24.9 C
Jakarta

FKG UMS Perkuat Standar Penilaian Kompetensi Mahasiswa

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM — Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id terus memperkuat kualitas dan keseragaman penilaian kompetensi mahasiswa melalui workshop persamaan persepsi penilaian untuk jenjang sarjana.

 

Dalam kegiatan yang berlangsung Jumat (28/8/2026), para dosen FKG UMS mendalami sejumlah materi penilaian keterampilan mahasiswa, mulai dari penggunaan program PSPP, Stainless Steel Crown (SSC), kuretase dan gingivektomi, analisis model studi, hingga penanganan kegawatdaruratan dalam bedah mulut.

 

Workshop tersebut menjadi bagian dari upaya menyamakan pemahaman dosen dalam memberikan penilaian kepada mahasiswa sehingga proses evaluasi keterampilan klinis dapat dilakukan secara lebih terukur dan konsisten.

 

Pada sesi pertama, drg. Dendy Murdiyanto, MDSc., membahas penggunaan program PSPP untuk analisis data penelitian kedokteran gigi.

 

Materi kemudian dilanjutkan drg. Septriyani Kaswindiarti, MDSc., Sp.KGA., yang mengulas Stainless Steel Crown (SSC).

 

Menurut Septriyani, SSC memiliki sejumlah indikasi, antara lain pada kasus karies yang luas dan gigi pascaendodontik, baik setelah perawatan pulpotomi maupun pulpektomi. SSC juga dapat digunakan sebagai retainer pada penggunaan crown and loop.

 

“Kemudian ada gigi yang mengalami anomali atau defek seperti amelogenesis imperfekta dan dentinogenesis imperfekta. Selain itu terdapat juga pada gigi molar permanen muda yang belum erupsi dan sifatnya sebagai restorasi sementara,” jelas Septriyani.

 

Dosen Diminta Tekankan Tahapan Praktik

 

Dalam konteks penilaian mahasiswa, Septriyani menekankan pentingnya tahapan persiapan alat dan bahan sebelum tindakan.

 

Ia meminta dosen mengingatkan mahasiswa agar saat praktik tetap mengikuti tonjolan gigi dan tidak menyentuh gigi molar lainnya. Pemilihan dan seleksi crown juga dapat diawali dengan metode sederhana yang mendorong mahasiswa mengenali ukuran dan jenis crown sebelum praktik.

 

Materi berikutnya membahas kuretase dan gingivektomi yang disampaikan drg. Aprilia Yuanita Anwaristi, MDSc., Sp.Perio.

 

Aprilia menjelaskan, proses penilaian sebaiknya diawali dengan pengantar teori mengenai tindakan kuretase. Jika tersedia, dosen dapat menggunakan video sebagai media pembelajaran, kemudian memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk bertanya dan memperoleh umpan balik.

 

“Baru setelah itu memberikan izin kepada operator atau kepada mahasiswa untuk mencoba melakukan kuretase di fantom,” kata Aprilia.

 

Setelah mahasiswa melakukan praktik, dosen bertanggung jawab mengecek hasil tindakan pada fantom. Penilaian tidak hanya mencakup hasil akhir, tetapi juga prosedur yang dilakukan mahasiswa.

 

Hasil tersebut kemudian dicatat dalam buku nilai mahasiswa berdasarkan poin-poin yang telah ditetapkan dalam prosedur kuretase.

 

Tekankan Ketelitian Analisis Model Studi

 

Sementara itu, drg. Ikmal Hafizi, MDSc., Sp.Ort., membahas materi analisis model studi.

 

Ia menyoroti persoalan yang kerap terjadi ketika mahasiswa melakukan pengukuran, yakni lupa menentukan titik sebagai dasar pengukuran.

 

Menurut Ikmal, keberadaan titik menjadi bagian penting dalam memastikan proses pengukuran model studi dilakukan secara tepat.

 

“Untuk pengukuran model studi, kita bisa melakukan pengukuran berkali-kali dengan catatan titiknya ada dulu,” ujarnya.

 

Dalam workshop tersebut, Ikmal juga memperagakan analisis Pont, Howes, dan Korkhaus. Ia menegaskan bahwa analisis model studi tersebut bukan merupakan ukuran mutlak, melainkan alat bantu dalam proses pemeriksaan dan analisis.

 

“Analisis model studi ini bukan mutlak, tetapi sebagai alat bantu,” katanya.

 

Bedah Mulut hingga Kegawatdaruratan

 

Materi workshop kemudian dilanjutkan drg. Amelia Elizabeth Pranoto, Sp.BMM., yang membahas tata laksana kegawatdaruratan, anestesi odontektomi, insisi, dan sejumlah materi terkait bedah mulut.

 

Amelia juga memberikan demonstrasi penggunaan Barton bandage pada pasien dengan gangguan temporomandibular joint (TMJ).

 

Rangkaian materi tersebut memperlihatkan cakupan kompetensi yang perlu dikuasai mahasiswa kedokteran gigi, baik dari aspek pengetahuan, keterampilan prosedural, ketelitian, maupun kemampuan menghadapi kondisi kegawatdaruratan.

 

Melalui workshop persamaan persepsi penilaian ini, FKG UMS berupaya memastikan dosen memiliki pemahaman yang selaras dalam menilai keterampilan mahasiswa. Keseragaman tersebut diharapkan dapat mendukung proses pembelajaran klinis yang objektif sekaligus menghasilkan lulusan kedokteran gigi yang kompeten. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!