem kesehatan yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.

Melalui semangat ta’awun, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mewujudkan cita-cita umat sehat, bangsa kuat, dan negara berdaulat.

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!