WAKATOBI, MENARA62.COM — Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tapak Pengabdi Khatulistiwa (Tabik) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kembali hadir di tengah masyarakat Suku Bajo di Desa Mola Nelayan Bakti, Pulau Wangi-wangi, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara.
Kegiatan yang berlangsung sejak akhir Juli hingga awal September 2026 itu menjadi bagian dari implementasi konsep Kampus Berdampak, dengan menempatkan mahasiswa sebagai penggerak pemberdayaan masyarakat berbasis kebutuhan lokal.
KKN Tabik UMY di perkampungan Suku Bajo tersebut bukan kali pertama dilakukan. Program serupa telah berjalan selama empat tahun terakhir secara berkelanjutan. Setiap generasi mahasiswa membawa program yang dikembangkan berdasarkan pengalaman sebelumnya serta kebutuhan masyarakat setempat.
Tim KKN Tabik UMY yang beranggotakan mahasiswa dari berbagai program studi mengembangkan sejumlah program di bidang lingkungan, sosial budaya, pendidikan, hingga media. Pemberdayaan masyarakat pesisir menjadi fokus utama, terutama warga yang tinggal di kawasan permukiman di atas laut.
Ketua Tim KKN Tabik UMY, Muhammad Fathur Hamzah, mengatakan program kerja disusun dengan pendekatan partisipatif sehingga mahasiswa tidak sekadar menjalankan kegiatan, tetapi melibatkan masyarakat dalam prosesnya.
“Di bidang lingkungan, kami fokus pada pengelolaan sampah dan edukasi kebersihan pesisir,” kata Fathur, Selasa (25/8/2026).
Menurut dia, mahasiswa bersama warga melakukan gotong royong membersihkan lorong-lorong desa dan menyediakan tempat sampah di sejumlah titik strategis.
Tim juga mengembangkan teknologi tepat guna untuk membantu mengurangi persoalan sampah plastik yang menjadi salah satu tantangan utama di kawasan permukiman Suku Bajo.
Salah satunya melalui pemanfaatan rocket stove, yang dikembangkan sebagai bagian dari upaya pengelolaan sampah dan edukasi lingkungan kepada masyarakat.
Empat Tahun Mendampingi Suku Bajo
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Tabik UMY, Fajar Junaedi, mengatakan keberlanjutan program menjadi salah satu kekuatan utama pengabdian mahasiswa UMY di Desa Mola Nelayan Bakti.
Ia menyebut KKN di perkampungan Suku Bajo tersebut telah berlangsung selama empat tahun. Keberlanjutan itu membuat program yang dijalankan mahasiswa dari satu periode ke periode berikutnya semakin matang.
“KKN di perkampungan Suku Bajo di Desa Mola Nelayan Bakti ini sudah berjalan empat tahun. Setiap generasi mahasiswa membawa program yang semakin matang dan berdampak nyata bagi masyarakat,” ujar Fajar.
Menurut Fajar, keberadaan mahasiswa secara berkelanjutan menjadi bentuk nyata komitmen UMY dan Muhammadiyah untuk menghadirkan manfaat pendidikan tinggi di wilayah pesisir.
“Kehadiran terus-menerus ini menunjukkan komitmen UMY dan Muhammadiyah untuk hadir di wilayah pesisir terpencil, mendampingi warga Bajo dalam isu lingkungan, pendidikan, budaya, dan pemberdayaan,” katanya.
Muhammadiyah Perkuat Akses Pendidikan
Pengabdian masyarakat UMY di Wakatobi juga berjalan seiring dengan keberadaan lembaga pendidikan Muhammadiyah di wilayah tersebut.
Di pusat Kota Wanci terdapat Institut Teknologi dan Bisnis Muhammadiyah (ITBM) Wakatobi. Sementara itu, SMA Muhammadiyah 1 Wakatobi berdiri di tengah perkampungan Suku Bajo, bahkan berada di kawasan permukiman di atas laut.
Keberadaan kedua lembaga pendidikan tersebut menjadi bagian dari upaya Muhammadiyah memperluas akses pendidikan bagi masyarakat Wakatobi, khususnya anak-anak dan generasi muda di kawasan pesisir.
Kolaborasi antara lembaga pendidikan Muhammadiyah dan program KKN UMY sekaligus memperkuat ekosistem pengabdian yang berkelanjutan di daerah tersebut.
Mendapat Apresiasi Masyarakat
Kehadiran KKN Tabik UMY mendapat sambutan positif dari pemerintah dan masyarakat Desa Mola Nelayan Bakti. Mahasiswa dinilai memberikan kontribusi dalam meningkatkan kapasitas warga sekaligus mendorong kepedulian terhadap lingkungan pesisir.
Program tersebut juga memperkuat hubungan antara perguruan tinggi Muhammadiyah dengan komunitas masyarakat pesisir di wilayah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal).
Bagi UMY, pengabdian di perkampungan Suku Bajo menjadi contoh bahwa keberadaan kampus tidak berhenti pada aktivitas akademik di lingkungan perguruan tinggi. Mahasiswa didorong untuk membawa pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki agar dapat menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat.
Keberlanjutan KKN Tabik selama empat tahun menunjukkan bahwa program pengabdian tidak hanya berorientasi pada kegiatan jangka pendek, tetapi diarahkan untuk membangun pendampingan dan pemberdayaan masyarakat secara berkesinambungan. (*)
