33.5 C
Jakarta

FT UMS Kenalkan Batik Ramah Lingkungan ke Mahasiswa Asing

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Fakultas Teknik (FT) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id memperkenalkan warisan budaya Indonesia sekaligus praktik industri kreatif berkelanjutan kepada mahasiswa internasional melalui kegiatan field study membatik di Batik MY, Bayat, Kabupaten Klaten. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Science & Engineering Summer Camp 2026 yang mengintegrasikan pembelajaran sains, teknologi, budaya, dan kewirausahaan.

 

Kegiatan yang berlangsung pada hari kedua summer camp, Kamis (23/7/2026), memberikan pengalaman langsung kepada peserta untuk mempelajari sejarah batik, teknik produksi, hingga konsep industri batik yang ramah lingkungan.

 

Pemilik Batik MY, Evi, menjelaskan berbagai jenis batik serta perbedaan proses pembuatan batik tulis dan batik cap. Menurutnya, batik tulis dikerjakan secara manual menggunakan canting sehingga membutuhkan ketelitian tinggi dan waktu pengerjaan yang lebih lama dibandingkan batik cap.

 

“Sementara itu, batik cap diproduksi menggunakan cetakan khusus yang memungkinkan proses pembuatan lebih cepat dengan motif yang lebih seragam. Peserta juga dikenalkan pada berbagai jenis kain yang digunakan dalam pembuatan batik, termasuk kain sutra sebagai salah satu material premium yang memiliki nilai jual tinggi,” ujarnya, Senin (27/7/2026).

 

Setelah memperoleh materi, para mahasiswa diajak menyaksikan secara langsung seluruh proses produksi batik. Mulai dari pembuatan pola di atas kain, proses mencanting menggunakan malam, pewarnaan, hingga pengeringan kain yang masih memanfaatkan sinar matahari alami.

 

Melalui observasi tersebut, peserta memahami bahwa membatik bukan sekadar menghasilkan karya seni, tetapi juga membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan keterampilan tinggi dalam setiap tahap produksinya.

 

Tak hanya mempelajari aspek budaya, mahasiswa internasional juga menunjukkan minat terhadap pengelolaan industri batik sebagai bagian dari ekonomi kreatif Indonesia. Mereka aktif berdiskusi mengenai proses produksi, strategi pemasaran, hingga upaya menjaga keberlanjutan usaha batik yang dikelola pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

 

Evi mengungkapkan, salah satu tantangan terbesar industri batik saat ini adalah regenerasi pengrajin.

 

“Regenerasi menjadi tantangan terbesar kami. Karena itu, kami aktif memberikan edukasi dan pelatihan kepada Generasi Z agar mereka mengenal, mencintai, sekaligus ikut melestarikan batik sebagai warisan budaya Indonesia,” jelasnya.

 

Dalam kesempatan tersebut, peserta juga diperkenalkan pada praktik produksi yang lebih ramah lingkungan. Batik MY memanfaatkan energi matahari untuk proses pengeringan kain serta menggunakan eco enzyme dalam pengolahan limbah sebagai bagian dari komitmen terhadap kelestarian lingkungan dan industri batik yang berkelanjutan.

 

Sebagai penutup kegiatan, para mahasiswa mendapat kesempatan mempraktikkan langsung teknik dasar membatik. Mereka mencoba menggunakan canting untuk mengaplikasikan malam pada kain dan merasakan secara langsung tingkat ketelitian yang diperlukan dalam proses pembuatan batik tulis.

 

Salah satu peserta asal Myanmar, David, mengaku memperoleh pengalaman yang sangat berkesan selama mengikuti kegiatan tersebut.

 

“Saya merasa senang sekali karena hari ini belajar tentang budaya batik dari awal sampai akhir. Belajar di Batik MY sangat menyenangkan dan saya berharap semakin banyak orang dapat belajar serta mengunjungi tempat ini,” ungkapnya.

 

Kegiatan field study di Batik MY menjadi salah satu agenda pembelajaran berbasis budaya dalam Science & Engineering Summer Camp 2026 FT UMS. Melalui pengalaman tersebut, mahasiswa internasional tidak hanya mengenal kekayaan budaya Indonesia, tetapi juga memahami keterkaitan antara pelestarian budaya, penguatan UMKM, dan penerapan industri yang berwawasan lingkungan.

 

Program ini sekaligus menegaskan komitmen FT UMS dalam menghadirkan pengalaman belajar bertaraf internasional yang memadukan ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, kewirausahaan, dan keberlanjutan sebagai bekal bagi mahasiswa dalam menghadapi tantangan global. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!