BANDUNG, MENARA62.COM — Industrialisasi dinilai menjadi salah satu kunci penting untuk mendorong kemakmuran masyarakat secara berkelanjutan. Karena itu, pengusaha Muhammadiyah didorong tidak sekadar menjadi pelaku usaha, tetapi ikut mengambil peran sebagai aktor utama dalam membangun rantai industri dari hulu hingga hilir.
Pesan tersebut mengemuka dalam Kopdar Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) Jawa Barat 2026 yang digelar bersama Lembaga Pengembang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (LP-UMKM) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Barat di Hall Evermos Center, Jalan Dago, Kota Bandung, Ahad (9/8/2026).
Kegiatan bertema “Ekosistem Usaha Berkemajuan: Mewujudkan Industrialisasi Indonesia” itu diikuti 150 pengusaha dan pelaku ekonomi dari berbagai daerah di Jawa Barat.
Kopdar diarahkan bukan sekadar menjadi forum silaturahmi. Pertemuan tersebut menjadi ruang konsolidasi untuk mempertemukan potensi usaha, membuka peluang kolaborasi, dan membangun ekosistem bisnis yang saling terhubung guna mendukung agenda industrialisasi nasional.
Pengusaha Muhammadiyah Didorong Jadi Aktor Industrialisasi
Pimpinan SUMU sekaligus Wakil Ketua LP-UMKM Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ghufron Mustaqim, menegaskan industrialisasi merupakan jalur penting menuju kemakmuran.
Menurut Ghufron, tanpa industrialisasi, perekonomian akan sulit bergerak menuju tingkat kemakmuran yang lebih tinggi.
“Kemakmuran tidak akan pernah tercapai tanpa industrialisasi. Industrialisasi adalah eskalator yang harus kita naiki bersama. Tanpa industrialisasi, kita akan terus berjalan di tempat, bahkan tertinggal. SUMU hadir untuk memastikan bahwa pengusaha Muhammadiyah tidak hanya menjadi penonton, tetapi aktor utama dalam proses industrialisasi,” ujarnya.
Ghufron mengatakan konsolidasi ekosistem bisnis Muhammadiyah harus diarahkan pada pembangunan rantai nilai atau value chain yang utuh.
Menurutnya, pelaku usaha Muhammadiyah tidak bisa terus bergerak secara sendiri-sendiri dan terkonsentrasi pada sektor tradisional. Integrasi antara sektor hulu dan hilir perlu dibangun agar usaha dapat berkembang dalam skala yang lebih besar.
“Kita tidak bisa lagi membiarkan pengusaha Muhammadiyah berjuang sendiri-sendiri. Kita harus menyatukan mereka dalam satu ekosistem yang terintegrasi. Dari hulu ke hilir. Dari petani sampai ke industri pengolahan. Dari produsen kecil sampai ke pasar ekspor,” katanya.
Ghufron menilai Jawa Barat memiliki potensi ekonomi besar untuk menjadi salah satu lokomotif gerakan tersebut.
Kolaborasi Jadi Kunci Bangun Rantai Nilai
Sekretaris LP-UMKM Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. H. Jaenudin, S.Ag., M.Pd., mengatakan tantangan utama pengembangan usaha Muhammadiyah bukan terletak pada jumlah pelaku usaha.
Persoalan yang lebih mendasar, menurut dia, adalah bagaimana berbagai potensi tersebut dikonsolidasikan sehingga menjadi kekuatan ekonomi bersama.
“Kolaborasi antara pelaku usaha, lembaga keuangan, perguruan tinggi, dan pasar adalah kunci untuk menciptakan ekosistem yang produktif dan berdaya saing,” ujarnya.
Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk membangun rantai nilai bersama, meningkatkan skala usaha, memperkuat daya saing, sekaligus membuka akses yang lebih luas terhadap pasar.
Dengan ekosistem yang terintegrasi, pelaku usaha diharapkan tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga dapat naik kelas dan masuk ke rantai industri yang lebih luas.
Jawa Barat Berpeluang Jadi Pusat Pertumbuhan
Ketua PWM Jawa Barat, Prof. Dr. H. Ahmad Dahlan, M.Ag., mengapresiasi penyelenggaraan Kopdar SUMU Jawa Barat 2026. Menurutnya, forum tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat gerakan ekonomi Muhammadiyah di Jawa Barat.
Ia menilai Jawa Barat memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi Muhammadiyah.
“Kopdar seperti ini penting karena mempertemukan orang-orang yang memiliki potensi dan semangat yang sama. Dari pertemuan dan silaturahmi ini harus lahir kerja sama nyata, usaha yang semakin besar, lapangan pekerjaan yang semakin luas, dan manfaat yang semakin dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Koordinator Wilayah SUMU Jawa Barat sekaligus Ketua LP-UMKM PWM Jawa Barat, Ardi Fajar Gunawan, serta Koordinator Nasional Serikat Imers Muhammadiyah, Ilham Taufiq Mulyadi.
23 Pengusaha Tawarkan Peluang Kolaborasi
Selain talkshow dan diskusi interaktif, Kopdar SUMU Jawa Barat 2026 juga menghadirkan sesi presentasi usaha dari 23 pengusaha anggota SUMU di wilayah Jawa Barat.
Para pengusaha memperkenalkan produk dan layanan yang mereka kembangkan sekaligus menawarkan peluang kolaborasi kepada peserta.
Sesi tersebut menjadi ruang untuk memperluas jaringan bisnis, mempertemukan kebutuhan dan potensi usaha, serta membuka peluang kerja sama secara langsung antarpelaku usaha Muhammadiyah.
Melalui Kopdar SUMU Jawa Barat 2026, SUMU mendorong agar kekuatan ekonomi Muhammadiyah tidak berhenti pada besarnya jumlah pelaku usaha.
Kekuatan tersebut diharapkan berkembang menjadi ekosistem bisnis yang terintegrasi, produktif, dan berdaya saing. Konsolidasi itu ditargetkan melahirkan lebih banyak kemitraan strategis, memperluas pasar, memperkuat rantai pasok, serta membuka peluang kolaborasi bisnis.
Dengan demikian, pengusaha Muhammadiyah diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi, tetapi ikut mengambil peran strategis dalam mendorong industrialisasi Indonesia menuju kemakmuran yang berkelanjutan dan berkeadilan. (*)

