SOLO, MENARA62.COM – Upaya pencegahan stunting terus dilakukan melalui penguatan kapasitas keluarga, termasuk keterampilan ibu dalam menyiapkan makanan pendamping air susu ibu (MPASI). Tim PPK Ormawa UKM PRISMA Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id bersama Lembaga Ibu Sigap menggelar Kelas Ibu Anti Stunting (KIAS) sesi kedua di Desa Blimbing, Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.
Kegiatan yang berlangsung di Balai Desa Blimbing, Rabu (19/8/2026), tersebut berfokus pada Demo Asupan MPASI (DASI). Kali ini, ikan lele menjadi bahan utama MPASI yang diolah dengan memanfaatkan hasil program B-SMART (Blimbing-Sistem Mandiri Akuaponik dan Ramuan Tradisional).
Kegiatan diikuti para ibu yang memiliki bayi, balita, maupun anak yang berisiko mengalami stunting. Sesi kedua tersebut merupakan kelanjutan dari pertemuan sebelumnya yang membahas pengetahuan dasar mengenai stunting.
Jika pada sesi pertama peserta dibekali pemahaman, kali ini mereka diajak mempraktikkan langsung cara mengolah MPASI sesuai kebutuhan dan tahapan usia anak.
Ketua Pelaksana KIAS, Rengga Prayoga, mengatakan program tersebut dirancang secara berkelanjutan agar pengetahuan mengenai gizi tidak berhenti sebagai teori, tetapi dapat diterapkan keluarga dalam kehidupan sehari-hari.
“Kami ingin kegiatan KIAS tidak berhenti pada penyampaian materi. Para ibu juga perlu memiliki keterampilan yang bisa langsung diterapkan di rumah, terutama dalam menyiapkan makanan yang sesuai dengan kebutuhan gizi anak,” kata Rengga, Sabtu (5/9/2026).
Tekankan Peran Keluarga Cegah Stunting
Ketua PLKB, Triyani, menekankan pentingnya keterlibatan keluarga dalam upaya pencegahan stunting. Menurutnya, keberhasilan program di tingkat desa tidak terlepas dari peran keluarga dalam memastikan kebutuhan anak terpenuhi.
“Pencegahan stunting tidak hanya menjadi tanggung jawab satu pihak. Keluarga memiliki peran penting dalam memastikan kebutuhan gizi anak terpenuhi, terutama ketika anak mulai mendapatkan MPASI,” ujar Triyani.
Sementara itu, Bidan Desa Blimbing, Nurhayanti, menyoroti pentingnya pemenuhan gizi pada masa MPASI. Fase tersebut menjadi salah satu periode penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.
Materi mengenai MPASI disampaikan mahasiswi Ilmu Gizi UMS, Nasywahanum Illahi Rifki. Ia menjelaskan empat prinsip utama pemberian MPASI sesuai anjuran Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, yakni ketepatan waktu, kecukupan gizi, keamanan penyiapan, serta cara pemberian yang sesuai dengan tahapan usia anak.
Nasywahanum juga menjelaskan pentingnya protein hewani dalam variasi bahan makanan MPASI. Prinsip tersebut kemudian dipraktikkan melalui pemanfaatan ikan lele sebagai bahan utama menu.
“MPASI perlu diberikan dengan memperhatikan waktu, kecukupan gizi, keamanan dalam penyiapan, dan cara pemberian sesuai usia anak. Protein hewani juga penting untuk menjadi bagian dari variasi bahan makanan yang diberikan kepada anak,” jelas Nasywahanum.
Lele Lokal Diolah Jadi MPASI
Ikan lele yang digunakan dalam kegiatan tersebut berasal dari budi daya akuaponik program B-SMART. Pemilihan lele didasarkan pada ketersediaannya yang relatif mudah serta harganya yang terjangkau bagi masyarakat.
Dalam sesi praktik, Alya Indah Amalia, mahasiswi Ilmu Gizi UMS, mendemonstrasikan pengolahan menu berbahan lele. Tekstur makanan disesuaikan dengan tiga kelompok usia anak agar dapat dikonsumsi sesuai kemampuan makan masing-masing.
Tidak berhenti pada demonstrasi, para ibu kemudian diberi kesempatan mempraktikkan sendiri pengolahan MPASI berbahan lele. Tim Lembaga Ibu Sigap mendampingi peserta mulai dari pemilihan bahan, pembersihan lele, hingga memastikan ikan terbebas dari duri halus.
Peserta juga mendapatkan pendampingan dalam proses pengolahan dan penyajian agar tekstur makanan sesuai dengan kelompok usia anak.
Suasana praktik berlangsung interaktif. Sejumlah peserta aktif bertanya mengenai teknik mengolah lele agar teksturnya sesuai untuk anak sekaligus tetap memiliki cita rasa yang disukai.
Kegiatan kemudian ditutup dengan post-test untuk mengukur pemahaman peserta terhadap materi yang telah diberikan. Hasil evaluasi tersebut akan menjadi bahan tim pelaksana untuk menentukan tindak lanjut program KIAS.
Melalui Demo Asupan MPASI, Kelas Ibu Anti Stunting diharapkan tidak hanya meningkatkan pengetahuan ibu mengenai gizi anak, tetapi juga membangun keterampilan praktis yang dapat diterapkan di rumah.
Pemanfaatan ikan lele hasil produksi lokal dari program B-SMART juga menjadi bagian dari upaya mengoptimalkan potensi pangan masyarakat untuk mendukung pemenuhan gizi anak.
Program tersebut diharapkan dapat memperkuat peran keluarga dalam pencegahan stunting sekaligus mendorong pemanfaatan bahan pangan lokal sebagai sumber makanan bergizi bagi anak. (*)
