27.2 C
Jakarta

KKN MAS 98 Dorong Pertanian Wringinsongo dengan Inovasi

Baca Juga:

MALANG, MENARA62.COM – Kelompok 98 Kuliah Kerja Nyata Muhammadiyah ‘Aisyiyah (KKN MAS) 2026 mendorong inovasi pertanian di Desa Wringinsongo, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Mahasiswa memperkenalkan alat penabur pupuk dan mengolah limbah bonggol jagung menjadi briket bioenergi.

 

Kedua program tersebut diperkenalkan kepada kelompok tani Dusun Nongkosongo dan Dusun Sumberingin di Balai Desa Wringinsongo, Kamis (20/8/2026). Kegiatan berlangsung interaktif dengan melibatkan petani dalam praktik penggunaan alat penabur pupuk dan pembuatan briket.

 

Ketua Kelompok KKN MAS 98, Gibran El Ghifari, mengatakan kedua program dipilih berdasarkan potensi dan kebutuhan masyarakat yang sebagian besar berkaitan dengan sektor pertanian.

 

“Kelompok 98 memilih kedua program tersebut karena melihat potensi dan kebutuhan masyarakat Desa Wringinsongo yang berkaitan dengan sektor pertanian,” ujar Gibran.

 

Alat Penabur Pupuk Bantu Petani

 

Menurut Gibran, alat penabur pupuk dirancang untuk membantu petani melakukan pemupukan secara lebih praktis, cepat, dan merata. Inovasi tersebut sekaligus diharapkan dapat mengurangi beban tenaga kerja yang selama ini masih mengandalkan metode manual.

 

Para anggota kelompok tani mendapat kesempatan mencoba langsung merakit dan menggunakan alat tersebut. Respons positif datang dari petani yang mengikuti kegiatan.

 

Khoirul Anwar, anggota kelompok tani, menilai alat penabur pupuk berpotensi menjadi solusi sederhana untuk meningkatkan efisiensi pekerjaan petani.

 

“Saya kira cukup membantu. Petani sangat berminat dengan alat penabur pupuk. Di samping tidak terlalu capek, juga presisi,” katanya.

 

Kepala Dusun Nongkosongo, Budi Utomo, juga menilai alat tersebut dapat membantu mempercepat proses pemupukan sekaligus membuat distribusi pupuk lebih merata.

 

“Selama ini petani menggunakannya secara manual dengan cara ditabur. Dengan alat ini bisa lebih efisien waktu, juga pemupukannya lebih merata,” ujarnya.

 

Bonggol Jagung Diolah Jadi Briket

 

Selain inovasi alat pertanian, mahasiswa KKN MAS 98 memperkenalkan pemanfaatan limbah bonggol jagung sebagai bahan baku briket bioenergi.

 

Program ini dilatarbelakangi banyaknya limbah pertanian yang belum dimanfaatkan secara optimal. Melalui pengolahan sederhana, bonggol jagung yang sebelumnya menjadi limbah dapat diubah menjadi bahan bakar alternatif.

 

Para petani mengikuti praktik pembuatan briket dengan pendampingan mahasiswa. Program tersebut sekaligus memperkenalkan konsep pemanfaatan sumber daya lokal agar memiliki nilai guna dan potensi ekonomi.

 

Ketua Kelompok Tani Sejahtera 1, Supri Yanto, mengapresiasi pelatihan tersebut. Ia menilai pengetahuan yang diberikan mahasiswa dapat menjadi bekal baru bagi petani dalam mengelola limbah pertanian.

 

“Sangat terima kasih sekali untuk menjadikan ilmu buat kelompok tani, petani kami yang ada di Sejahtera 1 ini. Mudah-mudahan bermanfaat selamanya,” tuturnya.

 

Supri berharap inovasi tersebut dapat terus dikembangkan sehingga memberikan manfaat jangka panjang bagi petani, baik dalam mengurangi pekerjaan manual maupun memanfaatkan limbah pertanian.

 

Diharapkan Berlanjut Setelah KKN

 

Budi Utomo menambahkan, kehadiran mahasiswa KKN di tengah masyarakat memberikan manfaat ganda. Selain menghadirkan inovasi, mahasiswa juga memperoleh pengalaman langsung dalam memahami kebutuhan dan persoalan masyarakat desa.

 

KKN MAS Kelompok 98 berharap kedua inovasi tersebut tidak berhenti setelah program KKN selesai. Alat penabur pupuk diharapkan dapat terus digunakan kelompok tani, sementara pengolahan bonggol jagung menjadi briket dapat dikembangkan sebagai bagian dari pemanfaatan limbah pertanian.

 

Melalui pemanfaatan teknologi sederhana dan sumber daya lokal, program tersebut diharapkan menjadi langkah awal menuju pertanian yang lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan di Desa Wringinsongo. (Ani SUA)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!