33 C
Jakarta

UMS Dorong Orang Tua Tak Batasi Masa Depan Anak Disabilitas

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Masa depan anak berkebutuhan khusus tidak cukup hanya dipersiapkan melalui pendidikan di sekolah. Keluarga juga perlu memiliki perencanaan jangka panjang agar anak dapat tumbuh mandiri, mengembangkan potensi, dan memiliki kehidupan sosial yang bermakna.

 

Perspektif tersebut menjadi perhatian Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Parenting Sahabat Pawestri”. Kegiatan yang digelar di SLB Pawestri Karanganyar itu mengangkat tema Family Futures Planning.

 

Pendekatan tersebut mengajak orang tua tidak hanya berfokus pada kebutuhan anak saat ini, tetapi mulai memikirkan kehidupan yang ingin dipersiapkan bagi anak pada masa mendatang.

 

Narasumber kegiatan, MB. Sudinadji, S.Psi., M.Psi., mengatakan Family Futures Planning membantu keluarga menggeser cara pandang dalam mendampingi anak berkebutuhan khusus.

 

“Pendekatan tersebut menjadi penting bagi keluarga anak berkebutuhan khusus karena masa depan anak tidak hanya ditentukan oleh layanan pendidikan di sekolah, tetapi juga oleh kesiapan keluarga dalam mengenali potensi, membangun kemandirian, memperluas dukungan sosial, serta menyusun perencanaan kehidupan anak secara bertahap,” kata dia, Rabu (9/9/2026).

 

Menurut dia, perencanaan masa depan anak idealnya tidak baru dimulai ketika anak mendekati kelulusan sekolah. Proses tersebut dapat dibangun sejak dini dengan mempertimbangkan potensi, kebutuhan, aspirasi, dukungan lingkungan, dan peluang yang dimiliki anak.

 

Dengan pendekatan itu, orang tua didorong untuk mulai mengajukan pertanyaan yang lebih jauh: kehidupan seperti apa yang ingin dipersiapkan untuk anak, serta dukungan apa yang perlu dibangun sejak sekarang.

 

Kisah Penyandang Tuli Jadi Inspirasi Orang Tua

 

Kegiatan Parenting Sahabat Pawestri tidak hanya menghadirkan materi teoritis. Fakultas Psikologi UMS juga menghadirkan Alya Sausan Rahmadina, S.Ds., sebagai role model penyandang disabilitas.

 

Alya merupakan penyandang tuli yang berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) dalam waktu 3,5 tahun. Ia juga aktif sebagai fotografer, pantomimist, mahasiswa berprestasi, serta terlibat dalam berbagai kegiatan inklusif di tingkat lokal maupun nasional.

 

Kisah Alya memberikan gambaran langsung kepada para orang tua bahwa disabilitas tidak otomatis menjadi penghalang bagi seseorang untuk melanjutkan pendidikan, mengembangkan kompetensi, berkarya, dan mencapai kemandirian.

 

Pengalaman tersebut sekaligus menjadi pesan agar keluarga tidak membatasi masa depan anak hanya berdasarkan kondisi disabilitas yang dimiliki.

 

Sebaliknya, orang tua perlu mengenali kekuatan, minat, dan potensi anak serta memberikan ruang agar mereka dapat berkembang dan menentukan arah kehidupannya.

 

Kegiatan yang berlangsung pada 10 Agustus 2026 itu juga menjadi ruang untuk memperkuat sinergi antara keluarga, sekolah, perguruan tinggi, mahasiswa, dan role model penyandang disabilitas dalam membangun ekosistem pendidikan yang lebih inklusif.

 

UMS Dorong Pendampingan Berkelanjutan

 

Dekan Fakultas Psikologi UMS, Dr. Lisnawati Ruhaena, S.Psi., M.Si., Psikolog, menegaskan pentingnya kegiatan pengabdian yang berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat.

 

“Pengabdian kepada masyarakat perlu terus dikembangkan agar mampu menjawab kebutuhan nyata di masyarakat. Karena itu, program seperti Family Futures Planning menjadi penting karena memberikan perspektif baru bagi keluarga dalam mempersiapkan masa depan anak,” ujar Lisnawati.

 

Dalam konteks pendidikan khusus, penguatan keluarga menjadi bagian penting untuk menciptakan lingkungan perkembangan yang mendukung anak. Karena itu, kegiatan parenting tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan orang tua, tetapi juga diarahkan untuk membuka perspektif baru mengenai masa depan anak.

 

Program tersebut turut melibatkan tiga mahasiswa Fakultas Psikologi UMS sebagai tim volunteer. Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian dari pembelajaran praktis untuk memahami dinamika keluarga dan komunitas pendidikan khusus.

 

Kepala SLB Pawestri, Fuji Harjanti, S.Pd., menyambut positif kegiatan tersebut. Menurut dia, program pengabdian perguruan tinggi akan semakin bermakna ketika tema yang diberikan sesuai dengan kebutuhan aktual orang tua dan perkembangan anak.

 

“Kami sangat senang dengan adanya kegiatan seperti ini karena materinya sesuai dengan kebutuhan orang tua saat ini. Orang tua tidak hanya membutuhkan pendampingan untuk menghadapi kondisi anak sekarang, tetapi juga perlu dibantu untuk memikirkan dan mempersiapkan masa depan anak,” tuturnya.

 

Fuji menilai Family Futures Planning memberikan perspektif berbeda bagi orang tua karena tidak hanya membahas kebutuhan anak selama bersekolah, tetapi juga kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan.

 

Bagi SLB Pawestri, kolaborasi dengan perguruan tinggi melalui program yang kontekstual dan aplikatif menjadi bagian penting dalam memperkuat pendampingan bagi keluarga dan peserta didik.

 

Sekolah berharap kolaborasi serupa dapat terus dikembangkan secara berkelanjutan.

 

Pada akhirnya, Parenting Sahabat Pawestri tidak sekadar menjadi forum penyuluhan bagi orang tua. Lebih jauh, program tersebut menjadi ruang untuk menumbuhkan harapan, memperluas perspektif, dan membangun keberanian keluarga dalam membayangkan masa depan anak berkebutuhan khusus.

 

Sebab, masa depan anak tidak semestinya ditentukan oleh keterbatasannya, melainkan oleh kesempatan, dukungan, dan lingkungan yang diberikan untuk berkembang. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!