24.9 C
Jakarta

Ajarkan Sejarah Perjuangan, Rawat Jati Diri Bangsa

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM — Korp Mubaligh Muhammadiyah Surakarta resmi dikukuhkan dalam acara Pengajian dan Pengukuhan Pengurus Korp Mubaligh Muhammadiyah Surakarta di Aula Balai Muhammadiyah Surakarta, Jumat (28/8/2026).

 

Pengukuhan pengurus dilakukan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surakarta, KH Drs Anwar Sholeh, M.Hum. Momentum tersebut menjadi bagian dari penguatan peran korp mubaligh dalam menjalankan dakwah sekaligus membina umat di Kota Surakarta.

 

Usai prosesi pengukuhan, jamaah mengikuti pengajian yang diisi Ustaz KH Mas Ahmad Dimyati, BA. Dalam kajiannya, ia mengingatkan pentingnya menjaga ingatan kolektif bangsa melalui pengajaran sejarah perjuangan para pahlawan.

 

Menurut Dimyati, kemerdekaan Indonesia tidak diperoleh secara cuma-cuma. Kemerdekaan merupakan hasil perjuangan panjang dan pengorbanan para pendahulu yang, dalam perspektif keimanan, tidak terlepas dari rahmat Allah SWT.

 

Karena itu, generasi sekarang memiliki tanggung jawab untuk menghargai jasa para pahlawan dengan memahami sejarah perjuangan bangsa secara benar.

 

Jangan Biarkan Sejarah Terlupakan

 

Menjawab pertanyaan jamaah, Dimyati menyoroti kekhawatiran semakin berkurangnya pemahaman generasi muda terhadap sejarah perjuangan bangsa.

 

Ia menilai sejarah tidak semestinya dipandang hanya sebagai materi pelajaran, tetapi menjadi bagian penting dalam membangun identitas dan karakter kebangsaan.

 

Menurut dia, ketika sejarah tidak diajarkan secara memadai, generasi muda berpotensi kehilangan pemahaman mengenai beratnya perjuangan yang dilakukan para pendahulu. Kondisi tersebut juga membuka ruang terjadinya distorsi sejarah.

 

Sejarah, lanjutnya, perlu disampaikan berdasarkan fakta agar generasi penerus mampu memahami konteks perjuangan sekaligus mengambil nilai keteladanan dari para pahlawan.

 

Dimyati mencontohkan berbagai perjuangan rakyat melawan penjajahan Belanda, termasuk perlawanan di Aceh yang berlangsung panjang dan penuh pengorbanan.

 

Kisah perjuangan Cut Nyak Dhien menjadi salah satu contoh bagaimana perempuan turut memainkan peran penting dalam perjuangan melawan penjajahan. Pengorbanan tersebut menunjukkan bahwa perjuangan mempertahankan martabat bangsa melibatkan berbagai lapisan masyarakat.

 

Tugas Orang Tua, Guru, dan Mubaligh

 

Dimyati menegaskan bahwa menjaga sejarah bukan hanya tugas lembaga pendidikan. Orang tua, guru, dan para mubaligh juga memiliki peran strategis dalam menanamkan kesadaran sejarah kepada generasi muda.

 

Para mubaligh, khususnya, dapat menjadikan sejarah perjuangan bangsa sebagai bagian dari materi dakwah yang mengandung nilai keteladanan, pengorbanan, persatuan, dan rasa syukur atas kemerdekaan.

 

Kesadaran sejarah juga penting agar masyarakat tidak mudah melupakan proses panjang yang telah dilalui bangsa Indonesia.

 

Pesan tersebut sejalan dengan ungkapan yang pernah dipopulerkan Presiden Soekarno, yakni “Jas Merah” atau jangan sekali-kali melupakan sejarah.

 

Dalam konteks dakwah, mengingat sejarah dapat menjadi sarana untuk membangun kesadaran umat agar tidak hanya memahami nilai-nilai keagamaan, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

Pengajian dan pengukuhan Korp Mubaligh Muhammadiyah Surakarta tersebut pun menjadi momentum untuk memperkuat peran dakwah di tengah masyarakat. Para mubaligh diharapkan mampu menghadirkan dakwah yang mencerahkan, membangun karakter, sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial dan kebangsaan.

 

Dengan demikian, dakwah tidak berhenti pada penyampaian pesan keagamaan, tetapi turut mendorong umat untuk mengambil pelajaran dari sejarah dan mengisinya dengan kontribusi positif bagi bangsa. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!