TASIKMALAYA, MENARA62.COM — Universitas Muhammadiyah Bandung (UM Bandung) mendorong penguatan budaya membaca di lingkungan keluarga melalui pemberdayaan ibu-ibu PKK Kampung Cipeundeuy, Desa Linggamulya, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.
Upaya tersebut diwujudkan melalui pembangunan Pojok Literasi Islami, ruang baca yang dirancang menjadi pusat aktivitas literasi keluarga dan anak-anak berbasis nilai-nilai Islam.
Pojok Literasi Islami merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat UM Bandung bertajuk “Pemberdayaan Ibu-Ibu PKK dalam Membangun Ekosistem Literasi Anak Berbasis Nilai-Nilai Islam”.
Program yang berlangsung sejak Juni 2026 itu digagas tim pengabdian UM Bandung yang diketuai Dr Iim Ibrohim M.Ag., bersama H Muhtadin M.Ag. dan Dr Hernawati M.Pd.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari skema pemberdayaan berbasis masyarakat di bawah Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Ketua tim pengabdian, Iim Ibrohim, mengatakan program tersebut berangkat dari kondisi literasi anak usia dini dan sekolah dasar di Kampung Cipeundeuy yang masih perlu diperkuat.
Kebiasaan membaca di rumah dinilai belum terbentuk secara optimal. Di sisi lain, akses terhadap bahan bacaan yang sesuai usia anak dan memiliki nuansa keislaman masih terbatas.
“Literasi anak bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan pembentukan karakter, nilai moral, dan penanaman nilai-nilai keislaman sejak dini,” ujar Iim.
30 Ibu PKK Ikuti Pelatihan Literasi
Menurut Iim, Kampung Cipeundeuy memiliki modal sosial yang cukup kuat untuk mengembangkan gerakan literasi keluarga. Dari sekitar 40 ibu PKK yang aktif, sebanyak 30 orang terlibat dalam rangkaian pelatihan yang diberikan tim pengabdian UM Bandung.
Pelatihan tersebut membekali para ibu dengan berbagai metode untuk mendampingi anak dalam aktivitas membaca. Materi yang diberikan antara lain teknik membaca nyaring atau read aloud, storytelling Islami, serta metode bercerita yang menarik dan menyenangkan bagi anak.
Pelatihan dilakukan melalui ceramah interaktif, diskusi kelompok, dan simulasi. Metode tersebut dipilih agar peserta tidak sekadar memahami teori, tetapi dapat langsung menerapkannya dalam kegiatan literasi bersama anak di rumah.
Program kemudian diwujudkan melalui pembangunan Pojok Literasi Islami berukuran sekitar 4 x 6 meter.
Ruang tersebut dilengkapi dua rak buku, meja baca, karpet, papan tulis, mading, serta lebih dari 170 judul buku. Koleksinya mencakup buku kisah teladan, sains, hingga bacaan populer bernuansa keislaman.
Kehadiran ruang baca tersebut membuka kesempatan bagi warga untuk menjadikan aktivitas membaca sebagai kegiatan bersama. Tradisi mendongeng yang mulai tergerus oleh derasnya penggunaan gawai juga kembali diperkenalkan sebagai bagian dari literasi keluarga.
Materi cerita disesuaikan dengan kehidupan anak dan nilai-nilai Islam sehingga aktivitas membaca dan mendongeng diharapkan tidak hanya meningkatkan kemampuan literasi, tetapi juga memperkuat karakter.
Kesibukan Warga Jadi Tantangan
Dalam pelaksanaannya, program pengabdian UM Bandung menghadapi sejumlah tantangan. Kesibukan ibu-ibu PKK menjadi salah satu kendala dalam menentukan jadwal pelatihan dan pendampingan.
Aktivitas seperti posyandu, pengajian, hingga pekerjaan di sawah dan ladang membuat tim pengabdian perlu menyesuaikan kegiatan dengan rutinitas masyarakat.
Iim menilai tantangan tersebut justru menjadi bagian penting dalam proses pemberdayaan. Menurutnya, keberlanjutan program tidak dapat sepenuhnya bergantung pada pendampingan perguruan tinggi.
Warga perlu memiliki kemampuan untuk mengelola dan mengembangkan Pojok Literasi Islami secara mandiri setelah program pengabdian berakhir.
“Perubahan budaya lewat membaca akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Literasi adalah kunci,” tegas Iim.
Ke depan, tim UM Bandung akan melanjutkan pendampingan untuk memperkuat gerakan literasi Islami di Kampung Cipeundeuy. Penguatan keterampilan ibu-ibu dalam mendampingi anak membaca juga akan terus dilakukan.
Tim juga mendorong proses alih kelola Pojok Literasi Islami kepada PKK agar ruang tersebut dapat terus dimanfaatkan dan dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat.
Selain pendampingan, tim pengabdian menyiapkan artikel ilmiah populer dan dokumentasi video mengenai dampak kegiatan sebagai bagian dari diseminasi hasil program.
Program pemberdayaan ibu-ibu PKK tersebut sekaligus menjadi upaya membangun ekosistem pendidikan keluarga berbasis nilai-nilai Islam. Inisiatif ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya tujuan keempat tentang pendidikan berkualitas dan tujuan kelima mengenai kesetaraan gender melalui penguatan peran perempuan dalam pendidikan anak dan pembangunan masyarakat. (*)

