31 C
Jakarta

KOPI PEMALU

Baca Juga:

Oleh: Joko Intarto

JAKARTA, MENARA62.COM – Saya baru saja menerima paket dari Banyuwangi. Isinya, lagi-lagi, kopi. Kali ini dari Nidom dengan merek Java Kopi. Setelah saya seduh dan cicipi, kesan pertama saya: kopinya mantap. Enak diminum, bahkan tanpa gula, dan cocok untuk penggemar kopi Arabika yang tidak menyukai rasa asam yang kuat.

Sayangnya, kopi bagus ini terlalu pemalu. Ia tidak pandai “bercerita”. Padahal, cerita sering menjadi alasan seseorang membeli sebuah produk.

Hampir semua merek kopi menjual modernitas sebagai nilai tambah. Java Kopi justru memilih jalan yang berbeda. Perhatikan nama dan tagline-nya: *Java Kopi – Traditional Roastery*.

Artinya, produk ini diposisikan sebagai kopi yang diolah dengan cara tradisional. Sebuah konsep yang unik dan tidak banyak digunakan oleh merek lain.

Masalahnya, apa yang dimaksud dengan traditional roastery? Saya tidak menemukan penjelasannya. Pada bagian belakang kemasan justru tidak ada keterangan apa pun. Dibiarkan polos.

Tadinya, saya membayangkan akan ada cerita yang sangat menarik. Misalnya, kopi ini disangrai menggunakan wajan terakota di atas tungku kayu bakar, dikerjakan oleh roaster berpengalaman yang mewarisi teknik penyangraian secara turun-temurun.

Kalau saya menjadi konsultan mereknya, saya akan meminta produsen menjelaskan apa yang dimaksud dengan traditional roastery. Istilah itulah yang seharusnya menjadi cerita utama yang membedakan produk ini dari ratusan kopi kemasan lainnya.

Selain menjelaskan proses penyangraian, kemasan juga sebaiknya menceritakan asal-usul kopinya. Misalnya, biji kopi Arabika ini berasal dari Banjarsari, Glagah, Banyuwangi, kawasan yang kaya unsur vulkanik sehingga menghasilkan aroma khas, cita rasa yang bersih, dan tingkat keasaman yang seimbang. Cerita sederhana seperti ini akan membuat produk terasa lebih hidup.

Akan lebih menarik lagi bila ditambahkan kisah tentang petaninya. Misalnya, “Kopi ini diproduksi oleh keluarga petani di Banjarsari, Glagah, Banyuwangi, yang telah membudidayakan dan mengolah kopi secara tradisional selama bertahun-tahun.”

Bagi penikmat kopi, cerita seperti itu memiliki nilai tersendiri.

Kemasan juga sebaiknya dilengkapi dengan petunjuk penyeduhan. Misalnya, rekomendasi seduh menggunakan pour over dengan 15 gram kopi, 250 ml air bersuhu 90–92 derajat Celsius selama sekitar tiga menit. Atau menggunakan French press dengan takaran dan waktu seduh yang sesuai.

Jika ingin naik kelas menjadi produk kopi premium, kemasan juga dapat memuat informasi mengenai ketinggian kebun, varietas kopi, nama petani atau kelompok tani, tahun panen, tingkat kehalusan gilingan, rekomendasi metode seduh, hingga profil rasa (flavor notes). Semua itu akan memperkuat identitas produk. Informasi tersebut dapat ditampilkan pada bagian belakang kemasan yang saat ini masih kosong.

Selain itu, perlu juga ditampilkan kode QR yang mengarahkan konsumen ke akun Instagram, WhatsApp, marketplace, situs web, atau video proses penyangraian. Dengan begitu, kemasan tidak hanya menjadi pembungkus, tetapi juga media komunikasi dan pemasaran.

Masih ada beberapa informasi penting yang menurut saya sebaiknya dicantumkan, seperti tanggal penyangraian (roasting date), tanggal kedaluwarsa, kode produksi, dan bila perlu tanggal pengemasan. Informasi tingkat penyangraian juga bisa dibuat lebih informatif dengan skala visual, misalnya Light Roast, Medium Roast, Medium Dark, hingga Dark Roast, sehingga konsumen langsung memahami karakter kopi yang dibelinya.

Satu hal lagi yang saya perhatikan, produk ini belum mencantumkan logo Halal Indonesia. Meskipun kopi murni pada dasarnya tidak menggunakan bahan nonhalal, sertifikasi halal tetap penting dicantumkan pada produk pangan. Bukan semata-mata soal kandungan, tetapi juga sebagai bentuk kepastian dan perlindungan bagi konsumen.

Pada akhirnya, saya menyimpulkan bahwa Java Kopi memiliki kualitas rasa yang jauh lebih baik daripada cara memperkenalkan dirinya. Kopinya sudah enak. Tinggal kemasannya yang perlu dibuat lebih bercerita. Sebab, di pasar yang semakin kompetitif, konsumen sering kali membeli cerita di balik secangkir kopi. (jto)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!